KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )

KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )
SIANG PERTAMA


__ADS_3

Mayra hendak berontak saat Heaven menciumnya. Sayangnya pinggang dan tengkuknya tertahan tangan Heaven sehingga dia tak bisa banyak bergerak. Satu satunya hal yang bisa dia lakukan hanyalah pasrah.


"Awww..." Mayra menjerit pelan saat Heaven menggigit bibirnya. Dan kesempatan itu tak disia siakan oleh Heaven. Lidahnya menyeruak masuk lalu membelai lidah Mayra. Cukup lama Heaven melakukan itu hingga Mayra hampir kehabisan nafas. Tak mau mati konyol, Mayra memukul mukul punggung Heaven hingga pria itu melepaskan ciumannya.


Mayra langsung meraup oksigen sebanyak banyaknya. Wajahnya terlihat merah karena kehabisan nafas.


Tapi belum puas dia mengambil nafas, Heaven sudah kembali menciumnya. Tapi kali ini, lebih lembut dari yang tadi. Dan dia juga memberi jeda agar Mayra bisa mengambil nafas.


"K, Kak Heaven mau apa?" Mayra gugup saat Heaven menarik hijabnya hingga terlepas. Bukannya menjawab, Heaven malah menarik turun resleting dibagian depan gamis yang dikenakannya. Sebelum resleting itu turun hingga pangkal, Mayra lebih dulu menahan tangan Heaven.


"May, kali ini jangan menolak ataupun mencoba menghentikanku. Kau yang lebih dulu menggodaku." Ucap Heaven dengan suara berat. Nafas pria itu juga mulai memburu, menandakan jika dia sedang sangat bergairah.


"Ta, tapi a_"


Mayra tak bisa melanjutkan kalimatnya karena Heaven kembali menciumnya. Seperti orang kecanduan, Heaven tak mau lama lama memisahkan bibir mereka.


"Kak." Desis Mayra diantara ciuman mereka saat merasakan dadanya mulai dieksplor oleh sang suami.


Dia merasakan geli sekaligus nikmat saat ciuman Heaven turun menyusuri belakang telinga, leher hingga dadanya. Menciptakan begitu banyak tanda kepemilikan disana.


Mayra seperti melayang. Akal sehatnya mendadak hilang. Seperti orang yang lupa segelanya, Mayra bahkan tak melakukan apapun saat Heaven menurunkan gamisnya.


Heaven merasa senang saat untuk pertama kalinya, mendengar Mayra mende sah. Suara merdu itu semakin memacu semangatnya untuk menciptakan momen tak terlupakan diantara mereka. Dengan bibir yang kembali bertaut, Heaven mengangkat tubuh Mayra dan menurunkannya diatas ranjang.


"Aku menginginkanmu May." Heaven menatap Mayra denga mata berkabut. Dia sudah tak bisa lagi menahan diri saat ini.

__ADS_1


Seperti orang tersihir, Mayra menganggukkan kepalanya. Dia memejamkan mata, membiarkan Heaven melakukan apapun pada tubuhnya. Dinikmatinya setiap sentuhan yang membawanya terbang ke awang awang. Dia juga tak menolak saat Heaven menarik tangannya dan meletakkan pada sesuatu yang mengeras. Bahkan naluri alaminya menuntunnya untuk bergerak dan memanjakan barang pusaka milik Heaven.


Tapi semua kenik matan itu lenyap saat dia merasakan sakit yang teramat diinti tubuhnya. Badannya seperti terbelah menjadi 2, sakit sekali hingga air matanya meleleh.


"Apakah sakit?"


Sambil menutupi mulutnya agar tak berteriak, Mayra mengangguk. Dulu dia sering mendengar cerita teman temannya jika malam pertama itu sakit, tapi dia tak menyangka jika akan sesakit ini. Lalu apakah yang dimaksud malam pertama tak terlupakan, adalah rasa sakit ini? Rasa sakit yang teramat yang membuat malam pertama selalu terkenang sepanjang masa.


Heaven menyingkirkan tangan Mayra yang menutupi mulutnya. Menciumnya dengan harapan, bisa mengurangi rasa sakit itu. Terbukti Mayra sudah terlihat tak setegang tadi sekarang. Perlahan, wanita itu mulai bisa menik mati rasa perih sekaligus nik mat di inti tubuhnya.


Heaven mengerang saat dia mencapai puncak bersamaan dengan Mayra. Tubuh keduanya seketika terasa lemas, terutama Mayra. Sampai sampai hendak menarik selimut untuk menutupi tubuhnya saja, dia tak sanggup.


Heaven memiringkan tubuhnya menghadap Mayra. Disekanya keringat yang membasahi kening wanita itu lalu dikecupnya lama. Perasaannya sungguh tak tergambarakan saat ini. Senang, puas dan bangga, ketiga rasa itu bercampur menjadi satu. Senang karena akhirnya bisa mendapatkan Mayra seutuhnya. Puas karena yang barusan tadi sungguh membuatnya mabuk kepayang. Dan bangga saat tahu, jika dialah yang pertama bagi Mayra.


"Apa sakit sekali?"


"Terimakasih karena telah menjaganya untukku." Heaven tak bisa menyembunyikan kebahagiannya. "Aku janji akan selalu mencintaimu." Dikecupnya sebentar bibir Mayra lalu merapikan rambutnya yang berantakan hingga kewajah.


"Kau mengantuk?" tanya Heaven saat melihat Mayra memejamkan matanya.


"Hem." Ngantuk bercampur lelah, rasanya berat sekali untuk membuka mata.


"Dibersihkan dulu."


"Tapi aku ngantuk."

__ADS_1


"Aku gendong ke kamar mandi." Heaven segera memposisikan lengannya di punggung dan lutut Mayra.


"Aku bisa sendiri." Mayra malu jika Heaven sampai merasa keberatan.


"Tidak apa-apa."


"Aku berat."


"Masih lebih berat cintaku padamu."


"Ish gombal," Mayra memukul pelan dada Heaven.


Heaven lalu menggendong Mayra menuju kamar mandi. Selesai membersihkan diri, kembali dia membawa Mayra keatas ranjang.


"Tidurlah." Heaven menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Mayra.


"Aku pakai baju dulu." Mayra hendak bangun tapi ditahan oleh Heaven.


"Aku ingin tidur sambil memelukmu seperti ini."


"Tapi..." Mayra merasa sedikit risih.


"Nikmati saja." Heaven merebahkan tubuhnya disebelah Mayra. Memeluk dan membenamkan kepala Mayra didadanya. "Tidurlah. Persiapkan dirimu untuk malam pertama kita nanti."


Mayra langsung mendongak menatap Heaven. Bukankah barusan mereka melakukannya, apa mungkin Heaven mendadak amnesia secepat ini?

__ADS_1


"Yang tadi siang pertama. Nanti malam baru malam pertama."


Mayra tak kuasa menahan tawanya. Ada ada saja suaminya itu. Siang pertama, apaan itu?


__ADS_2