Ku Tunggu Janjimu

Ku Tunggu Janjimu
Sms Kesasar 2


__ADS_3

Setelah beberapa minggu smsan, Sanu menelpon. Namun tidak pernah aku angkat. Sepertinya dia mencoba lebih dekat. Sebenarnya aku mau menerima, ingin mendengar suaranya. Tapi waktunya tidak pernah tepat. Dia selalu telpon disaat aku sedang sibuk atau berada di rumah Simbah. Aku tidak pernah bebas mainan handphone jika sedang bersama beliau. Setiap kali ada sms atau telpon selalu saja bertanya macam-macam. Dari siapa? Ada perlu apa? Orang mana? Mau ngapain? Dan banyak lagi pertanyaan tidak jelas yang diajukan padaku. Terkadang lebih lama menjawab pertanyaannya dari pada menjawab telpon. Karena itulah aku selalu sembunyi-sembunyi jika menerima telpon atau sms.


Diwaktu senggang aku beranikan diri untuk menelpon. Tanpa menunggu lama, Sanu langsung menjawab.


“Ada apa. Tumben telpon.”


“Nggak boleh ya telpon. Kalau nggak boleh matiin saja.” Kataku, ketus.


“Nggak-nggak. Boleh kok. Kamu lagi apa?”


“Lagi santai saja. Kalau kamu lagi apa?”


“Lagi mau makan siang nih. Dari kemaren aku telpon kok nggak diangkat.”


“Ya kamu nggak pernah tepat waktunya. Jadi aku nggak pernah sempat angkat.”


“Sibuk ya. Maaf ganggu.”


Diam sejenak, “Emang mau ngapain dari kemaren telpon.”


“Cuma mau dengar suaramu saja.”


“Ngapain telpon cuma dengarin suara. Kayak orang pacaran aja. Telpon cuma mau dengarin suara.” Sedikit tersenyum, senang.


“Ya penasaran saja suaramu seperti apa. Selama ini kan cuma smsan. Itupun yang balas orang lain.”


“Sekarang sudah dengar kan suaraku. Terus mau apa.”


“Nggak mau apa-apa.”


“Sudah hilang belum penasarannya?”


“Belum.”


“Kenapa belum?”


“Kan belum ketemu orangnya.”


“Ngapain ketemu.”


“Penasaran saja melihat kamu seperti apa.”


“Nggak usah. Aku nggak mau ketemu kamu. Kalau kamu niat mau berteman denganku. Cukup lewat HP saja.” Kembali ketus, agak jengkel.

__ADS_1


“Kenapa?”


“Ntar kamu menyesal ketemu aku.”


“Kenapa aku harus menyesal.”


“Aku tidak sebaik yang kamu pikirkan.”


“Emang kamu tahu apa yang aku pikirkan.”


“Nggak tahu.”


“Terus kenapa bilang seperti itu. Aku cuma pengen kenal kamu lebih dekat saja kok. Apa itu salah.”


“Nggak ada yang salah jika niatmu baik.”


“Terus kenapa kamu nggak mau ketemu?”


“Ya pokoknya aku nggak mau ketemu. Baru kenal kemaren saja sudah minta macam-macam. Ya telpon lah , ya ketemu lah, besok mau minta apa lagi?”


“Kamu marah ya? Nggak harus sekarang juga kan ketemunya. Bisa kapan saja kalau kamu sudah siap.”


“Sudah ah aku mau tidur siang dulu. Ngantuk.” Aku langsung tutup telpon. Perasaanku jadi kesal. Semakin takut dengan prasangka burukku. Jangan-jangan seperti yang aku pikirkan. Dia bohong dan kenalan denganku hanya untuk mencari pacar. Setelah merasa tidak cocok, maka akan pergi begitu saja.


~*~


Sehari kemudian Sanu balas sms. Dengan alasan yang sama, tidak punya pulsa. Aku tidak peduli dengan itu. Yang aku tunggu adalah jawabannya. Aku coba memintanya lagi dan dia memberikan. Tanpa menunggu lama langsung buka facebook dan melihat profilnya. Aku sengaja tidak meminta pertemanan agar dia tidak bisa mengenaliku.


Dari melihat statusnya aku mulai percaya bahwa Sanu orang baik. Aku juga merasa dia tidak berbohong. Baru melihat profilnya saja aku sudah mulai nyaman untuk berteman dengannya.


“Ehm… ehm… profilnya siapa tuh???” Disa mengintip dari belakang.


“Sanu. Gimana menurutmu. Kira-kira dia orang baik bukan.” Aku menoleh, meminta pendapat Disa.


“Coba sini aku lihat.” Disa merebut laptopku.


“Kayaknya orang baik. Dari statusnya saja kelihatan kok. Nih lihat. Kata-katanya nggak ada yang lebay kan. Hampir semua statusnya memotivasi.” Disa memperlihatkan status yang sudah lama. Tidak lama kemudian Disa kembali melihat status terbarunya dan membaca dengan keras. “Seandainya kamu tahu hidupmu tidak akan lama lagi. Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan menghabiskannya dengan foya-foya atau meningkatkan ibadahmu. Sesungguhnya hanya Allah yang tahu kapan ajalmu tiba. Janganlah sampai kamu menyesal di akhirat nanti.” Disa tersenyum. “Keren juga statusnya. Sepertinya dia seorang ikhwan. Lihat saja foto profilnya.” Menunjuk dengan lirikan mata.


“Ikhwan itu apa?” tanyaku heran. Aku tidak pernah mengerti bahasa Disa dan kawan-kawannya itu.


“Ikhwan itu panggilan untuk laki-laki sholeh. Laki-laki yang alim.”


“Kalo akhwat?” Tiba-tiba saja aku teringat kata yang diucapkan Mas Setiawan di telpon dulu.

__ADS_1


“Akhwat itu panggilan untuk wanita sholehah. Wanita yang kalem kayak aku? Hehehehe….” Puji Disa pada dirinya sendiri.


“Huh! Dasar! Kok kamu bisa tahu kalau dia laki-laki sholeh hanya dengan melihat fotonya saja.”


“Nggak cuma dari fotonya. Dari statusnya juga kelihatan. Nih kamu lihat. Foto-fotonya terlihat alim semua. Ini sepertinya saat dia kajian. Ini sepertinya dengan teman-teman dakwahnya.” Disa semangat menunjuk beberapa foto Sanu. Kemudian melihat album foto yang lain. “Hah!!! Ternyata dia anggota ODOJ. Keren!!! Aku juga pengen. Gimana ya caranya bergabung.” Matanya terbelalak melihat foto Sanu dengan teman-temannya membawa spanduk bertuliskan ‘ODOJ’.


“ODOJ itu apa?” Aku semakin bingung.


“ODOJ itu artinya one day one juz. Satu hari satu juz. Keren kan?” Kembaranku yang belum lama taubat ini langsung bersemangat menjelaskan komunitas itu.


“Apanya yang keren. Kamu juga kan bisa baca Al-Qur’an sehari satu juz. Itu juga kalau kamu sanggup?” Aku berbaring di ranjang.


“Ih kamu itu nggak gaul. ODOJ itu komunitasnya Ustadz Yusuf Mansur.”


“Owh… jelas saja aku nggak gaul. Itu kan pergaulannya orang-orang alim seperti kamu. Bukan pergaulanku. Maaf ya kita itu beda level.” Menatap langit-langit kamar sepertinya lebih menyenangkan daripada mendengarkan ocehan gadis berkerudung tosca itu.


Disa masih terus melihat-lihat profil Sanu. Aku rasa dia mulai tertarik dengan yang namanya Sanu ini.


“Kenapa kamu nggak ajak dia berteman?” Disa menoleh kebelakang.


“Malas. Kamu saja sana.”


“Oke. Aku add ya.”


Aku melirik laptop sejenak. Tiba-tiba terbangun, kaget. “Loh Dis. Jangan pakai punyaku?”


“Terus pakai punya siapa?”


“Punyamu lah!!!” Kembali berbaring.


“Ya ketahuanlah! Nama akun kita kan beda.”


“Halah!!! Dia nggak akan tahu. Hampir semua nama di facebook kan nggak ada yang asli.”


“Baiklah… tapi kalau ada apa-apa kamu yang tanggung jawab ya.”


“Rebes boss!!!”


Disa membuka akun miliknya. Tanpa menunggu lama aku sudah tertidur pulas diiringi lagu favorit dia ‘Nantikanku Di Batas Waktu’ dari Edcoustic.


\~*\~*\~


Yuk... yuk... yuk... kawan-kawan semua mari mari koment. Jangan lupa like dan votenya juga ya...

__ADS_1


Salam kangen untuk pembaca semua.... :) :) :)


__ADS_2