Ku Tunggu Janjimu

Ku Tunggu Janjimu
Nyicil Terkenal 1


__ADS_3

Hari minggu, aku mengikuti acara seminar di Yogyakarta dari pagi hingga sore hari. Pulang dari seminar, mampir ke Gramedia hingga malam datang. Ini bukan yang pertama kali aku pulang dari Yogya hingga larut malam. Rumahku cukup jauh dari Yogyakarta, sekitar dua setengah jam perjalanan.


Dalam perjalanan pulang, aku melewati suatu  tempat yang gelap. Terlihat truk sedang parkir yang dibawahnya ada seseorang. Aku melewati truk itu. Sekilas hati ini merasa ada yang aneh. Aku berhenti tidak jauh dari truk. Ingin kembali tapi ragu. Beberapa motor di belakang ikut berhenti. Sepertinya kami memikirkan hal yang sama. Mereka memutuskan kembali. Diantara mereka ada yang meninggalkan motornya dan berjalan kaki mendekati truk. Aku putar balik, parkir di depan truk. Berjalan mengikuti orang-orang menuju belakang truk. Betapa terkejutnya saat melihat ada orang tersangkut di ban. Warga mulai berdatangan. Beberapa remaja sekitar mengatur lalu lintas agar tidak macet. Orang-orang yang datang bersamaku cepat-cepat pulang setelah melihatnya. “Ayo kita pulang sebelum polisi datang. Nanti kita yang disuruh jadi saksi kecelakaan ini.” Aku heran kenapa mereka takut untuk jadi saksi. Bukankah ini akan membantu tugas polisi. Aku berdiri tepat di samping korban. Semua orang mengira aku adalah temannya. Beberapa orang bertanya tentang siapa dia. Tidak lama kemudian polisi dan ambulance datang.


“Sini Pak, Mbak yang wajahnya pucat itu yang melihat kejadiannya.” Kata seorang laki-laki tua yang membawa polisi mendekatiku.


Aku menjadi bingung. Jantungku berdetak kencang. Apa yang harus aku katakan pada Pak polisi. Aku memang orang yang pertama melihatnya, tapi bukan yang pertama mendekatinya.


“Maaf, apa Mbak ini teman dari korban.” Tanya Pak Polisi saat tiba dihadapanku.


“Bukan Pak, saya tidak sengaja melihatnya waktu lewat tadi.” Jawabku ragu.


“Kalau begitu apa Anda mau menjadi saksi sebentar terkait kecelakaan ini.”


“Iya Pak. Tapi saya nggak tahu detail kejadiannya. Karna waktu saya datang jenazahnya sudah nyangsang di truk.”


“Oh iya nggak apa-apa. Ceritakan saja apa yang Mbak ketahui. Mari kita cari tempat yang nyaman. Disini terlalu banyak orang yang melihat.”


Aku pergi mengikuti  Pak Polisi dan berhenti di depan sebuah rumah yang cukup terang.


“Baik. Kita mulai disini saja. Bagaimana Mbak.” Tanya Pak Polisi.


“Iya Pak.”


“Saya dari kepolisian daerah, ingin bertanya terkait kecelakaan ini. Apa Mbak sudah siap.”


“Siap Pak.” Aku menghela napas panjang.


“Pertanyaan pertama. Nama Mbak Siapa?”

__ADS_1


“Difa.”


“Baik lah. Nomor telpon yang bisa dihubungi ada? Ini berguna untuk keterangan lebih lanjut. Jika kami masih membutuhkan bantuan dari Mbak Difa terkait kecelakaan ini.”


“Iya Pak ada. 081313029502.”


“Selanjutnya bisa Mbak ceritakan kejadiannya dari awal.”


“Iya Pak. Tapi saya tahunya dia sudah nyangsang di truk.”


“Seputar yang Mbak tahu saja.”


Aku pun menceritakan semua kejadian dari awal melintasi truk. Tidak hanya Pak Polisi yang berkali-kali bertanya. Beberapa sorotan kamera dan handycam membuat aku silau. Pertanyaan silih berganti dari beberapa orang. Mereka merekam setiap perkataanku. Malam ini aku menjadi terkenal sebagai saksi kecelakaan. Selesai diwawancara, aku kembali untuk melihat evakuasi korban. Seorang lelaki mendekatiku, ikut melihat.


“Temanya korban Mbak.”


“Bukan Mas. Saya lewat, dia sudah nyangsang di ban truk.”


Selesai evakuasi aku memutuskan pulang. Kecelakaan itu membuat aku ekstra hati-hati dalam perjalanan pulang malam ini. Sebenarnya aku sudah mengantuk, tapi tetap berusaha untuk fokus melihat jalan. Wajah jenazah itu masih terngiang di benakku. Dosa apa dia hingga meninggal dengan cara seperti itu. Darahnya saja hingga mengalir di trotoar. Mengingatnya membuat mataku tidak jadi mengantuk.


Jam Sepuluh lebih aku baru sampai di rumah. Hal pertama yang aku lakukan adalah memeluk Ibu. Aku sangat ketakutan melihat kecelakaan tadi. Bukan ketakutan melihat jenazahnya. Tapi ketakutan seandainya korban tadi adalah aku.


“Ibu… Alhamdulillah aku pulang selamat dan masih bisa bertemu Ibu. Aku kangen sama Ibu.” Aku memeluk Ibu sangat erat.


“Eh eh… ada apa ini. Tumben peluk-peluk Ibu segala. Bilang kangen lagi.” Ibu yang baru saja pulang mengaji heran melihat sikapku tiba-tiba berubah.


“Ibu tahu nggak. Tadi aku melihat kecelakaan maut. Motor nabrak truk. Mati di tempat sangat mengenaskan. Matanya sedikit tertutup, darahnya mengalir sampai tanah, orangnya nyangsang di ban truk. Pokoknya mengerikan sekali. Nggak kebayang kalau itu aku, mungkin sekarang aku nggak bisa peluk Ibu lagi. Seharusnya aku bersyukur karna Allah telah menyelamatkan, meskipun aku selalu kebut-kebutan.”


“Nah itu pelajaran buat kamu. Kalau naik motor itu harus hati-hati biar nggak meninggal mengenaskan seperti itu. Nggak usah kebut-kebutan yang penting sampai dengan selamat.”

__ADS_1


“Iya Bu. Sudah berkali-kali aku melihat kecelakaan maut. Tapi kenapa aku nggak kapok juga kebut-kebutan ya?”


“Itu emang dasar kamunya saja yang ndablek. Sudah tahu kebut-kebutan itu tidak baik. Masih saja dilakukan.”


“Mengendarai motor pelan, itu sama saja dengan mengendarai sepeda Ibuku sayang?” aku mencium pipi Ibu.


“Dasar ngeyel. Susah dinasehati. Sana makan, mandi terus tidur. Jangan lupa sholat Isya’.”


Aku bergegas ke dapur mengambil piring. Sudah tidak diragukan lagi aku memang sangat kelaparan sejak tadi. Dengan cepat aku mengambil nasi dan makan sambil menemani Ibu menonton televisi. Sebelum tidur aku tidak lupa update status di facebook dan twitter.


*Facebook*


Diwawancarai polisi dan wartawan sebagai saksi kecelakaan maut.


Kira-kira masuk tv gak ya? atau minimal masuk koran


Sekarang terkenal sebagai saksi kecelakaan. Semoga besok terkenal untuk hal yang lebih baik. Aamiin…


nyiciljaditerkenal.


*Twitter*


Menjadi saksi kecelakaan maut.


nyiciljaditerkenal


~*~


Hay hay kawan... hayoooo..... sudah like, koment dan vote belum....

__ADS_1


Author minta dukungannya ya, kepada sobat-sobat pembaca sekalian agar karya author bisa terus berkembang. Jangan sungkan-sungkan loh untuk krisan disini. Author akan sangat senang menerimanya.


Matur Thankyu... :) :) :)


__ADS_2