KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )

KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )
HAMIL !!!


__ADS_3

Hana sampai geleng-geleng menatap Mayra yang memotong sawi. Adiknya itu sampai heran, sudah hampir setengah jam, tapi seikat sawi saja, belum selesai motongnya. Ya gimana mau selesai, orang motongnya sambil ngelamun.


"Biar aku aja yang motong sawinya Mbak." Hana mengambil alih sawi dari tangan Mayra. Bisa bisa satu keluarga tak makan jika harus nungguin Mayra. "Mbak motong tempe aja."


Mayra mengangguk, dia lalu mengambil tempe dan memotongnya. Sama seperti tadi, Mayra lebih fokus melamun daripada motong tempe. Alhasil, lagi lagi pekerjaan itu diambil alih Hana.


Bu Jamilah, mulutnya menganga melihat sudah hampir 1 jam kedua putrinya didapur, tapi masakan belum siap satupun. "Hana, kamu pasti main hp terus dari tadi. Makanya masak gak kelar kelar," omelnya.


"Main hp apanya sih Bu. Orang a_"


"Aku ke kamar dulu." Ucapan Mayra membuat Hana tak melanjutkan omongannya.


Bu Jamilah dan Hana, keduanya menatap kepergian Mayra. Mayra yang dulunya sangat ceria, benar benar sudah berubah total. Sejak kedatangannya kemarin, Mayra sangat murung dan lebih sering menangis.


"Aku kasihan Bu sama Mbak May. Mana sedang hamil lagi," ujar Hana.


Sebenarnya Bu Jamilah juga kasihan. Mayra seperti ini, bukan murni kesalahan Heaven saja, tapi akar dari masalah ini, tentu saja adalah suaminya. Dan sekarang, Mayra yang jadi korban.


Tok tok tok


"Sana buka pintunya," titah Bu Jamilah pada anak gadisnya.


Meskipun malas, Hana tetap melakukan perintah ibunya. Dia pergi kedepan untuk membuka pintu.

__ADS_1


Sementara Mayra, wanita itu duduk diatas ranjang sambil mengelus perutnya. Ekspektasinya, Heaven akan berusaha keras mendapatkan maafnya, setidaknya pria itu akan bertahan 3 hari dihalaman rumah. Menunggu seperti difilm film. Sayangnya, jangankan 3 hari, 24 jam saja belum ada, Heaven sudah pergi.


Ceklek


Mayra menoleh saat pintu dibuka dari luar.


"Mbak, ada paket."


"Mana?"


"Sama kurirnya, mbak May sendiri yang disuruh nerima."


"Kenapa gitu?"


"Ya mana aku tahu. Buruan kedepan Mbak, paketnya segede gajah, siapa tahu isinya emas."


Mayra turun dari ranjang lalu kedepan untuk mengambil paket. Saat membuka pintu, matanya membulat sempurna karena ternyata, Heaven yang datang. Mayra hendak menutup pintu kembali, tapi Heaven berhasil menahannya.


"May, please maafin aku. Tolong beri aku kesempatan untuk bicara sama kamu."


"Bicara? Bukankah Kakak udah gak mau bicara sama aku lagi ya?"


Heaven menggeleng cepat. "Aku minta maaf May. Tolong beri aku kesempatan untuk menjadi suami yang lebih baik lagi." Heaven mendorong makin kuat hingga Mayra tak mampu lagi menahan pintu.

__ADS_1


Heaven masuk, meraih kedua tangan Mayra lalu menggenggamnya. "Tolong jangan tinggalin aku May. Aku takut kehilangan kamu."


Mayra menggeleng. "Aku gak pernah ninggalin Kakak, tapi Kakak yang udah ninggalin aku." Mayra tak kuasa menahan air matanya. "Kakak gak nganggap aku sama sekali. Kakak mengabaikan aku. Itu sama saja, Kakak udah ninggalin aku. Sebenarnya Kakak itu sayang gak sih sama aku?"


"Banget, aku sayang banget sama kamu. Aku cinta sama kamu."


Lagi lagi Mayra menggeleng. "Kalau kakak cinta sama aku, Kakak bakalan percaya sama aku." Mayra menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak. Sakit sekali saat ingat perlakuan Heaven padanya beberapa hari kebelakangan ini. "Kakak gak cinta sama aku. Kakak cuma cinta sama diri Kakak sendiri."


"Itu gak benar." Heaven memeluk Mayra yang sedang terisak.


"Lepas Kak, lepasin aku." Mayra mencoba berontak.


"Enggak, aku gak bakal lepasin kamu. Aku tak mau kehilangan kamu. Ketakutan terbesarku adalah kehilangan kamu May."


Mayra tiba tiba merasa sangat mual. Didekap terlalu erat membuatnya engap dan pengen muntah.


"Uk, uk." Mayra menutupi mulutnya, menahan gejolak diperutnya yang memaksa ingin keluar.


"Ka-kamu kenapa?"


Bagitu Heaven melepaskan pelukannya, Mayra langsung berlari ketoilet dan memuntahkan isi perutnya disana. Heaven, dia tentu saja langsung mengikuti Mayra ke toilet. Mengabaikan tatapan Bu Jamilah yang heran kenapa ada Heaven. Seingat dia, pas keluar belanja tadi, mobil Heaven sudah tidak ada.


"Sayang, kamu sakit?" Heaven berdiri dibelakang Mayra sambil memijit tengkuknya. Pria itu terlihat cemas. "Kamu masuk angin? Kita kedokter ya?"

__ADS_1


"Kok Masuk angin sih Kak, Mbak Mayra itu hamil," celetuk Hana.


"Ha-hamil." Mulut Heaven menganga lebar dengan mata membulat sempurna.


__ADS_2