Kumpulan Cerpen Ku

Kumpulan Cerpen Ku
Rindu Yang Mendalam


__ADS_3

Kisah seorang istri yang di tinggalkan oleh suaminya,pergi untuk bekerja, sang suami tidak pernah pulang bahkan tidak pernah memberikan kabar untuknya.


Rindu, setiap wanita sangat membenci kata rindu,apalagi seorang istri yang merindukan suami mereka, yang pergi meninggalkan mereka tanpa kabar darinya.


Sungguh, tidak ada wanita yang ingin di tinggalkan oleh suaminya tanpa kepastian yang ada, apa lagi seorang istri yang sudah menjadi seorang ibu.


Perasaan rindu, sedih, bertabur menjadi satu ketika mengingat orang yang kita rindu, orang yang kita sayang, bahkan orang yang kita cintai tidak ada di sisi kita.


Dilihatnya wanita cantik,yang sedang duduk di balkon, dengan di temani putri cantiknya yang sangat menggemaskan itu duduk di sampingnya, dan bayi mungil yang berada di gendongannya.


Wanita itu menggendong bayi mungil yang tampan serta sangat menggemaskan itu, dengan alis yang tebal, hidung yang mancung, pipi yang bulat, serta bibir yang tipis. Sungguh imut, bukan?.


"Uda yayah, apan uyang nini?" ujar sang putri kecil.


"Lira sayang, ayah pasti pulang" sanggah sang bundanya dengan tersenyum menutupi kesedihannya.


"Api apan yayah uyang uda?, Lila inin etemu Yayah" ujar gadis kecil itu dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang nanti ayah pulang ko, ayah lagi cari uang yang banyak untuk kita, untuk Lira sama Ade Varel beli susu"ujar sang bundanya dengan tersenyum sambil mengusap pucuk kepala putri kecilnya penuh kasih sayang.


Perasaan sedih yang Nadira rasakan saat putri kecilnya menanyakan kapan ayahnya pulang, Nadira mencoba menepis rasa sedih itu, di pikiran Nadira dia tidak boleh bersedih di hadapan putrinya,dia harus tetap terlihat bahagia di depannya menyembunyikan kesedihannya.


"Sekarang Lira sama adek Varel tidur yah, bunda mau ke minimarket dulu, nanti bunda suruh mba Mita buat nemenin kalian!" tambahnya lagi.


Kira hanya mengangguk mengiyakan ucapan bundanya, Nadira menggiring Lira menuju kamar untuk menidurkannya, dan meletakan Varel yang telah terlelap di gendongannya, untuk meletakan Varel di kasur tempat dimana Lira tidur.


Setelah menidurkan kedua anaknya, Nadira langsung menuju ke bawah untuk menghampiri Mita yang selaku Babay sitter, yang mengurus kedua anaknya saat dia sedang bekerja.


"Mit,Mita" ujar Nadira dengan suara yang lembut.


Dilihatnya Mita yang sedang berjalan dari arah taman menghampiri Nadira yang telah memanggilnya.


"Iyah Bu maaf saya tadi habis dari taman, ada yang bisa saya bantu Bu? ujar Mita.


"Saya mau pergi ke minimarket sebentar, soalnya bahan makanan dan semua kebutuhan gizi untuk Lira dan Varel sudah habis stoknya, saya mau minta tolong jagain Lira sama Varel sebentar yah!!, saya cuma sebentar, mereka juga sedang tidur di atas " ujar Nadira dengan panjang lebar.


"Iyh Bu, tenang ajah Mita bakal jagain mereka sampai ibu kembali"ujar Mita.


Nadira keluar untuk pergi ke minimarket,berhubung hari ini hari minggu jadi Nadira tidak bekerja,setiap hari libur Nadira selalu menghabiskan waktunya bersama anak-anaknya, tapi hari ini Nadira harus pergi ke minimarket,jadi dia terpaksa meninggalkan anaknya untuk sebentar.


Karena tidak mungkin untuk Nadira membawa anaknya keluar,karena ini hari libur pasti banyak orang-orang berlalu lalang, karena Nadira sangat menjaga kesehatan anak-anaknya, jadi Nadira tidak mengajaknya mengingat anak-anak nya masih terlalu kecil untuk keluar rumah, pasti banyak virus bertebaran.


Setelah memakan beberapa menit Nadira sampai di minimarket,Nadira masuk kedalam minimarket, dan mengambil troli belanja, untuk mempermudah Nadira membawa belanjaan di pilih nya.


Nadira mulai menelusuri setiap lorong minimarket tersebut, dan mengambil semua apa yang dia butuhkan, dari kebutuhan gizi untuk anak-anak nya dan untuk dirinya.


Tidak membutuhkan waktu lama Nadira telah selesai belanja,Nadira langsung pulang menuju rumahnya.


Setelah memakan waktu beberapa menit Nadira telah sampai di rumahnya,dia langsung masuk kedalam rumahnya,untuk menuju dapur.


"Bi, bi Ijah" panggil Nadira pada asisten rumah tangganya.


"Eh, iya Bu" jawab bi ijah sambil berlari kecil menghampiri Nadira.


"Bibi dari mana?" tanya Nadira.


"Owh itu, anu Bu habis bersihin halaman belakang"jawab bi Ijah.


"Owh ya sudah,saya mau minta tolong sama bi Ijah, ini saya baru belanja, tolong tatain ya bi!" ujar Nadira.


"Iyah Bu, tenang ajah bakal saya tatain"jawab bi Ijah.


"Ya udah makasih ya bi" ujar Nadira lalu pergi dari dapur menuju kamar dimana anak-anak nya tidur.


Setelah dari dapur Nadira menghampiri kamar anaknya,Nadira menarik gagang pintu dan mendorongnya dia pun masuk, dilihatnya anak-anaknya masih tertidur pulas dan juga Mita yang ikut terlelap di dalam kamar.


Nadira menghampiri anaknya, mengecup kening mereka serta mengusap pucuk kepalanya,dengan penuh kelembutan agar tidak membangunkannya.


Mita yang merasa ada seseorang yang masuk, dia langsung bangun dan melihat ternyata majikannya yang datang.


"Eh, ibu sudah pulang" ujar Mita terbangun dari tidurnya.


"Maaf Bu saya ketiduran" tambahnya lagi.


"Iyah udah, baru ajah nyampe, naruh belanjaan di dapur langsung kesini" ujar Nadira.

__ADS_1


"Gak papa ko Mit, kamu tidur ajah di sini sambil jagain mereka saya mau ke kamar saya dulu"tambah Nadira.


"Iyah Bu" jawab Mita.


Nadira keluar dari kamar anaknya dan menuju ke kamar miliknya, Nadira berdiri di atas balkon, matanya menerawang jauh entah kemana, pikirannya penuh dengan kekalutan dan kesedihan.


"Mas, kamu dimana?, kenapa tidak pulang?,apakah kamu tidak merindukan anak-anak kit?"


"Kira selalu menanyakan kapan ayahnya pulang?, aku tidak tau harus bilang apa padanya, aku tak kuasa melihat air matanya ketika dia menanyakan kepada ku kapan ayahnya pulang, dan Varel kamu belum pernah melihatnya, dia sangat tampan sepertimu mas, setidaknya kamu pulang untuk anak-anak"


Gumam Nadira di dalam hati dengan air mata yang sudah meremas keluar dari tempatnya.


_


_


_


Dua tahun sudah saat Nadira menangis di balkon kamarnya,dia selalu berada dalam kesedihan, tetapi Nadira selalu terlihat bahagia ketika sedang bersama anak-anak nya.


Hari hari yang telah Nadira lewati bersama anak-anak nya,tanpa kehadiran sang suami yang entah pergi kemana.


Kini Nadira sedang bersama anak-anak nya untuk mengisi hari liburnya, kini Lira sudah ber umur 5 tahun dan Varel sudah berumur 3 tahun.


3 tahun sudah sang suami tidak pernah pulang, bahkan tidak pernah menafkahi mereka, entahlah dia sudah meninggal atau tidak, yang jelas Nadira bekerja sendiri untuk menafkahi nya dan juga kedua anaknya.


"Kira sama Varel mau makan apa sayang?"ujar Nadira kepada kedua anaknya.


Lira pun dengan begitu antusias mengatakan makanan apa yang ingin dia makan, begitu juga dengan Varel yang juga mengatakan apa yang ingin dia makan.


"Bunda, kakak mau makan sepageti" ujar Lira


"Kalo Ade ayam goyeng unda" ujar Varel.


"Oke, baiklah akan bunda pesan kan untuk princess dan prince, bunda yang cantik dan ganteng ini" ujar Nadira pada kedua anaknya.


"Owh Iyah,kalo kamu mau pesen apa biar saya sekalian pesankan untuk kamu?" tanya Nadira pada Mita.


"Tidak usah Bu" ujar Mita merasa tidak enak.


"Hmm, saya pesen ayam goreng ajah Bu" ujar Mita merasa tidak enak.


Nadira akhirnya memesan makanan, untuk dirinya dan anak-anaknya serta untuk Mita juga.


Selang beberapa menit akhirnya makanan yang dipesan telah datang, mereka memakan makan yang telah mereka pesan dengan sangat lahap, Lira dan Varel begitu menikmati makanan nya.


Dengan lahap Lira dan Varel melahap semua makanan nya hingga habis tak tersisa sedikitpun, mereka berdua bersendawa ketika telah menghabiskan makanannya.


"Anak bunda sudah kenyang yah?, bilang apa kalo sudah bersendawa?"ujar Nadira mengingatkan kepada anaknya dengan kebiasaan yang Nadira ajarkan ketika sudah bersendawa mereka akan mengucapkan hamdalah, sebagai wujud rasa syukur mereka kepada Tuhan yang telah memberikan kenikmatan.


"Alhamdulillah, iya bunda kita sudah kenyang" ucap keduanya berbarengan.


"Anak pintar"ujar Nadira.


Melihat majikan nya yang sangat baik dan penyayang itu, Mita merasa bahagia ketika melihat majikannya bahagia bersama anak-anak nya, walaupun tanpa kehadiran sang suami yang telah pergi meninggalkan mereka.


Setelah semuanya selesai, Nadira dan anak-anak nya serta Mita bergegas untuk pulang ke rumahnya,tapi tanpa sengaja Nadira melihat Hendra yang berada di sudut ruangan,yang berada di restoran ini bersama wanita yang Nadira kenal dan seorang anak kecil perempuan yang umurnya sama dengan Varel anaknya.


Mereka sedang duduk, menikmati hidangan yang berada di depannya, sesekali mereka bercanda riya, terlihat seperti tidak memiliki beban dalam hidupnya, sungguh pemandangan yang menyesakkan dada bagi Nadira.


Nadira mengeryitkan keningnya untuk mencerna apa yang telah terjadi dihadapannya itu, hingga satu kata yang lolos dari mulut seorang gadis kecil itu,memanggil papah kepada Hendra menyadarkan Nadira semuanya apa yang telah terjadi.


"Bu, ibu tidak apa-apa?"tanya Mita membuyarkan lamunan majikannya.


"Eh tidak apa-apa, kamu bawa anak-anak pulang dulu, saya ada urusan yang harus saya selesaikan sekarang!" ujar Nadira.


Mita pun tanpa banyak bicara mengiyakan ucapan yang Nadira perintahkan, Mita langsung membawa kedua anak majikannya untuk segera pulang.


Setelah Nadira, menyuruh Mita untuk pulang,Nadira langsung menghampiri ketiga orang yang telah membuat hatinya hancur berkeping-keping.


"Mas, apa maksudnya semua ini?" ujar Nadira mencoba untuk menahan sesak didadanya.


"Nadira" ucap Hendra dan Siska berbarengan. Kaget, itu yang bisa menggambarkan ekspresi dari Hendra dan Siska.


"Iyah ini aku, kenapa kalian kaget dengan kehadiranku?" ujar Nadira dengan suara lembut miliknya.

__ADS_1


"Maafkan aku Nadira, aku sudah menikah dengan Siska" ujar Hendra dengan wajah yang tegang.


"Kenapa kamu tidak bilang, kenapa kamu meninggalkan aku dan anak-anak,apa salah ku, ke apa kamu begitu tega meninggalkan kita mas?, setidaknya kamu ingat dengan anak-anak kita mas" ujar Nadira sudah dengan air mata yang menetes.


Sekuat tenaga Nadira membendung air matanya agar tidak terjatuh, tapi tidak bisa dia tahan, sangat menyesakan baginya, sehingga tidak bisa membendung air matanya untuk tidak keluar.


"Dan untuk kamu Siska, kenapa kamu menghianatiku, kenapa?, jadi kamu menghilang selama 3 tahun ini, ternyata kamu sudah menikah dengan mas Hendra suami dari sahabatmu sendiri?" ujar Nadira masih dengan khas suara lembutnya.


"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku sis, kenapa?" tambahnya lagi.


Siska pun tak bergeming sedikitpun dia hanya menunduk dengan air mata yang sudah membanjiri kedua pipinya.


"Aku mencintainya, maafkan aku Nad" ujar Siska. Kata itulah yang hanya bisa di ucapkan oleh Siska.


Nadira gak mengubris perkataan dari sahabatnya yang telah tega menghianati nya, dengan mengambil suami serta ayah dari anak-anak nya.


"Untuk kamu mas, aku dan anak-anak selalu menunggumu pulang, dia selalu menanyakan kapan ayahnya pulang, dimana dia berkerja, kenapa tidak pulang- pulang, aku sampai bingung harus berkata apa kepada mereka, ternya orang yang selama ini kita nantikan kepulangannya, ternyata dia sudah bahagia tanpa kita, hmmm baiklah mas, bahagialah dengan keluarga mu ini" ujar Nadira dengan menghapus air mata yang terjatuh di pipinya.


Nadira langsung berbalik badan untuk meninggalkan mereka, tapi sebelumnya Nadira memandang gadis kecil yang sedang duduk menikmati makanannya, sakit itulah yang bisa di gambarkan untuk Nadira saat dia melihat gadis kecil itu, wajah yang sangat mirip dengan Hendra dan juga Siska, perpaduan wajah mereka.


Tak lama Nadira berbalik badan lagi menghadap ke arah Hendra dan berbicara.


"Aku akan mengurus surat perceraian untuk kita" ujar Nadira berlalu meninggalkan mereka.


Semua orang yang berada di restoran hanya bisa menyaksikan drama yang telah terjadi, mereka hanya mambu berbisik-bisik antar pengunjung lainnya, tentang drama yang mereka lihat.


Banyak yang mengatakan Siska pelakor, perebut suami orang, jalang, wanita ular yang telah mengkhianati sahabatnya sendiri, menyebut nenek lampir, dan masih banyak julukan lainnya.


Begitu juga dengan Hendra, banyak yang mengatakan bahwa Hendra adalah suami yang bodoh, brengsek, tidak bertanggung jawab,tidak pantas memiliki istri seperti Nadira dan masih banyak lagi perkataan orang-orang yang berada di restoran itu.


Apalagi Nadira, Nadira banyak yang mengatakan bahwa dia sangat baik, berhati mulia, wanita yang tegar, sangat sempurna jika di sandingkan dengan Hendra, dan masih banyak lagi pendapat positif tentang Nadira, dan mendukung Nadira untuk bercerai dengan suaminya.


Setalah menghabiskan waktu di tempat yang menguras emosi serta menyesakan dada, Nadira pulang ke rumahnya untuk melihat anak-anak nya, hanya mereka yang bisa mengobati rasa sesak dan sedihnya, mereka yang bisa membangkitkan semangat hidupnya.


Setelah sampai di rumah Nadira langsung menuju kamar anaknya, dia melihat kedua putri dan putra nya yang sedang terlelap, wajah polosnya dan damainya ketika sedang tertidur menenangkan hati dan pikiran Nadira.


Di ciumnya kening kedua putri dan putra nya serta di usapnya pucuk kepala keduanya dengan lembut dan dengan penuh kasih dan sayangnya.


"Bunda janji akan selalu membuat kalian bahagia, walaupun tanpa kehadiran sosok ayah, bunda akan menjadi ayah serta bunda untuk mu sayang" ujarnya dengan air mata yang menetes, tapi langsung di hapus oleh Nadira.


Setelahnya Nadira langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar anaknya, Nadira melangkahkan kakinya ke arah kamarnya,Nadira menangis, meluapkan semua kesedihannya.


Melihat orang yang dia rindukan, orang yang dia sayang, orang yang dia cintai, yang dia harapkan kepulangannya, telah bahagia dengan orang lain sungguh membuat sesak di dada.


Sungguh apa Nadira tidak tau dan ingin tau, apa yang ada di jalan pikiran kedua orang yang telah mengkhianatinya, hingga semenyakitkan ini, yang telah tega meninggalkannya tanpa kepastian dan menelantarkan nya dan juga kedua anaknya tanpa nafkah darinya.


Nadira tidak ingin terlalu berlarut-larut dalam kesedihannya, dia sadar dia masih punya anak-anak yang masih membutuhkan kasih sayang darinya.


Nadira mencoba untuk ikhlas menerima semua cobaan, dan takdir yang Tuhan gariskan untuknya, dia harus melewati semuanya dengan ikhlas, Nadira percaya bahwa Tuhan tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuan hambanya.


Tapi tidak di pungkiri oleh Nadira, tidak mudah bagi seorang istri untuk berpisah dari suaminya,dengan sebuah perceraian, apalagi mereka sudah memiliki anak yang harus mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, tapi apalah yang harus Nadira lakukan, dia harus ikhlas menerimanya, mungkin inilah jalan yang terbaik baginya.


Seminggu sudah saat kejadian dimana Nadira meluapkan semua kesedihannya, dan ini hari dimana Nadira mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.


_


_


_


Hari hari telah di lewati Nadira dengan penuh keikhlasan menerima jalan hidupnya yang sangat pahit ini.


Ini lah hari dimana Nadira akan menghadiri sidang perceraian nya dengan Hendra sang suami, yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.


Setelah beberapa ajuan-ajuan pertanyaan sang hakim pun telah memutuskan bahwa Nadira dan Hendra telah resmi bercerai.


Setelah semuanya selesai Nadira pulang ke rumah nya untuk melihat anak-anak nya, bagi Nadira anak-anak nya adalah nyawanya dan penyemangat di setiap hari-hari nya.


Nadira memutuskan untuk membuka lembaran-lembaran baru bersama sang buah hatinya,melupakan semua yang membuat hatinya terluka.


Hari-hari telah di terlewati kini Nadira dan kedua anaknya, Lira dan Varel telah melewati hari-hari yang bahagia tanpa kehadiran seorang ayah yang berada di sampingnya, Lira dan Varel tidak pernah menanyakan dimana ayahnya lagi, bagi mereka dia sudah mempunyai Bundanya, yang sayang kepadanya tanpa harus ada sosok ayah yang telah tega meninggalkan mereka bertiga.


-------- End --------


Cerpen satu selesai, masih banyak cerpen² yang bakalan intan tuliskan disini dan tentunya berbeda-beda judul dan isinya☺️

__ADS_1


__ADS_2