
"Aku sudah mencobanya berkali kali Sayang, tapi memang tak bisa. Semua rekeningku tak bisa digunakan untuk bertransaksi."
"Halah, bilang aja gak mau ngasih." Dari suaranya, terdengar jika Rafa sangat kesal.
"Bukan, bukan begitu. Ta_"
Tut tut tut
Mama Mita memekik sebal karena sambungan diputus sepihak oleh Rafa. Bukannya dia tak mau ngasih, tapi memang tidak bisa. Dia juga heran, kenapa seharian ini tak bisa melakukan transaksi perbankan. Dan setelah dia tanyakan pada pihak bank, ternyata rekeningnya sedang dibekukan. Dia tahu kalau semua ini pasti ulah Heaven.
Sambil memegangi ponsel, mama Mita mondar mandir diruang keluarga, Mayra yang melihat sampai pusing sendiri.
"Mama kenapa?" tanya Mayra.
"Kebetulan ada kamu. Mama pinjam uang kamu sebentar. Rekening mama tak bisa digunakan. Mama sedang butuh uang."
"Emang mau beli apa Mah? Biar May belikan, gak usah pinjam segala." Yang nyari uang Heaven, mana mungkin Mayra menyuruh mertuanya pinjam.
"Mau transfer seseorang. Adakan 100 juta di rekening kamu?"
Mata Mayra langsung melotot. Dia pikir mertuanya hendak membeli barang, taunya mau transfer uang. Teringat cerita Heaven kemarin, Mayra yakin mama Mita hendak mentransfer uang pada Rafa.
__ADS_1
"Maaf Ma, uang May gak ada kalau segitu."
"Ya udah kamu telepon Heaven, minta dia transfer uang ke rekening kamu."
"100 juta bukan uang sedikit Mah. Mayra gak berani kalau gak izin dulu sama kak Heaven. Lagian mau transfer siapa sih Mah sebanyak itu? Rafa?"
Mama Mita mengerutkan kening mendengar Mayra menyebut nama Rafa.
"Kok kamu tahu?"
Mayra menghela nafas berat. Ingin sekali dia bilang pada mama Mita jika Rafa tak sebaik yang dia pikirkan. Rafa hanya cakep mukanya doang, tapi hatinya busuk.
"Bukan ngasih May, Rafa pinjam. Entar kalau usahanya maju, uangnya juga buat mama. Kan kita mau menikah? Udah buruan telepon Heaven, suruh dia transfer uang ke kamu."
"Maaf Mah, Mayra gak bisa bantu. Mending nanti mama bicara sendiri saja sama Kak Heaven."
Mama Mita mendesis sebal. Tapi dia tak bisa memaksa Mayra. Mungkin lebih baik dia nunggu Heaven pulang kantor saja. Dia butuh penjelasan dari putranya itu, kenapa sampai semua akun banknya dibekukan.
Waktu berjalan sangat lambat bagi mama Mita. Menunggu Heaven pulang ternyata lama juga. Saat ini, Rafa sedang ngambek padanya, tak mau angkat telepon ataupun balas chat, membuat mama Mita makin frustasi.
Begitu Heaven sampai di rumah, mama Mita langsung mengahampirinya. Tak memberi kesempatan bagi anaknya itu untuk sekedar ganti baju apalagi mandi.
__ADS_1
"Kamu yang memerintah pihak bank untuk membekukan rekening mama?"
Heaven menghela nafas berat. Padahal pengennya pulang kerja disambut Mayra, eh...malah disambut mamanya dengan muka ketus.
"Iya."
Mama mita langsung memukul lengan Heaven dengan kuat.
"Sakit Mah," protes Heaven sambil mengusap lengannya.
"Biarin, siapa suruh main main sama mama. Mama gak mau tahu, pokoknya besok semuanya harus sudah normal kembali."
"Enggak."
"Heaven!", teriak mama Mita. "Jangan macam macam kamu. Uang itu milik mama. Mama punya saham diperusahaan. Dan warisan dari papa kamu, mama juga ada hak disana. Jadi kamu gak bisa seenak jidat mengambil hak mama, uang mama." Mama Mita mulai naik darah.
Heaven mengela nafas sambil garuk garuk kepala. Karena sudah biasa melihat mamanya ngamuk ngamuk, jadi responnya hanya biasa saja.
"Aku juga gak mau minta uang mama. Bahkan kalau mama mau, ambil saja semua uang warisan dari papa. Aku gak akan minta sepeserpun. Aku ikhlas semua uang buat mama. Tapi jika mama memberikan uang itu untuk Rafa, aku gak ikhlas." Heaven langsung pergi setelah mengatakan itu. Dia juga mengabaikan mama Mita yang masih terus memanggilnya.
"Dasar anak itu. Dari kecil sampai besar, kerjaannya cuma bikin mamanya naik darah," gerutu mama Mita.
__ADS_1