
Sudah lama keluargaku tidak ke Jakarta. Sebenarnya rumah lama kami sudah dijual dan pemilik barunya adalah Om Gunawan, saudara jauh dari keluarga Ayah. Jika dilihat turun temurun aku juga bingung beliau saudara dari keluarga yang mana. Karna keluarga besar Ayah sangat banyak. Bayangkan saja jika dalam satu keluarga mempunyai lebih dari sepuluh anak. Lalu dari satu anak itu menikah dan mempunyai anak lagi yang banyak juga. Ayah saja anak ke sembilan dari sebelas bersaudara. Pusing jika harus memikirkan itu. Intinya beliau adalah sepupu Ayah, entah dari saudara yang mana. Meskipun saudara jauh, tapi kami cukup dekat. Om Gunawan sering berkunjung ke rumah saat lebaran. Orangtua Om Gunawan tinggal di Kota yang berdekatan dengan tempat tinggal kami. Setiap kali mudik beliau selalu menyempatkan diri untuk mampir menjenguk Simbah.
Sore nanti aku dan Disa akan pergi ke Jakarta. Selama dua minggu kami akan tinggal bersama keluarga Om Gunawan. Kami akan menghabiskan liburan semester ini bersama teman-teman lama. Dalam buku diary sudah tercatat kegiatan apa saja yang akan kami lakukan disana. Sesekali aku senyum-senyum sendiri, membayangkan perubahan apa saja yang terjadi pada teman-teman. Disa berteriak memanggil. Dia marah-marah karna aku belum mengemasi oleh-oleh yang akan dibawa nanti. Sejak kemaren gadis yang super ribet itu sudah sibuk mempersiapkan barang yang akan dibawa. Padahal hanya dua minggu kami pergi, tapi yang dibawa seperti orang pindahan.
Simbah menangis saat kami berpamitan. Sudah hal yang biasa melihatnya menangis saat ada saudara berpamitan. Tapi kali ini aku juga merasakannya. Seperti ada beban berat meninggalkan wanita tua itu, meskipun hanya dua minggu. Selama ini aku sudah terbiasa merawat beliau. Rasa kesal dan senang sering aku alami. Aku berusaha menghibur Simbah, menjanjikan bahwa Pakdhe Widodo akan datang untuk menemaninya selama aku pergi. Namun usahaku menghibur Simbah tidak berhasil, beliau tetap menangis sampai kami pergi. Selesai berpamitan, kami langsung ke warung menemui Ibu. Di warung Ibu sudah mempersiapkan bekal untuk makan di kereta. Sebenarnya Ibu ingin mengantar ke Stasiun, tapi saat kami akan berangkat banyak pembeli yang datang. Terpaksa beliau mengurungkan niat.
Disa resah menunggu kereta yang akan datang lima belas menit lagi. Berkali-kali dia melihat jam tangan, menggerutu tidak sabar. Ayah yang setia menemani kami sedang asyik mengobrol dengan anak buahnya di belakangku. Aku berpangku tangan memandangi sekeliling Stasiun. Suasana ini mengingatkanku saat bertemu Sanu enam bulan lalu. Tidak terasa sudah lama aku tidak smsan dengannya. Aku meraih HP dari saku celana kanan, mengetik sms, menanyakan kabar laki-laki pecinta dunia anak itu. Berkali-kali smsku gagal terkirim. Aku cek pulsa, masih ada enam belas ribu tiga ratus dua puluh rupiah. Seharusnya masih bisa mengirim sms. Aku telpon, tidak aktif. Aku coba lagi ke nomornya yang lain, tidak aktif juga. Kini mulai gelisah. Suara pengumuman kereta akan datang terdengar jelas. Ayah segera mengambil dua buah kardus di samping kananku. Aku dan Disa bergegas memakai tas, bersiap menunggu kereta datang. Kepala kereta sudah terlihat dari arah timur. Kereta mulai mendekat dan perlahan-lahan berhenti. Penumpang berdesak-desakan ingin segera naik ke dalam. Sambil memegang karcis, Disa mencari tempat duduk. Ayah sudah mendahului kami menemukan nomor kursi, beliau berteriak memanggil. Aku dan Disa berjalan cepat mendekati Pria yang sedang meletakkan kardus diatas kursi itu. Selesai menaruh barang-barang, Ayah berpamitan turun dari kereta. Tidak lupa kami mencium tangan beliau, mengucapkan perpisahan. Sebelum turun laki-laki paruh baya itu menasehati kami agar hati-hati selama di perjalanan lalu pergi. Beliau berdiri di depan jendela, menunggu kereta berangkat. Kami melambaikan tangan kepadanya hingga kereta berjalan menjauhi Pria itu.
Disa menghela napas panjang, “Akhirnya bisa duduk tenang juga.” Wajahnya terlihat senang. Aku menoleh ke jendela, menikmati pemandangan yang silih berganti. Memikirkan sesuatu yang tidak aku mengerti. Tatapanku tajam keluar jendela, namun kosong. Disa melirik, aneh. Berkali-kali menyenggol, “Hey, kamu kenapa? Tumben nggak semangat.” Aku diam. Aku sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba merasa gelisah. “Kamu sakit?” Disa bertanya lagi, masih diam. Aku merasa sehat, tapi entah kenapa tubuh ini seperti lemas. “Owh… aku tahu. Pasti kamu tidak bersemangat karna belum update status.”
Aku menoleh, menatap Disa. “Update status?” tiba-tiba aku teringat sesuatu. aku meraih ponsel dari saku celana. Membuka akun facebook. Iya, benar. Aku memang belum membuat status. Tapi bukan ini yang membuatku tidak bersemangat. Lalu apa? Aku kembali menatap Disa. Dia sedang sibuk membaca status di group. “Dis, coba buka facebook-nya Sanu deh.” Pintaku.
“Memangnya kamu masih belum berteman sama Sanu.” Disa masih sibuk menulis komentar.
“Belum.” Kembali memandang jendela. Sebenarnya aku bisa melihat facebook Sanu tanpa harus berteman, tapi hanya fotonya saja. Jika ingin melihat statusnya kami harus berteman terlebih dahulu.
“Dif… dif… difa!!!” Terdengar suara memanggil. “Difa. Bangun???” Seperti ada yang mengoyang-goyangkan kakiku. Perlahan-lahan mataku terbuka. Sebuah tangan menyentuh pahaku. Aku menoleh, “Ada apa?”
“Mana karcisnya mau diperiksa.” Tanya Disa. Disampingnya sudah ada dua petugas yang sedang memeriksa karcis penumpang lain.
“Bukannya di kamu ya? Kan tadi kamu yang cari kursi.” Masih setengah tidak sadar.
“Hishh…. Tadi kan aku titip ke kamu waktu mau ke toilet.”
Aku merogoh saku celana dan mendapati karcisnya. Setelah petugas selesai memeriksa, aku kembali tidur. Belum ada satu menit aku memejamkan mata, Disa kembali membangunkanku. “Dif, pertemanannya sudah diblokir.” Aku sedikit terkejut mendengarnya. Tapi bingung, pertemanan apa yang Disa maksud. Aku mencondongkan tubuh ke Disa, sedikit menempel. Disa memperlihatkan facebook-nya. Aku menatap Disa, tidak percaya. Dengan cepat aku mengambil ponselnya. Mencoba kembali mencari facebook Sanu. Berkali-kali aku mencoba selalu gagal. Akunnya tidak ada. Apa maksudnya? Apa Sanu tidak mau mengenalku lagi? Aku kembalikan telepon genggam itu. Sekarang aku hanya bisa termenung bersandarkan jendela. Suatu hal yang sangat tidak aku mengerti. Kenapa tiba-tiba Sanu menghilang.
“Memang kapan terakhir kali kalian smsan atau telpon?” Disa bertanya hal yang sedang aku pikirkan.
“Kayaknya lebaran. Itu juga smsnya nggak aku balas. Telpon juga nggak aku angkat. Apa mungkin dia marah?”
“Masa marah segitunya? Cuma gara-gara sms nggak dibalas saja facebook sampai diblokir. Jahat banget!”
Benar yang dikatakan Disa. Tidak masuk akal jika dia marah sampai seperti itu. “Apa mungkin HP-nya hilang?” Aku memandang Disa.
__ADS_1
“Apa hubungannya HP hilang dengan memblokir pertemanan.”
“Iya juga sih! Lagian yang berteman dengan Sanu kan kamu, bukan aku?” Semakin bingung dengan situasi ini.
Memang tidak ada hubungannya antara HP hilang dengan pertemanan kami. Masalah ini membuat aku semakin pusing dan gelisah. Disa terlihat nyenyak tidur bersandar di bahuku. Secara tidak langsung, sebenarnya Disa terlibat dalam kisahku dengan Sanu. Apa mungkin Sanu marah karena yang berteman di facebook-nya bukan aku, melainkan Disa. Karna terlalu marah jadi dia tidak mau berhubungan lagi dengan kami. Tapi kan Sanu tidak tahu kalau aku punya saudara kembar. Masalah ini membawaku jauh ke alam mimpi.
~*~
Aku terbangun, merasakan getaran di saku celana. Om Gunawan menelpon. Beliau menyuruh kami mengabarkan jika hampir sampai. Aku dan Disa celingukan bingung. Kami sendiri tidak tahu sudah sampai dimana. Penumpang lain terlihat tidur pulas. Disa khawatir jika stasiun tujuan kami sudah terlewat. Dia meremas-remas tanganku, cemas. Kereta melaju pelan. Petugas berjalan mendekat, memberi pengumuman bahwa sebentar lagi akan sampai di Stasiun Pasar Senen. Aku bergegas menurunkan barang. Disa mengabarkan kami sudah sampai di Stasiun. Kereta melaju semakin pelan. Cahaya lampu Stasiun sudah terlihat dari jendela. Kami melangkah menuju pintu, bersiap turun.
Sudah lama sekali kami tidak menginjakkan kaki di Stasiun ini. Suasananya tidak berubah. Aku tersenyum memandang sekeliling. Terasa seperti pulang kampung, meskipun rumahnya sudah bukan milik orangtua lagi. Disa mengajak keluar Stasiun. Beberapa orang menawarkan jasa membawa barang-barang. Dengan cepat kami tinggalkan mereka. Kami berhenti di samping pintu keluar, menunggu Om Gunawan menjemput. Aku merogoh saku celana, mencari sesuatu. Terkejut! Barang yang dicari tidak ada. Aku mencari di saku lain tidak ada juga, dalam tas pun tidak ditemukan. Aku minta Disa menelpon nomorku. Aktif, tapi tidak ada yang menjawab. Apa mungkin HPku dicuri? Aku ingat-ingat lagi kapan terakhir kali memakainya. Aku sangat yakin sudah menyimpan dengan baik selesai menggunakan. Disa masih mencoba menelpon nomorku, tapi tetap saja tidak diangkat.
“Dif, kamu yakin sudah menyimpannya di saku? Tadi setelah Om telpon kan aku kasih ke kamu, tapi kamu bilang taruh di kursi dulu karena kamu sedang menurunkan kardus. Nah itu udah diambil belum HPnya?” Tanya Disa mengingat-ingat kejadian di kereta.
“Oh iya, aku lupa mengambilnya? Tadi kita buru-buru karena kereta sudah berhenti kan?” Aku menepuk jidat. “Duh, kok bisa lupa sih! Oon banget nih otak.”
Aku berlari mendekati petugas pintu masuk, menanyakan kereta yang kunaiki tadi sudah berangkat atau belum. Laki-laki berseragam itu pun memberikan jawaban mengecewakan, kereta sudah berangkat beberapa menit lalu. Aku kembali mendekati Disa, meremas-remas topi sebagai pelampiasan kekesalan.
“Kalian sudah lama menunggu ya?” Tanya Om Gunawan, memutus obrolan kami. Beliau tiba-tiba saja muncul dari belakang sopir taksi itu.
Sejenak pemuda itu menoleh, tersenyum menyapa. “Loh… Pak Gun?” Sopir taksi itu menoleh kearah kami. “Mereka saudara Bapak? Tahu begitu saya antar saja ke rumah biar nggak kelamaan menunggu.”
“Kamu lupa sama mereka?” Tanya Om Gunawan pada sopir taksi itu.
“Lupa…?” Tanya laki-laki berseragam biru muda itu heran. Dia menoleh kearah kami. Memperhatikan kami dengan sangat cermat. Mencoba mengingat sesuatu. Dia tersenyum setelah menatapku cukup lama. “Lama sekali ya kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu, Dif?”
“Baik… kamu kok kenal aku?” Aku tatap dia lekat-lekat. Dia hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaanku. Aku ingat-ingat lagi nama yang ada di tanda pengenalnya. Sopir taksi itu menoleh, menatap Om Gunawan lalu berpamitan pergi. “Dayat!!!” Aku berteriak memanggilnya. Dia menoleh, tersenyum dan membuka pintu kemudi taksi. Aku pun ikut tersenyum. Tidak lama dia masuk, Om Gunawan mengajak kami ke parkiran. Di perjalanan aku dan Disa ketiduran dan dibangunkan saat sampai di rumah.
“Assalamu’alaikum, Tante?” Sapa aku dan Disa serempak ketika sampai di muka pintu yang terbuka.
“Wa’alaikumussalam.” Jawab Tante lilis yang sedang duduk menunggu kami di ruang tamu.
Aku dan Disa mencium tangan Tante Lilis bergantian, dilanjutkan obrolan pelepas rindu. Selesai berbincang-bincang, Tante mengantar kami ke ruang yang akan menjadi kamar tidur kami selama disini. Tak lama, pemilik rumah itu pamit untuk istirahat.
__ADS_1
Ponsel Disa berdering, dia mengambilnya dari saku ransel yang baru saja diletakkan di atas kasur.
“Dari nomor kamu, Dif!” Kata kembaranku, setelah melihat nama di layar ponselnya.
“Cepetan angkat!” Jawabku, bangkit dari kursi, ingin ikut mendengarnya.
“Assalamu’alaikum.” Disa memulai sapaan.
“Wa’alaikumussalam. Maaf saya menemukan HP ini di kereta. Tadi saya buru-buru pulang, jadi baru bisa memberitahu sekarang. Boleh saya tau alamat pemilik HP ini?”
“Alhamdulillah, HPnya ditemukan orang baik.” Ucap gadis berkerudung orange itu lirih. “Iya, Mas! Kebetulan orangnya bersama saya. Nanti saya kirim lewat sms ya.” Senyumnya merekah.
“Baik, tapi maaf saya nggak bisa buru-buru mengantar karna masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Nanti kalau sudah sempat saya kabarin lagi.”
“Baik, Mas. Terimaksih sebelumnya.”
“Ok. Sama-sama. Saya tutup ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.” Disa menghembuskan nafas, lega. “Huft… katanya nanti dianternya kalau dia udah nggak sibuk.”
“Yah, lama donk?”
“Nggak apa-apalah. Yang penting HP kamu ditemukan orang baik dan bisa kembali. Semoga aja bisa cepat. Yang sabar ya. Lebih baik sekarang kita istirahat. Aku dah capek banget.” Dia mulai membenahi kasur yang berisi barang-barang kami.
~*~
Ok!! Fix stop dulu cerita selanjutnya. Author mau nunggu 1000 pendukung dulu buat menguatkan ikatan tali silaturahim sesama pembaca dan penulis. Kata orang kan banyak teman banyak rejeki. Jadi, yuk kita saling berbagi rejeki lewat like, comment dan vote saudara saudari sekalian. Semoga keberkahan menyelimutimu. Ammiin...
Matur Thankyu... :) :) :)
__ADS_1