
Ntah kenapa tiba-tiba saja aku rindu Mas Anto, tapi gengsi untuk mengatakan. Satu-satunya cara adalah melihat akun facebook. Tiba-tiba hati ini terasa panas membara melihat foto mesra pria itu dengan seorang wanita. Apalagi status mereka menikah. Sepertinya hatiku mulai rontok. Aku tidak mengenal siapa perempuan itu. Dia putih, cantik dan berambut panjang. Mereka memang terlihat cocok. Beberapa tetes air mata jatuh ke pipi. Belum pernah sekalipun aku berfoto mesra dengannya. Waktu berpacaran, dia tidak mau foto bersama. Semakin sedih mengingat masalalu yang kelam bersamanya.
“Kalau melihat fotonya terus… kamu akan semakin sulit melupakan. Katanya sudah ikhlas…” Disa tiba-tiba saja ada di belakangku. Ntah sejak kapan dia mengintip.
“Aku memang sudah ikhlas kok. Lagian sekarang kan sudah ada Sanu. Aku yakin dia jodohku. Setelah Sanu sadar, aku pasti bisa melupakan Mas Anto.” Jawabku dengan semangat. Aku bertekad melupakan laki-laki jahat itu selamanya.
Kembaranku sedikit terkejut, “Maksudmu…! Kamu suka sama Sanu?”
“Iya.” Menoleh kearah Disa. Tersenyum lebar. “Perasaan itu tiba-tiba saja muncul. Bagiku, dia adalah laki-laki yang kuat. Laki-laki yang melawan sakitnya sendiri tanpa mengeluh pada orang lain. Aku bangga pada Sanu dengan semangatnya itu. Dan sekarang aku akan menghapus masa laluku dengan Mas Anto. Kamu jadi saksinya ya? Nih lihat. Aku blokir pertemanan kami. Selesai… sekarang aku tidak akan menangis lagi untuk Mas Anto.” Aku melepas napas panjang. Terasa ada sedikit beban di hati.
Disa tersenyum kecil menatapku. “Syukur deh, kalau kamu mau berusaha melupakan Mas Anto. Dia memang bukan laki-laki yang pantas untuk kamu perjuangkan.” Gadis itu mendekat, memelukku erat. “Jangan pernah bersedih lagi ya. Aku pasti sedih jika kamu sedih dan aku pasti bahagia melihatmu bahagia.”
“Aku pun begitu. Kita kan kembar. Pasti mempunyai perasaan yang sama. Kamu sedih aku pun sedih, kamu senang aku pun senang. Itulah saudara.” Aku tersenyum, mataku terpejam memeluknya erat. Kami berpelukan cukup lama. Menikmati indahnya kasih sayang. “Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Dayat.”
Disa terkejut. Tiba-tiba saja melepas pelukan kami. “Maksudnya!”
“Ah, nggak usah pura-pura terkejut gitu deh. Aku tahu kok kalau selama ini kalian lagi PDKT.” Aku tersenyum, meliriknya.
“Nggak kok, aku dan Dayat hanya berteman.” Disa terlihat malu-malu. “Eehhmmm… Dif, bagaimana kalau sampai kita pulang nanti Sanu belum juga sadar.” Mengalihkan pembicaraan.
“Oh iya, ya. lusa kan kita pulang.” Suasana hening sejenak. Sama-sama berpikir. Aku baru ingat kalau kami harus pulang. Tapi aku masih ingin menemani Sanu hingga sembuh. “Bagaimana kalau kita pulang hanya untuk mengajukan proposal skripsi dan bayar kuliah. Setelah semua urusan kampus selesai, kita balik lagi kesini.” Usulku.
“Ide bagus, aku setuju.” Disa mengacungkan kedua jempolnya. Dia sangat bersemangat untuk kembali lagi.
__ADS_1
Pasti dia tidak mau meninggalkan Dayat, batinku. Tersenyum memandang kembaranku yang sedang melambungkan angan-angan ntah kemana.
~*~
Esok hari aku memesan tiket kereta. Disa sibuk mencari oleh-oleh bersama Dayat. Mereka semakin dekat, tapi tidak mau mengakui hubungan itu. Saudara kembarku memang tertutup kalau masalah cinta, setelah sakit hati baru mau cerita. Anak kembar memang tidak semuanya sehati. Orang lain pun sangat mudah membedakan kami. Dari fisik saja sudah terlihat. Disa sangat feminim dan kalem, sedangkan aku cenderung tomboy. Penampilan kami pun berbeda. Dia berhijab, sedangkan aku tidak. Aku lebih suka memakai topi dan jaket. Itu gayaku sejak kecil. Disa, dia berhijab sejak kuliah. Ntah kapan tepatnya dia mendapat hidayah. Yang aku tahu tiba-tiba saja dia ikut LDK (Lembaga Dakwah Kampus). Katanya sih, dia naksir salah satu cowok yang ada di organisasi itu. Terus untuk mencari perhatian si cowok , kembaranku menjadi anggota baru disana. Sayangnya, beberapa bulan kemudian Disa tahu bahwa cowok itu sudah menikah. Tapi kejadian itu tidak membuatnya berhenti dari LDK. Ternyata dia sudah nyaman disana. Tinggal aku yang ntah kapan mendapatkan hidayah.
Aku senang melihat Disa dengan Dayat. Aku percaya sopir taksi itu tidak akan pernah menyakitinya. Aku bisa katakan, Dayat itu terlalu baik pada perempuan. Kadang hal itu yang membuat cewek-cewek disekitarnya jadi salah paham. Maksudnya Dayat mau menolong, tapi dikira cari perhatian. Kata Mas Fikri, Dayat itu tipe cowok yang setia. Laki-laki itu baru sekali pacaran, sejak kelas enam SD. Pacarnya itu teman sekelasku. Saat itu kami masih kelas lima SD. Ya, Dayat lebih tua dariku 1 tahun. Keren kan, Masih SD sudah pacaran. Tapi mereka putus saat SMA. Penyebabnya adalah cewek itu selingkuh. Hhhmmm… aku tidak habis pikir, tega sekali dia menghianati Dayat yang sangat setia. Tapi sekarang Dayat akan mendapatkan pengganti yang lebih baik, yaitu Disa.
~*~
Hari-hari bersama Sanu terasa semakin sedikit. Besok pagi aku dan Disa harus pulang. Seandainya Padhe tidak menelpon berkali-kali, mungkin aku memilih bolos kuliah untuk tetap bersama pujaan hati. Sebenarnya bisa saja uang kuliah aku titipkan pada teman. Atau bayar lewat rekening. Tapi yang namanya Orangtua tidak mau menyepelekan hal seperti itu. Kekhawatiran mereka terlalu tinggi. Sekarang sudah modern, semua serba teknologi. Semua kebutuhan hidup sudah dipermudah. Para Orangtua saja yang mempersulitnya. Ya… sudahlah, dari pada menjadi anak durhaka lebih baik turuti saja pemikiran mereka yang kadang tak masuk logika.
Malam hari sebelum pulang, aku dan Disa menyempatkan diri untuk menjenguk Sanu. Kami berjanji akan kembali beberapa minggu lagi. Mama Sanu menangis, memeluk kedua gadis kembar dihadapannya. Beliau pun berjanji akan selalu mengabarkan perkembangan anaknya. Perpisahan ini terasa berat baginya, namun beliau percaya kami akan kembali. Kecupan sayang darinya mengiringi kepergian kami malam itu. Mereka tidak mungkin mengantar ke Stasiun, karna harus menjaga sang buah hati. Mas Fikri dan Mas Vino lah yang mengantar kami hingga kereta berangkat.
“Kamu itu apa-apan sih. Ganggu tidurku saja. Aku itu lagi mimpi indah tau nggak! Malah dirusak kamu.” Aku menampel tangan Disa, kesal.
“Ini tuh lebih indah dari pada mimpi kamu!” Balas Disa, kesal juga..
“Nggak ada yang lebih indah, selain mimpi berpacaran dengan Sanu. Tau!!” Aku memoncongkan bibir.
“Huuuu… lebay… ini juga tentang Sanu.”
“Hah! Ada apa dengan Sanu.”
__ADS_1
“Sanu sudah sadar.”
“Kapan? Kok kamu nggak kasih tahu aku.”
“La ini udah aku kasih tahu. Kamunya aja yang tidur terus. Lebih indah mimpi apa lebih indah kenyataan coba???”
“Kenyataan lah, apa lagi dengan Sanu.” Aku senyum-senyum sendiri. Mengingat mimpi tadi. “Tapi sayang, kita pulang sekarang. Seandainya aja mundur sehari... Mungkin kita bisa bertemu Sanu dulu. Hufffttt…” Bibirku cemberut.
“Sudah takdirnya seperti ini, mau gimana lagi. Kita juga kan nggak tahu kalau Sanu akan sadar. Yang penting sekarang kita harus senang karna itu artinya dia akan sembuh. Besok kalau ke Jakarta lagi sudah bisa ngobrol dengan Sanu deh.” Disa tersenyum menatapku. Aku mengangguk mantap. Menatap jendela, sudah tidak sabar ingin segera kembali menemui Sanu.
\~*\~*\~
Author kehilangan ide cerita nih, ada yang mau kasih sumbangan ide nggak ya...
Kalau nggak ada yang mau nggak apa-apa deh. Kasih sumbangan like, comment dan vote aja ya?
Matur Thankyu... :) :) :)
__ADS_1