
Judul skripsi yang aku dan Disa ajukan sudah mendapat persetujuan Dosen. Kami tinggal melakukan penelitian dan mencari narasumber untuk wawancara. Kini waktu kami lebih banyak di perpustakaan. Berbagai contoh skripsi kami pelajari.
Dari balik rak buku, aku melihat seorang laki-laki dan perempuan duduk bersebelahan. Mereka terlihat sangat akrab. Padahal sebelumnya, mereka biasa-biasa saja. Teringat saat di depan ruang Dosen, mereka bergandengan tangan. Apakah mereka sudah jadian? Batinku mulai penasaran dengan kedekatan itu.
Dengan sengaja aku mendekati laki-laki itu saat wanita yang bersamanya tadi sudah pergi.
“Hay, Mas.” Aku meletakkan buku skipsi di atas meja dan duduk dihadapannya.
“Hay, Dif. Lagi cari contoh skripsi ya?” Dia melirik buku yang aku bawa.
“Iya, nih Mas. Masih bingung mau mulai dari mana? Mas sendiri lagi ngerjain skripsi?” Aku juga melirik laptopnya.
“Iya.” Jawabnya tersenyum. Lalu melanjutkan mengetik.
Hening, kami berdua sibuk dengan buku masing-masing. Disa memisahkan diri beberapa meja dari tempat kami duduk. Dia pun terlihat serius membaca. Sesekali aku melirik laki-laki yang sibuk mengetik sambil membaca di hadapanku. Ingin sekali bertanya hal yang membuatku penasaran, tapi takut mengganggu konsentrasinya.
“Ngapain sih lirak-lirik trus?” Dia mencurigaiku, meski tatapannya masih tertuju pada laptop.
“Nggak apa-apa, Mas. Iseng aja. Seneng lihat orang yang serius belajar.” Aku pura-pura baca buku.
“Apa!!! Kamu mulai seneng sama aku?” Teriaknya lirih, tersenyum menggoda.
“Ih! GR! Seneng lihat orang belajar! Bukan seneng sama kamu!” Aku membalas teriakannya lirih.
“Owh… kirain mulai seneng sama aku.” Tersenyum, lalu kembali mengetik.
“Nggak lah, ntar ada yang cemburu.” Godaku, pura-pura membaca buku, tersenyum meliriknya.
“Oh, iya. Kan kamu dah punya Anto?” Manggut-manggut, tersenyum. “Eh, tapi bukannya dia mau nikah ya? Besok minggu kan?” Sedikit terkejut mengingat sesuatu.
“Kamu diundang, Mas?” Mengernyitkan kening, menatap serius.
__ADS_1
“Kan lewat group. Mang kamu nggak baca?”
Menggeleng, “Nggak, Mas. Aku dah lama nggak buka fb.”
“Pantes aja, kamu nggak pernah kelihatan. Kami kira kamu lagi patah hati jadi nggak mau ikut koment undangan itu.” Kembali mengetik dan membuka halaman buku, “Emang kenapa, tumben nggak buka fb. Biasanya paling aktif.”
“HPku sempat hilang, Mas. Jadi lama nggak pegang HP.” Aku menunduk, gelisah, menahan kesedihan.
Mas Ibram menatapku yang tiba-tiba diam, tak berdaya. “Kamu kenapa, Dif?”
Aku masih terdiam, bingung mau mengatakan apa. Malu jika menceritakan kebenaran yang terjadi, sama saja membuka aib yang selama ini ditutup rapat. Pikiranku melayang, mengingat yang terjadi antara aku dan Mas Anto beberapa bulan lalu. Tidak, tidak, tidak. Aku tidak boleh menceritakan kisah itu. Itu keburukanku, itu masa laluku, itu aib yang harus aku rahasiakan. Orang lain nggak boleh tau aku hampir melakukan kebodohan bersama Mas Anto. Aku menggeleng, memantapkan hati.
“Nggak apa-apa, Mas. Aku cuma sedih aja mendengar kabar itu. Ternyata benar katamu, dia bukan laki-laki baik. Buktinya sekarang dia menikah dengan orang lain. Hamil duluan lagi.” Aku masih tertunduk sedih. Menahan air yang memaksa keluar dari mata ini.
“Apa!! Hamil duluan!! Kamu serius, Dif?” Mas Ibram terkejut, berteriak lirih. Matanya melotot.
“Loh, kamu nggak tau, Mas?” Aku balik bertanya, heran.
Dia menggeleng.
“Syukurlah, Dif. Kamu nggak jadi sama Anto. Yang buruk emang pantasnya dapat yang buruk juga. Kamu cewek baik semoga dapat cowok yang baik juga.”
“Amiin…” Aku menenggelamkan wajah dikedua telapak tangan. “Oh ya, Mas. Dulu katanya kamu suka sama aku. Tapi kok kamu nggak pernah berusaha PDKT sama aku?” Bersedekap diatas meja, menatap Mas Ibram serius.
“Berharap ya??” Laki-laki itu mencondongkan tubuhnya mendekati aku. Tersenyum menggoda.
“Iiihhh… GR banget sih! Aku kan cuma penasaran. Kamu sendiri yang ngaku waktu itu, Tapi kenapa kamu bilang nggak berharap sama aku?”
“Ya karna… nggak mau berharap aja.”
“Kan pasti ada alasanya, Mas?”
__ADS_1
“Karna aku sudah bertunangan, Difa! Dan aku nggak mau nyakitin dia, meskipun dia sudah menyakiti aku.” Kembali mengetik dengan santai. Sesaat melirikku.
“Tunangan?? Dengan siapa, Mas? Kok nggak pernah cerita.” Aku semakin penasaran, apakah perempuan itu? Batinku.
“Kamu kenal lah orangnya. Kami dijodohkan, tapi saat itu dia sedang jatuh cinta pada laki-laki lain. Aku bisa apa? Toh aku juga belum punya rasa sama dia. Ya aku santai aja dia pacaran sama sahabatku sendiri. Diwaktu yang bersamaan juga aku mulai suka sama kamu, tapi kamu nggak pernah peka, nggak ada respon. Eh, malah kamu sukanya sama pacar tunanganku. Jadi rumit kan kisah cintaku.” Bibirnya manyun, menampakkan kesedihan.
“Tunggu dulu!” Aku mencoba mencerna kata-kata yang baru saja diucapkanya, “Tunangan Mas pacaran sama sahabat Mas, dan aku suka sama pacar tunangan Mas. Seingat aku, sahabat Mas yang aku suka cuma Mas Anto, jadi tunangan Mas itu Mbak Anggi!!” Aku menatapnya serius. Meminta penjelasan yang pasti.
Mas Ibram mengangguk, masih dengan jari-jari yang menari diatas keyboard.
“Kok bisa, Mas?”
“Ya bisalah, namanya juga takdir.”
Aku mendengus kesal. Jawaban yang tidak memuaskan.
Dia mematikan laptop dan menutup bukunya. Pergi membawa buku-buku itu lalu meletakkannya di rak, tempatnya semula.
Kembali ia duduk, menata alat tulis dan laptop. “Penasaranya udah terobati kan? Sekarang aku mau pulang dulu ya.” Berdiri dan beranjak pergi dengan membawa barang-barangnya.
Aku termangu, memandang kepergiannya. Masih ingin bertanya tapi bingung mau bertanya apa.
\~*\~*\~
Jangan kebanyakan melamun, nanti kesambet. Kecuali melamun untuk mencari ide baru. cieee.... semoga karya teman-teman bisa naik tingkat ke tahap berikutnya. Apapun itu, kita sukses bersama gaeesss...
Sambil melamun, boleh kok klik like, koment dan vote dulu.
Matur Thankyu gaeesss...
__ADS_1