
Mayra masuk kedalam lift, menekan tombol angka 5 sesuai petunjuk satpam tadi. Saat lift berhenti dilantai 2, dua orang staf laki laki masuk kedalam. Salah satu dari mereka menatap Mayra sangat intens, sampai-sampai, Mayra risih.
"Karyawan baru ya Mbak, gak pernah lihat?" tanya pria yang sejak masuk lift menatap Mayra. Dari id card yang menggantung dilehernya, tertera nama Riko disana.
"Bukan."
"Lalu ngapain kesini?"
Mayra menghela nafas. Malas menjawab pertanyaan si kepo bernama Riko itu, dia menunjukkan tas bekal yang ada ditangannya.
"Oh...mau nganter makanan ya? Ngomong-ngomong buat siapa?"
"Pak Heaven."
Riko dan satu temannya yang ada didalam lift saling tatap.
"Saya kasih tahu ya Mbak, Pak Heaven itu sudah punya istri."
"Ya, saya tahu," jawab Mayra singkat.
"Terus kalau tahu, kenapa masih nekat nganter makanan buat dia?"
"Cantik cantik ternyata pelakor," bisik teman Riko.
"Saya dengar ya Mas," ucap Mayra lantang. Siapa yang tak kesal jika tiba-tiba dikatain pelakor. "Saya ini istrinya, istri sah."
Kedua pria didalam lift tampak tercengang.
"Gak mau keluar?" tanya Mayra.
__ADS_1
"Hah!" kedua pria itu malah kayak orang bodoh.
"Bukannya masnya tadi nekan tombol 4 ya."
Kedua orang tersebut melihat keatas dan mendapati angka 4 yang menyala. Tapi belum sempat mereka keluar, lift sudah tertutup kembali. Terpaksa mereka tetap didalam hingga akhirnya lift terbuka dilantai 5.
"Mau ikut saya keruangan Pak Heaven?" tanya Mayra sebelum keluar.
"Eng, enggak Bu," jawab keduanya kompak. Mereka mempersilakan Mayra keluar lebih dulu.
Mayra mengingat ingat petunjuk dari satpam tadi. Berjalan melewati koridor lalu belok kiri. Tak sengaja, dia malah bertemu Tirta.
"Siti, eemm Mayra maksudku." Tirta meralat panggilannya yang sempat keliru.
"Kak Tirta."
Mayra menunjukkan tas bekal ditangannya, membuat Tirta langsung tepuk jidat. Tak seharusnya dia bertanya seperti tadi. Mayra istri bosnya, jadi tak perlu bertanya untuk apa dia kesini.
Saat itu, beberapa staf yang hendak keluar untuk makan siang tak sengaja melihat Mayra yang menunjukkan tas bekal kepada Tirta.
"Cie...ada yang nganterin makan siang nih," goda staf pria sambil menyenggol lengan Tirta.
"Wah....Kak Tirta kok gak bilang sih, kalau sekarang udah punya cewek, maning bening pisan," goda Isabel.
Tirta kaget saat teman temannya mengira jika Mayra adalah pacarnya. Wajar saja mereka tak mengenali Mayra, karena biasanya selalu memakai cadar.
"Bagi-bagi dong bekalnya." Seseorang tiba-tiba iseng merebut tas bekal yang ada ditangan Mayra.
"Eh jangan," teriak Mayra. Dia hendak merebut tapi tas bekal itu sudah dibawa menjauh oleh 3 orang teman Tirta.
__ADS_1
"Heh, itu bukan milikku, tapi milik Pak Heaven," teriak Tirta. Dia berharap, teman temannya tak membukanya jika tahu makanan itu milik bos mereka.
"Gak usah bohong," sahut Isabel sambil tetap membuka bekal tersebut bersama dua teman lainnya. Mereka pikir Tirta hanya sedang menakut nakuti mereka agar mereka tak berani memakannya.
Mayra memijit keningnya yang terasa pusing saat melihat makanan yang dia buat spesial untuk Heaven malah disabotase oleh teman Tirta.
"Kayaknya enak nih," liur Fano hampir menetes melihat makanan yang tampak lezat dan aromanya sangat menggugah selera.
"Itu punya Pak Heaven." Tirta mendekati teman-temannya dan berusaha merebut. Sayangnya Fano sudah lebih dulu mengambil sepotong ayam bakar dan menggitnya.
Mayra membuang nafas berat. Sia sia usahanya membuat ayam bakar kalau endingnya malah orang lain yang menikmati.
Isabel dan Soni tak mau kalah, mereka berebut ayam yang masih tersisa sepotong.
"Ada apa ini?" Tanya Heaven yang tiba tiba muncul.
Isabel, Fano dan Soni buru buru mengelap bibir lalu menganggukan kepala sambil tersenyum pada bos mereka.
Heaven, dia tak peduli pada 3 orang itu. Fakusnya saat ini tentu saja pada Mayra.
"Kamu kesini sayang, kok gak bilang aku?"
Ketiga orang yang tadinya makan itu langsung berhenti mengunyah mendengar Heaven memanggil wanita yang mereka pikir pacar Tirta dengan sebutan sayang.
"Aku kesini nganter makan siang untuk Kak Heaven."
Huk huk huk
Ketiga orang pemakan bekal langsung tersedak saat tahu jika makanan yang mereka makan adalah milik Heaven, bos mereka.
__ADS_1