KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )

KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )
CEMBURU


__ADS_3

Mayra duduk didepan meja rias sambil memakai make up. Senyum senyum sendiri saat melihat tanda merah dileher dan dadanya dari pantulan cermin. Entah kapan kulitnya bisa mulus lagi seperti dulu. Karena sekarang, saat bekas merah yang lama hilang, yang baru akan muncul.


Saat asyik memoles maskara dibulu mata lentiknya, Mayra mendengar ponsel Heaven berdering. Karena Heaven masih mandi, dia beranjak dari duduknya, mengambil ponsel yang ada diatas nakas.


"Bapak." Dahi Mayra mengkerut saat tahu yang menelepon Heaven adalah bapaknya. Ada urusan apa bapaknya menelepon Heaven? Saat hendak menjawab, panggilan lebih dulu berakhir.


"Ada apa May?"


Mayra seketika menoleh mendengar suara Heaven. Ternyata suaminya itu sudah selesai mandi. Dengan handuk dililit dipinggang, Heaven mendekati Mayra sambil menggosok gosok rambutnya yang basah.


"Barusan ada telepon dari Bapak."


Heaven langsung menepuk dahinya. "Astaga, bisa bisanya aku lupa." Dia lalu mengambil ponselnya ditangan Mayra. Dan langsung sibuk dengan benda itu.


"Lupa, lupa apa?"


"Bapak bilang dia kehabisan uang di kampung." Sahut Heaven sambil sibuk memencet mencet layar ponselnya.


Mayra seketika perfikiran kearah negatif. "Bapak gak lagi minta uangkan sama Kakak?"


"Iya. Tadi siang minta ditranferin uang, eh akunya lupa."


Mata Mayra seketika terbeliak lebar. Bapaknya sungguh keterlaluan. Tidak, Mayra tak akan membiarkan itu. Dia lalu menarik ponsel yang ada ditangan Heaven.


"Sayang, apa apaan sih."


Nita hati menggagalkan Heaven mentranfer uang. Tapi dia terlambat. Tampak tulisan transfer berhasil dilayar ponsel Heaven. Dan yang bikin Mayra langsung lemas, jumlahnya gak kaleng kaleng, 10 juta.


"Ba, Bapak minta 10 juta?" tanya Mayra dengan suara lemah.


"Gak bilang langsung minta 10 juta sih. Tapi katanya, kalau bisa agak banyak, soalnya kebutuhan di kampung banyak. Dia juga mau nyumbang buat saudara yang hajatan."


Mayra kembali duduk dikursi meja rias. Menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak karena menahan tangis. Tega sekali bapaknya menggunakannya sebagai alat untuk penghasil uang. Padahal baru minggu lalu minta mobil, tapi hari ini sudah minta lagi uang 10 juta. Dan kedepannya, pasti masih akan ada lagi permintaan-permintaan lainnya.


"Yang, baju aku kok gak disiapin sih?" Pertanyaan Heaven membangunkan Mayra dari lamunannya.


"I, iya aku lupa." Mayra menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. Beranjak menuju almari lalu mengambilkan kaos dan celana kolor untuk Heaven.


"Yakin aku disuruh pakai ini?" Heaven menatap baju yang diambilkan Mayra. "Kita mau ke mall, masa pakai celana kolor?"


"Gak usah ke mall ya."


"Loh, kenapa?"

__ADS_1


"Aku gak usah beli perhisan." Mayra malu sendiri pada Heaven. Setelah bapaknya minta uang 10 juta, mana mungkin sekarang dia minta beli perhiasan.


"Ada apa sih? Perasaan tadi udah setuju deh?"


Mayra tersenyum sambil menyentuh rahang kokoh Heaven. "Tiba tiba aja aku pengen masakin yang spesial buat kamu. Ayam bakar, kamu suka itu kan? Ya udah aku kedapur dulu. Masak buat makan malam. Aku pengen bikin ala ala candle light dinner." Mayra mengecup pipi Heaven lalu berjalan menuju pintu.


Heaven merasa aneh. Dia lihat Mayra sudah dandan cantik dan pakai baju bagus. Kenapa malah mau masak? Dia menyusul Mayra lalu menahan tangan wanita itu saat hendak membuka pintu.


"Ada apa? Aku gak suka kamu kayak gini? Ngomong sama aku kalau ada masalah. Kamu marah karena aku transfer uang ke bapak tanpa bilang kamu dulu?"


Mayra menunduk dalam sambil meremat jemarinya. "Aku malu Kak."


"Malu, kenapa?"


"Aku malu karena orang tuaku banyak meminta padamu."


Heaven mengangkat dagu Mayra agar menatap matanya. "Orang tuamu orang tuaku juga. Aku gak keberatan membantu mereka."


"Tapi aku keberatan. Bapak sudah keterlaluan Kak. Kalau seperti ini, apa bedanya aku dengan Rafa?"


"Astaga, apa kau sudah hilang akal. Bisa bisanya menyamakan dirimu dengan bajingan itu. Kalian jelas beda. Ayo kita ke mall. Aku pengen beliin kamu perhiasan."


"Tapi...."


Mayra menghela nafas, membuka almari lalu memilihkan baju untuk Heaven. "Yang ini?" Dia menunjukkan kaos warna navy.


"Terserah istriku tercinta." Heaven mengecup pipi Mayra lalu meraih kaos dari tangan wanita itu dan memakainya. Setelah itu, memakai celana yang baru diambil Mayra dari almari.


"Kak, setelah ini, apapun yang diminta bapak, Kakak jangan langsung kasih, diskusi dulu dengan aku."


"Iya, iya."


Keduanya lalu berangkat menuju mall. Sepanjang jalan, Heaven terus memegang tangan Mayra sambil seselali menciumnya. Mayra sampai lelah karena harus berkali kali mengingatkan Heaven agar fokus ke jalan.


Sesampainya di mall, mereka langsung menuju ke toko perhiasan. Mayra yang masih tak enak hati, lebih banyak diam, membiarkan Heaven sibuk memilihkan perhiasan untuknya. Satu set perhiasan model terbaru ditunjukan Heaven pada Mayra.


"Harus gitu satu set? Kayaknya kebanyakan deh," ujar Mayra.


"Aku gak tanya banyak enggaknya, tapi kamu suka apa enggak?"


Perhiasan itu sangat bagus, mana mungkin Mayra tidak suka. Begitu dia mengangguk, Heaven langsung meminta pegawai toko untuk membungkusnya.


Setelah dari toko perhiasan, melihat ada pameran mobil, Heaven langsung mengajak Mayra melihat.

__ADS_1


"Aku pengen beliin mobil buat kamu."


Mayra langsung menggeleng cepat. "Aku tidak butuh mobil."


"Tapi kalau kamu bisa bawa mobil sendiri, kamu lebih gampang mau kemana mana, gak perlu naik taksi."


"Ya udah deh beliin. Tapi entar kalau aku kemana mana sendiri, udah gak butuh Kak Heaven lagi, jangan ngambek loh ya?"


"Astaga, ya udah gak usah beli."


Mayra langsung terkekeh. Tiba tiba, perutnya terasa mulas, dia minta izin pada Heaven untuk ke toilet sebentar.


Selesai urusan toilet, Mayra kembali ke tempat Heaven. Matanya melotot melihat Heaven tampak bicara sambil ketawa ketiwi dengan seorang spg mobil yang berpakaian super seksi. Segera dia menghampiri mereka dan langsung menggandeng lengan Heaven.


"Siapa dia Ven?" tanya cewek seksi yang bersama Heaven. Dia menatap Mayra dari atas kebawah.


"Istri aku."


Mata spg mobil tersebut langsung melotot dengan mulut menganga. "Kamu gak lagi becandakan? Sejak kapan seorang Heaven berubah selera? Bukannya selera kamu yang seksi seksi, kenapa malah...."


"Kenapa memang dengan penampilan saya?" potong Mayra. Kalimat spg itu terdengar seperti hinaan buatnya. "Ada yang salah? Jangan kamu kira cuma kamu saja yang seksi disini, saya juga. Tapi bedanya, keseksian saya tidak saya umbar, hanya saya pertontonkan didepan suami." Mayra lalu menarik lengan Heaven pergi dari sana. Setelah cukup jauh, langsung dia hempaskan tangan suaminya itu.


Mayra menatap Heaven tajam. Tatapannya sudah seperti pedang yang bisa membelah tubuh Heaven menjadi dua, sampai sampai Heaven dibuat tak berkutik.


"Dasar lelaki, ditinggal bentar aja langsung ngedeketin cewek seksi. Apa yang halal udah tak menarik lagi buat dipandang, sampai sampai harus memandang yang haram?" ucap Mayra dengan bersungut sungut. Padahal dia tak lama ketoilet, eh...Heaven sudah tebar pesona ke cewek seksi.


"Siapa juga yang ngedeketin dia? Dia yang nyapa aku duluan. Dia tadi mantan aku."


Mayra langsung terkesiap. Pantesan mereka terlihat dekat, ternyata mantan.


"Udah puas belum temu kangennya? Kalau belum, silakan balik kesana." Mayra langsung pergi setelah mengatakan itu.


Heaven berdecak pelan lalu mengejar Mayra. Kenapa pula dia pakai ketemu mantan hari ini, bikin masalah saja.


"May tunggu." Heaven menarik lengan Mayra agar berhenti. Bukannya merayu Mayra agar tidak ngambek, Heaven malah tertawa cekikikan.


"Kenapa?" Mayra jadi bingung.


"Aku suka lihat kamu cemburu. Itu artinya, kamu sudah benar benar mencintaiku. Cup." Heaven mengecup bibir Mayra singkat.


"Kak Heaven," pekik Mayra tertahan. Dia lalu melihat sekeliling, semoga saja tak ada yang melihat kejadian tadi. Karena kalau sampai ada yang lihat, dia pasti sangat malu.


Tanpa rasa bersalah, Heaven malah pergi begitu saja. Jalan lebih dulu meninggalkan Mayra yang masih mematung dengan wajah merah seperti tomat.

__ADS_1


"Ish, dasar nyebelin." Dengan bibir mengerucut kedepan, Mayra buru buru menyusul Heaven.


__ADS_2