
Saat baru membuka pintu, Heaven melihat Mayra yang kembali tertidur. Sepertinya istrinya itu memang sangat lelah setelah semalam dia ajak ke surga dunia berkali kali. Setelah mengunci pintu kamar, didekatinya Mayra lalu dia kecup keningnya lama.
"Kak, lama banget sih ngambil airnya? Haus tau." Ucap Mayra yang baru membuka mata. Sebenarnya dia tidak sedang tidur, hanya memejamkan mata saja.
"Nih." Heaven menyodorkon sebotol air mineral kehadapan Mayra.
Mayra bangun sambil memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos. Dia meraih botol dari tangan Heaven. Tapi karena satu tanganya memegangi selimut, dia kesulitan membuka botol. Bukannya membantu, Heaven malah menertawakannya.
"Malah diketawain," geram Mayra. "Bukain, dasar gak peka." Dia kembali menyodorkan botol kearah Heaven.
"Lagian ngapain tuh selimut susah susah dipegangin. Aku udah lihat semuanya." Heaven meraih botol air mineral dari tangan Mayra lalu membukanya. Meminumnya setengah kemudian memberikan pada Mayra sisanya.
"Ih malah dikasih sisa."
"Biar rasanya ada manis manisnya."
Mayra mengabaikannya ucapan Heaven yang sedikit ngiklan. Meminum air tersebut hingga menyisakan botol kosong.
Heaven duduk bersandar dikepala ranjang lalu menepuk dadanya. "Sini." Menyuruh Mayra untuk bersandar didada bidangnya.
"Kakak gak kerja?"
Heaven menggeleng. "Masih pengen menghabiskan waktu sama kamu. Seharian ini, semua waktuku buat kamu."
Mungkin jika wanita lain, mereka akan senang jika suaminya berkata demikian. Tapi lain halnya dengan Mayra. Matanya langsung melotot. Kalimat Heaven justru terdengar horor. Bahkan saat Heaven tersenyum padanya, dia malah merasa seperti di senyumin mbak kunti. Jangan bilang seharian dirumah masih mau minta jatah lagi. Tubuhnya sudah sangat lelah, tak akan sanggup jika harus dihajar seharian lagi.
"Kok malah bengong?" tanya Heaven
Mayra langsung menggeleng. "A, aku mau turun kebawah. Mau bantuin Bi Denok nyiapin sarapan." Mayra hendak kabur tapi pinggangnya lebih dulu ditarik Heaven. Hingga tubuh Mayra tertarik kebelakang dan bersandar didada Heaven.
__ADS_1
"Kak Heaven lepas, aku mau masak."
"Bukan tugas kamu sayang." Heaven menghujani kecupan disekitar bahu Mayra yang terbuka. Dia suka selali dengan aroma tubuh Mayra yang menurutnya sangat wangi. Ditambah lagi kulitnya yang putih dan sangat mulus, membuat Heaven tak tahan kalau hanya dilihatin saja. "Tugas kamu cuma ngelayanin aku."
Mayra tersenyum absurd. "Tapi menyiapkan makanan buat Kakak, juga termasuk bagian dari melayani suamikan?"
"No," Heaven menggeleng. "Melayani di dapur, tugas Bi Denok. Kamu hanya perlu melayani diranjang."
Matilah aku.
Rasanya Mayra mau menangis saja.
"Hai, kenapa?" Heaven menarik pelan dagu Mayra, membuat istrinya itu menatap kearahnya.
"Aku lelah," sahut Mayra lemas. "Dan dibawah saja, rasanya masih perih."
Mata Mayra seketika berbinar. "Benaran Kak?"
"Hem."
"Beneran seharian ini Kakak gak minta lagi meski gak kerja?"
"Iya sayang." Heaven menarik gemas hidung mancung Mayra. "Seharian ini kamu istirahat saja. Agar nanti malam bisa kembali fit."
"Nan, nanti malam?"
"Hem." Heaven mengangguk. "Seharian ini kamu bebas, tapi tidak untuk nanti malam."
Mayra kembali lemas. Padahal dia pikir sehari semalam. Tapi sepertinya, suaminya tak akan tahan selama itu.
__ADS_1
Disaat mereka tengah berbincang sambil mesra mesraan. Tiba tiba ponsel Heaven berdering. Ada nama Ilham dilayar.
"Ada apa?" tanya Heaven langsung.
"......"
Rahang Heaven langsung mengeras mendapat kabar dari Ilham.
"Blokir semua kartu kredit, debit, dan apapun milik mama."
Mayra terkejut mendengar ucapan Heaven. Sepertinya ada masalah. Karena tak mungkin Heaven tiba tiba melakukan itu pada mamanya. Dia tahu jika Heaven sangat menyayangi mamanya.
"Ada apa Kak?" tanya Mayra begitu Heaven sudah selesai dengan teleponnya.
"Ilham sudah menyadap ponsel mama. Dia bilang kalau Rafa minta uang 100 juta untuk buka bengkel."
"WHAT!" Pekik Mayra sambil melotot.
"Sialan itu harus segera aku beri pelajaran."
"Jangan Kak."
Heaven langsung kaget mendengar Mayra bilang jangan. "Jangan bilang kalau kamu masih cinta sama dia?" Raut wajah Heaven tiba-tiba berubah, dan itu membuat Mayra sedikit takut.
"A, aku hanya gak mau Kakak kena masalah karena menghajarnya. Aku gak mau sampai Kakak dipenjara."
Heaven bernafas lega. Dia pikir Mayra masih ada rasa pada Rafa. Bisa bisa dunianya kiamat kalau dua wanita tercinta dalam hidupnya sama sama menyukai Rafa.
"Aku tidak akan mengotori tanganku dengan menghajarnya. Masih banyak cara yang lebih berkelas untuk memberinya pelajaran selain menghajar." Heaven menarik bahu Mayra lalu kembali menyandarkan kepala istrinya tersebut didadanya.
__ADS_1