KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )

KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )
PASANGAN MESRA


__ADS_3

Heaven mematut dirinya didepan cermin. Malam ini dia akan keresepsi pernikahan Adam dan Intan. Sebagai bos, jelas dia ingin penampilannya luar biasa malam ini. Dia berkali kali mengubah tatanan rambutnya. Pokoknya dia ingin tampil mempesona dipesta nanti. Apalagi pasti Selena juga datang. Jangan sampai Selena merasa senang saat melihatnya jelek.


Mayra yang baru memasuki kamar, geleng geleng melihat Heaven yang ternyata belum siap juga. Padahal cukup lama dia make up dikamar tamu tadi, tapi Heaven, suaminya itu masih juga belum beranjak dari depan cermin.


"Lama banget sih?"


Mayra kaget mendapatkan pertanyaan itu.


"Bukannya Kakak juga belum selesai?" tanya Mayra sambil berjalan kearah meja rias untuk menaruh peralatan make up nya.


"Gue sebenernya udah selesai dari tadi, hanya sedang nungguin lo. Lagian lo kurang kerjaan banget sih, pakai make up segala? Orang wajah lo gak kelihatan, cuma mata doang yang tampak?"


Mayra menghembuskan nafas berat lalu memegang kedua lengan Heaven agar melihat kearahnya.


"See, lihatlah mataku." Heaven seketika cengo menatap mata indah Mayra. Mata bulat yang dihiasi bulu mata lentik yang sudah dipoles maskara. Kelopak mata yang tampak segar dengan ayeshadow berwarna pink dan tak lupa eyeliner yang menggaris indah disepanjang kelopak mata bagian bawah hingga sudut mata.


Cantik, puji Heaven dalam hati. Dia seperti terhipnotis. Hanya terlihat matanya saja, sudah secantik itu. Apa mungkin wajah yang tersembunyi dibalik cadar itu memang benar benar cantik seperti yang mama Mita bilang?


"Gimana mata aku, cantik gak?"


Heaven reflek mengangguk, tapi sedetik kemudian, ganti menggeleng.


"Biasa aja," Ego Heaven tak mengizinkannya untuk memuji Mayra.


Mayra menyebikkan bibir. Dia yakin tadi Heaven sempat terpesona, hanya saja pria itu gengsi mau mengakui.


Keduanya lalu berangkat ketempat acara. Sepanjang jalan, Heaven tak bisa melupakan mata indah yang tadi dia lihat.


Sadar Heaven sadar. Hanya mata, bisa bisanya kamu sampai terpesona. Yakinlah, dibalik cadar itu, ada kulit hitam yang penuh jerawat.


Haeven mencoba menepis keterpesonaannya.


Setelah turun dari mobil, Heaven memperhatikan penampilan Mayra yang sungguh luar biasa. Gamis pesta warna nude yang membalut tubuhnya serta hijab yang menutupi dada lengkap dengan cadar terlihat sangat cocok dibadan Mayra yang proporsinal. Meski wajahnya tak kelihatan, tapi auranya memancarkan kecantikan yang luar biasa. Siapapun pasti mengira jika wajah dibalik cadar itu sangatlah cantik.

__ADS_1


"Kita harus berpegangan tangan biar terlihat mesra." Heaven meraih tangan Mayra lalu menggenggamnya. Rasanya dia tak percaya jika tangan Mayra sehalus ini. Sangat luar biasa, bahkan dia merasa seperti memegang tangan bayi.


Tapi tiba tiba, tangan halus itu terlepas dari genggamannya. Mayra sengaja menarik tangannya.


"Kenapa?" Heaven merasa tersinggung dengan penolakan Mayra.


"Bukan begitu caranya agar terlihat mesra." Mayra langsung saja melingkarkan tangannya dilengan Heaven. "Begini harusnya." Matanya terlihat menyipit, menandakan jika dia tersenyum dibalik cadarnya.


Heaven tiba tiba merasakan keanehan dalam dirinya. Jantungnya berdegup sangat kencang saat dia dan Mayra berada dijarak sedekat ini. Dan entah parfum apa yang dipakai Mayra, wanginya membuat Heaven seperti tersihir.


Keduanya lalu berjalan memasuki hotel. Sebagai bos yang disegani, banyak sekali dari tamu undangan yang menyapa mereka berdua. Selain itu, penampilan keduanya yang tampak serasi membuat mereka menjadi pusat perhatian.


Didalam, mereka bertemu dengan Tirta dan Edo yang sedang berbincang dengan teman temanya.


"Busyet, pak bos dan bu bos mesra sekali." Edo berdecak kagum melihat penampilan keduanya.


Heaven benar benar bangga karena dia dan Mayra mampu menjadi magnet yang menarik perhatian banyak orang malam ini.


"Kamu terlalu berlebihan memuji. Kamu bahkan sangat cantik," Mayra balik memuji. Istri Edo memang sangat cantik. Bagi seseorang yang berdompet tebal, meski wajah pas pasan, tidaklah susah dapat istri cantik.


Tapi hal itu tak berlaku untuk Heaven. Meski dompet tebal sekaligus good looking, dia susah jodoh. Entah karena dukun Selena yang sangat hebat, atau mulutnya yang menyebalkan hingga para wanita ogah dengannya.


Heaven tanpa sadar terus mengusap punggung tangan Mayra yang melingkar dilengannnya. Bibirnya tak lepas dari senyum. Rasanya bangga sekali membawa Mayra kepesta malam ini.


"Eh Ven, lo tega banget sih ngelarang Siti ikut gue."


Mayra menelan ludahnya susah payah saat Tirta mulai membahas Siti. Kemarin, meski tak enak hati, dia tetap mengatakan jika tak bisa ikut Tirta karena tak diijinkan oleh Heaven.


"Gue gak mau Siti yang lugu dikadalin cowok kayak lo," sahut Heaven.


"Dih, ngatain gue kadal, padahal situnya buaya," balas Tirta. "Eh udah ketemu Selena belum, salah satu korban kebuayaan lo? Tadi gue lihat dia datang dengan suaminya."


"Dia makin cantik aja Bro," seloroh Edo.

__ADS_1


"Mas." Manda memberi isyarat pada Edo agar tak bicara seperti itu. Dia melirik kearah Mayra, merasa tak enak pada wanita itu.


"Tapi masih cantikan Siti. Gue sampai hampir gak ngenalin dia loh. Pembantu si Heaven itu makin bening aja."


Hem hem hem


Mayra berdehem agar Tirta menghentikan bicaranya. Tapi percuma, Tirta tak peka sama sekali.


"Gila, si Siti cantiknya kebangetan," lanjut Tirta.


Reflek Heaven langsung menatap Mayra yang ada disebelahnya. Sudah 2 orang yang mengatakan jika Mayra cantik. Tapi....rasanya dia masih belum percaya.


"Cinta itu buta ya? Yang jelekpun bisa kelihatan cantik," Heaven geleng geleng.


"Ya, gue setuju kalau cinta itu buta. Tapi kalau lo bilang Siti jelek, fix mata lo katarak," Tirta menyahuti.


"Dan fix, lo minta dipecat karena ngatain bos katarak," sinis Heaven.


"Udah udah, jangan debat gegara Siti. Yuk ke pelaminan, ngasih selamat habis itu makan, laper gue." Edo mengusap perutnya yang sudah kelihatan membuncit sejak menikah.


Mereka lalu naik kepelaminan. Seolah ingin menunjukkan kemesraan didepan khalayak, Haevan terus mengulum senyum sambil sesekali melihat kearah Mayra yang menggandeng lengannya. Tak hanya sampai disitu, Heaven merapikan hijab Mayra sebelum mereka naik ke pelaminan, tak ayal beberapa orang yang melihat langsung berbisik bisik.


"Udah ganteng, penyayang istri lagi."


Mayra pengen muntah mendengarnya. Penyayang istri, waw, luar biasa akting si neraka, sampai bisa dia mendapat predikat penyayang istri.


"Aku juga pengen punya suami kayak Pak Heaven."


Heaven memutar kedua bola matanya jengah. Dulu, saat dia mati matian cari jodoh, kenapa gak ada yang bilang seperti itu. Kalaupun ada, pasti pacaran sebulan langsung putus.


Tanpa kedua orang itu sadari, tak jauh dari tempat mereka, Selena menatap sambil mengepalkan kedua telapak tangannya. Dialah orang yang paling tak bisa terima jika Heaven bahagia.


"Hari ini, akan aku tunjukkan wajah istrinya Heaven didepan semua orang. Aku sangat yakin jika dia jelek. Kalau tidak, mana mungkin wajahnya ditutup," gumam Selena.

__ADS_1


__ADS_2