Ku Tunggu Janjimu

Ku Tunggu Janjimu
Ini Rasanya 1


__ADS_3

Keputusanku untuk pulang sudah bulat. Tanpa sepengetahuan Disa aku membeli tiket. Aku juga merapikan barang-barang secara bertahap agar dia tidak curiga. Emosiku saat ini memang sudah mereda, tapi masih enggan berbicara dengannya. Selesai makan malam aku kembali ke kamar. Ini waktu yang tepat untuk merapikan pakaian yang akan dibawa. Disa belum pulang. Gadis itu pergi ke rumah Sanu sejak tadi siang. Tas yang siap dibawa aku sembunyikan di kolong tempat tidur. kembaranku tidak akan bisa melihat karna tertutup renda-renda.


Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar dengan keras. Aku tidak bisa bekutik. Dia melangkah cepat menghampiriku dengan wajah marah. Aku pura-pura mengabaikannya, ia berdiri dihadapanku.


“Dif, kenapa kamu nggak bilang kalau mau pulang?” Tanya Disa, kesal.


“Kenapa aku harus bilang?” Aku menatapnya sejenak. Kembali merapikan pakaian.


“Kan kita bisa pulang bareng? Kamu tega ya ninggalin aku sendirian.” Matanya berkaca-kaca.


“Kamu juga tega menyakiti hati saudaramu.” Merapikan berkas-berkas skripsi di meja.


“Dif, aku minta maaf karna sudah menyakiti hatimu. Tapi aku tidak bermaksud merebut Sanu. Aku sendiri tidak tahu kalau dia juga suka sama aku. Sejak melihatnya di facebook, aku mulai suka padanya. Tapi aku merahasiakannya karna saat itu dia sedang mendekati kamu. Dan…”


“Udah nggak usah diteruskan. Aku udah tahu semuanya dari diary kamu.” Aku memotong penjelasannya.


“Diary???” Mengernyitkan keningnya.


“Iya. Aku udah baca semuanya. Aku nggak sengaja menemukannya di koper kamu waktu pinjam jaket. Awalnya aku tidak peduli dan tetap mempertahankan Sanu. Aku berusaha membuat Sanu suka padaku. Tapi ketika aku melihat yang terjadi waktu itu, hatiku hancur. Aku tidak percaya kenapa dia lebih memilih kamu dari pada aku yang selalu bersamanya. Aku yang berjuang, tapi kenapa kamu yang mendapatkan cintanya!” Aku menoleh, menatap Disa. Air mata sudah membanjiri pipi.


Disa menggenggam kedua tanganku. “Dif, aku akan bilang pada Sanu, agar dia memilihmu. Aku rela. Aku ikhlas kalian menikah asal kamu bahagia.”


“Iya. Aku yang bahagia. Bukan Sanu. Untuk apa aku menikah dengannya, jika cintanya untuk kamu. Yang aku inginkan cintanya. Bukan raganya.”

__ADS_1


“Dif, maafkan aku. Aku memang salah karna tidak terus terang padamu. Sekarang apa yang bisa aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku?” Disa menangis.


“Aku juga nggak tahu Dis. Yang aku tahu sekarang, aku ingin sendiri dan jauh dari kalian.”


“Terus bagaimana dengan Om, Tante, Ayah, Ibu dan yang lain. Mereka pasti bertanya kenapa kamu pulang sendiri?”


“Bilang aja pada mereka kalau penelitianmu belum selesai, sedangkan aku harus segera membuat laporan ke Dosen. Sepintar-pintarnya kamu berbohong aja. kamu kan sudah pintar membohongiku. Jadi pasti bisa membohongi mereka.”


“Difa, aku tidak pernah berniat sedikitpun membohongi kamu. Aku hanya tidak berani mengatakan perasaanku.”


“Sama aja, udahlah. Aku mau merapikan barang-barangku.” Aku lepaskan genggaman Disa. Menghapus air mata dan kembali merapikan pakaian.


Disa duduk di ujung kasur, menatapku. Sedih.


Dari mana dia tahu kalau aku mau pulang? Pasti Dayat. Ya, Dayat. Karna hanya dia yang tahu rencanaku. Dan dia juga yang mengantar beli tiket, batinku.


~*~


Seminggu setelah aku pulang, Disa juga pulang. Saat itu aku sudah bisa menerima Disa dengan lebih baik. Aku sudah mau berbicara padanya meski untuk hal yang penting saja. Sejak pulang dari Jakarta, Disa sangat bersemangat mengerjakan skripsinya. Hampir setiap malam dia begadang didepan laptop. Siang harinya dia lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan.


Waktu telpon, Mas Vino bercerita bahwa keluarga Sanu akan datang bulan depan untuk melamar Disa. Dia juga berencana akan melamarku di hari yang sama. Aku terkejut mendengar kabar itu. Mas Vino tidak boleh melamarku. Aku tidak ingin menikah dengannya. Mungkin inilah waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya. Dengan ragu-ragu aku pun minta putus dengan alasan aku masih mencintai orang lain dan hanya menjadikan dia sebagai tempat pelampiasan. Laki-laki diseberang telpon itu sangat marah dan kata-katanya mulai kasar. Aku berusaha memaklumi perasaannya. Wajar jika dia sangat marah. Selama ini dia sudah tulus mencintaiku, tapi aku menyakiti hatinya. Mas Vino memaksa aku untuk mengatakan siapa orang yang selama ini aku cintai. Tapi aku tidak berani mengatakannya. Aku tidak mungkin bilang kalau orang itu Sanu. Aku tidak ingin dia membenci Sanu, seperti halnya aku membenci Disa. Aku sudah siap dengan resiko yang harus dihadapi. Aku rela jika memang laki-laki itu sangat membenciku, dari pada pernikahan itu terjadi tanpa cinta.


~*~

__ADS_1


Hari lamaran pun tiba. Keluarga besar Sanu datang. Mas Vino dan kedua Orang tuanya juga datang. Ada rasa yang berbeda ketika menjamu mereka. Tatapan kecewa terlihat di mata Mas Vino dan Orangtuanya. Bahkan laki-laki berkacamata itu enggan melihatku. Aku sadar telah menyakiti mereka dan ini resiko yang harus aku tanggung.


Saat semua orang sedang makan, aku beranikan diri untuk mendekati Mas Vino yang sedang duduk dibawah pohon mangga. Dia tahu aku datang, tapi tidak mau menatapku. Jantungku berdebar kencang. Tidak tahu mau berkata apa. Aku duduk disampingnya, dengan cepat dia beranjak pergi. Aku sempat menyapanya, tapi tidak dijawab. Aku dekati lagi dia saat mengambil minum. Dia pun menghindar. Aku coba dekati kedua Orangtuanya. Mereka juga melakukan hal yang sama, mengacuhkanku. Sekarang aku bisa merasakan apa yang dirasakan Disa saat aku marah padanya. Ini memang sangat menyakitkan. Aku disakiti, dan aku juga menyakiti orang lain.


Kebahagiaan terpancar di wajah Sanu dan Disa.  Kebencian terpancar di wajah Mas Vino. Dayat benar. Mungkin, jika aku jujur sejak awal laki-laki yang pernah jadi kekasihku itu tidak akan semarah ini. Mungkin lukanya tidak akan terlalu dalam. Kesalahan yang sudah dilakukan Disa, kenapa harus aku ulang lagi? Seharusnya aku mendapat pelajaran dari masalahku dengan Disa. Kejujuran di awal itu lebih baik, dari pada terlalu lama disembunyikan akan menjadi luka yang semakin dalam. Ya Allah… ini pelajaran yang sangat berharga untukku dan tidak akan aku ulangi lagi, batinku.


Aku bertekad meminta maaf secara langsung pada Mas Vino dan Orangtuanya. Aku kembali mendekati mereka saat berkumpul.


 


 


 


 


 


 


 


Hey hey hey.... monggo monggo monggo.... yang belum like, comment dan vote dipersilahkan gilirannya untuk klik tombol tersebut. Matur Thankyu...

__ADS_1


 


 


__ADS_2