
Heaven beringsut mendekati Mayra. Hanya ingin membuka cadar, kenapa rasanya berdebar seperti ini? Tangannya mulai terulur menyentuh bagian bawah cadar. Tapi saat hendak menyingkap, tiba tiba Mayra bergerak. Dia memiringkan badannya memunggungi Heaven.
Heaven yang kaget langsung menarik tangannya menjauh. Jantungnya terasa mau copot karena dia pikir, Mayra bangun.
Astaga, kenapa gue jadi kayak maling gini sih?
Heaven menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Posisi tidur Mayra yang miring membuatnya makin kesusahan. Dia yang sedang duduk, kembali beringsut, lebih mendekat lagi kearah Mayra. Dia melongokkan kepala melihat wajah Mayra. Yakin jika Mayra masih pulas, dia kembali melancarkan aksinya, menyingkap cadar Mayra.
Mayra yang tiba tiba bergarak hendak mengubah posisi tidur, membuat Heaven lagi lagi kaget. Saking kagetnya, tak sengaja tangannya menarik cadar Mayra. Tapi karena cadar tersebut terikat kuat dibelakang kepala, bukannya lepas, yang ada Mayra malah kebangun. Reflek Heaven melepaskan tangannya dari cadar.
"K, Kak Heaven mau apa?" Mayra kaget saat mendapati Heaven yang duduk begitu mepet dengannya. Merasa pipinya sedikit sakit, Mayra memeriksa cadarnya. Benda itu masih disana, begitupun dengan hijabnya.
"Gu, gu, gue..." Heaven kelabakan, bingung mau jawab apa.
Mayra duduk, dia menatap wajah Heaven yang pias. Persis wajah orang yang ketahuan nyolong.
"Kakak mau buka cadar aku? Kakak mau per kosa aku?" Mayra reflek menyilangkan kedua lengannya didada.
Mulut Heaven menganga saking tak percayanya Mayra bisa menuduhnya seperti itu.
"Kenapa diem? Jadi bener, Kakak mau perkossa aku?"
Heaven membuang nafas kasar lalu mendorong jidat Mayra. "Lebay," ledeknya. "Ngapain gue merkosa lo. Dikasih aja ogah. Gak usah sok kepedean deh." Heaven memutar kedua bola matanya malas.
"Tapi aku kerasa kayak ditarik cadarku."
__ADS_1
"Ya elah, kalau mau mer kosa itu, narik baju, narik daleman, ngapain cadar?"
Mayra menatap Heaven sengit. "Tapi benerkan, Kakak narik cadar aku?"
Heaven kelabakan mencari alasan. Kalau diiyain, entar ge er lagi si Mayra. Kalau disangkal, Mayra pasti tak akan percaya begitu saja.
"Benerkan?" cecar Mayra..
"Bukan gue tarik, tapi gak sengaja ketarik. Tadi....tadi....tadi kepala lo jatuh dari bantal. Terus gue yang baik ini, mencoba memperbaiki posisi tidur lo. Eh, malah gak sengaja ketarik."
Mayra mengernyitkan kening. Jawaban itu terdengar tak masuk akal. Mana mungkin si neraka seperhatian itu hingga membenarkan posisi tidurnya.
"Ah udah lah, gue ngantuk mau tidur." Heaven segera beringsut menjauhi Mayra lalu pura pura tidur.
Sial, kenapa bisa gagal sih? Padahal cuma mau lihat mukanya si jelek, tapi kenapa sesusah ini.
.
Pagi hari, Heaven bangun telat gara gara semalam tak bisa tidur. Karena ada meeting pagi, dia terpaksa mandi bebek lalu dengan tergesa gesa turun kebawah.
Dia menatap sengit kearah Mayra yang sedang menata sarapan dimeja makan. Bisa bisanya Mayra tak membangunkannya pagi ini.
"Kenapa kamu, gak bisa tidur semalaman?" tanya mama Mita yang bisa melihat dengan jelas lingkaran hitam dibawah mata Heaven.
"Kayaknya ada yang mimpi buruk semalam, terus berujung tak bisa tidur," Mayra ikut bicara.
__ADS_1
"Mimpi buruk?" mama Mita mengerutkan keningnya.
"Apaan sih, enggak." Sangkal Heaven sambil melihat Mayra yang sedang menahan tawa. "Aku gak mimpi buruk?"
"Enggak ya? Kirain mimpi ngintip bidadari yang mandi di sungai terus ketahuan." Mayra membungkam mulutnya agar tawanya tak meledak.
Sialan, dia nyindir gue.
Mama Mita hanya geleng geleng lalu menyeruput susu rendah lemak dihadapannya. Sejak ada Mayra, mama Mita tak lagi repot saat pagi. Mayra selalu membantu Bik Denok menyiapkan sarapan, sehingga dia hanya tinggal duduk manis saja.
Saat Mayra kebelakang untuk mengambil pancake buatannya, Mama Mita langsung menendang pelan kaki Heaven.
"Gimana semalam, udah lihat wajah May?"
Heaven menggeleng. "Gagal."
Mama Mita menepuk jidatnya. Heaven sungguh tak bisa diharapkan. "Apa perlu mama bantu ngomong ke May agar dia gak perlu pakai cadar lagi?"
"Gak usah." Heaven jelas gengsi. "Udahlah Mah, gak usah bahas itu, males." Heaven pura pura tak berminat padahal aslinya penasaran berat.
"Gedein terus aja gengsi kamu. Entar kalau May direbut pria lain kamu nyahok. Nanti kamu bakalan nyesel setelah lihat wajah May."
"Nyesel, berarti masih jelek dong?"
"Bukan, bukan itu. Tapi nyesel kenapa gak dari dulu aja ngeliatnya. Heran deh, pengen ngeliat wajah istri sendiri kok gengsi."
__ADS_1
Heaven bercedak pelan. Kalimat mamanya bikin dia makin penasaran aja.