
Esok hari saudara-saudaraku kembali ke Kota masing-masing. Secara serempak mereka berpamitan, tentu saja Simbah menangis. Beliau akan kembali kesepian. Apalagi sekarang Disa pun ikut pergi. Bagaimana nanti jika aku juga menikah. Siapa yang akan menemani Simbah. Malam sebelum Disa pergi, dia memberiku sebuah surat.
“Ini dari seseorang yang sangat mencintaimu. Dan dia akan setia menunggumu. Maaf jika selama ini kamu udah salah paham tentang kedekatan kami. Untuk memberikan surat ini aja dia nggak berani apalagi mengungkapkan perasaannya padamu. Itu sebabnya dia selalu memendam cintanya. Semoga ini adalah waktu yang tepat untuk kalian bersatu.” Disa meninggalkan aku sendirian di kamar.
Aku merinding mendengar ucapan Disa. Selama ini ada seseorang yang mencintai aku dan setia menungguku. Siapa dia? Kenapa aku tidak pernah sadar. Aku buka surat itu. Dua lembar kertas hasil sobekan dari buku. Sangat tidak romantis. Tulisannya pun tidak rapi. Haduh… kenapa orang seperti ini mencintai aku. Mengungkapkan cinta aja nggak berani. Nulis surat juga kertasnya nggak romantis. Nggak ada nama pengirimnya juga. Siapa sebenarnya dia. Aku baca perlahan-lahan, mencoba menghayati kalimat demi kalimat.
Mungkin kamu kaget saat mendapat surat ini. Maaf ya, hanya melalui tulisan ini aku bisa mengungkapkan perasaan. Perasaan yg udah aku pendam sekian tahun lamanya. Kamu ingat, waktu kecil kita suka bermain rumah-rumahan bahkan kita selalu menjadi pasangan sebagai suami istri. Saat itu aku berjanji bahwa kita akan menjadi pasangan untuk selamanya. Padahal saat itu kita sendiri belum tau cinta itu apa, tapi sudah mengikat janji akan hidup bersama selamanya. Hingga akhirnya kamu bersama Jodi. Tetangga baru yang tinggal disamping rumahku. Jujur saat itu aku sangat cemburu karna kamu selalu bermain dengannya. Kamu melupakan aku saat mendapatkan teman baru. Apalagi saat dia bilang kamu adalah pacarnya dan dia melarang aku untuk bermain denganmu lagi. Tahukah kamu apa yang aku lakukan? Aku menangis seharian di dalam kamar. Betapa berartinya kamu untukku. Tapi kamu sudah terhasut kata-kata Jodi, sehingga kamu memusuhiku tanpa alasan.
Waktu pun berlalu hingga aku punya pacar dan kamu pindah ke Jawa. Padahal saat kamu berpamitan, aku ingin meminta alamatmu agar bisa bertemu saat kita dewasa. Lagi-lagi Jodi menghalangiku. Dia udah menyita waktuku untuk berbicara denganmu. Tahun demi tahun berlalu. Perasaan itu masih ada untukmu, tapi kita udah putus komunikasi. Aku berpikir kamu udah melupakanku dan tidak akan pernah kembali.
Tapi… apakah kamu tahu bagaimana perasaanku saat kita bertemu di Stasiun. Meskipun saat itu kita tidak saling mengenal, ada perasaan yang mendorongku untuk menemuimu. Perasaan yang membuatku ingin mengenalmu lebih dekat. Dan kisah mencuri mangga adalah obat yang membuatku selalu mengingatmu. Ingatkah kamu apa yang terjadi saat kita mencuri mangga? Aku berkata, “Luka ini akan segera sembuh, karna aku sudah menciumnya.” Saat itu tangismu berubah menjadi senyuman yang sangat manis. Meski sejujurnya aku merasa sangat jijik mencium luka. Hehehehe…. Janji itu pun kembali terniang dalam ingatanku. Tapi aku tidak ada keberanian untuk mendekatimu lagi. Jadi aku pun mendekati Disa dan menceritakan semuanya pada dia. Harapanku kembali musnah saat mendengar kisah-kisahmu dari Disa. Saat itu aku hanya bisa diam melihatmu terluka dan dimiliki orang lain. Dalam hatiku setidaknya aku masih punya harapan untuk terus bersamamu meski hanya sebagai teman. Aku akan tetap menjadi teman setiamu meski kamu sudah dimiliki orang lain.
Tapi kemudian Disa memaksaku untuk mengungkapkan semuanya. Disa memaksaku untuk memenuhi janji masa kecil kita. Dan hanya melalui tulisan inilah aku berani mengatakan AKU CINTA KAMU. Dan aku berharap janji itu segera terwujud.
Salam Rinduku Selalu Untukmu.
__ADS_1
Aku tidak percaya dia masih ingat janji itu, padahal aku saja tidak pernah menganggap serius. Aku cium surat itu dan mendekapnya erat. Kemudian berbaring menatap langit-langit kamar, berharap bisa bertemunya di alam mimpi. Perasaan bahagia menemani tidurku.
Pagi hari keluarga besar Sanu dan Disa siap berangkat ke Jakarta. Diikuti keluarga besar Om Gunawan. Satu per satu mobil pun mulai keluar halaman. Tapi tiba-tiba Dayat keluar dari mobil.
“Ada apa?” Tanya Ayah.
“Ada yang ketinggalan, Pak. Permisi.” Jawab Dayat sambil berlari masuk ke dalam. Tidak lama kemudian Dayat keluar dan segera masuk mobil.
“Dayat!!!” Aku berlari mendekat saat dia membuka pintu mobil.
Dayat berbalik, menungguku.
Aku berdiri tepat di hadapannya. “Aku tunggu janjimu.” Senyumku melebar.
Dayat pun tersenyum, mengangguk, lalu masuk mobil.
- Cepatlah lulus agar aku bisa segera melamarmu. :)
__ADS_1
Tamat
\~*\~*\~*\~
Sekian sepenggal cerita perdana dari Author, semoga sobat pembaca menyukai karya ini. Kritik dan saran author terima dengan senang hati. Semoga bisa jadi penyemangat untuk terus lebih berkembang. Amiin...
Untuk teman-teman yang sudah membaca karya ini. Matur Thankyu bingit ya...
__ADS_1
Dan jangan lupa, like, comment dan votenya tetap ditunggu gaeesss.... hehehehe...
Bye...