KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )

KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )
APAKAH KUTUKAN ITU MASIH BERLAKU?


__ADS_3

Mama Mita mengernyit saat melihat Mayra turun tanpa mengenakan cadar dan hijab. Padahal sedang ada Heaven dirumah. Apa ini artinya, Heaven sudah melihat wajah Mayra? Dan tunggu tunggu, rambut Mayra basah? Mulut mama Mita menganga karena membayangkan putranya sudah pecah perjaka semalam.


"Pagi Mah." Sapa Mayra sambil berjalan menuju dispenser. Mengambil segelas air putih lalu meneguknya. "Mau masak apa Bik?" tanyanya sambil melihat kearah Bi Denok yang sedang mencuci daging ayam.


"Mau bikin ayam bakar Non." Kalau hari kerja hanya sarapan roti, nasi goreng atau menu simpel lainnya. Setiap hari libur, Heaven selalu minta menu sarapan yang lebih spesial.


"Wah...kesukaan Kak Heaven itu," sahut Mayra. 2 bulan lebih menikah, membuatnya hafal apa saja kesukaan suaminya.


"Iya, apalagi kalau Non May yang masak. Beuh, bisa nambah 3 kali si Aden."


Mayra langsung tergelak mendengar pujian Bi Denok. Lain halnya dengan Mama Mita. Dia segera membuka kulkas untuk mengecek isi didalamnya. Matanya berbinar melihat apa yang dia mau ada didalamnya.


"Ganti Bik, gak usah masak ayam," ujar Mama Mita. Tangannya bergerak cepat untuk mengambil beberapa bahan makanan dikulkas.


"Kenapa Nyah?"


"Masak ini aja." Segera mama Mita membawa makanan yang dia ambil dari kulkas ketempat Bi Denok. "Masak tiram, ikan salmon, bayam dan....bentar bentar." Dia lalu kembali lagi ke kulkas. "Dan daging."


"Banyak sekali Mah." Mayra sampai heran.


"Udah kamu nurut aja, biar entar malem bisa nambah lebih dari 3 kali."


Mayra dan Bi Denok saling menatap bingung. Perasaan ini masih pagi, apa harus masak untuk sekalian entar malem? Kebiasaan disana, menu sarapan selalu beda dengan makan siang dan malam.


"Ini masak sekalian sama buat malam Nyah?" tanya Bi Denok yang masih bingung.


"Udah pokoknya kalian atur aja, buat menu pagi, siang, malam." Setelah mengatakan itu, mama Mita keluar dari dapur. Dia naik ke lantai atas menuju kamar Heaven.


Mama Mita mendapati Heaven masih tidur dengan nyenyaknya diatas ranjang. Didekatinya putranya itu lalu di tepuk tepuknya lengan Heaven.


"Bangun, bangun Ven."

__ADS_1


"Apaan sih May." Sahut Heaven dengan mata tertutup, antara sadar dan tidak.


"Bangun dulu." Mama Mita menggoyangkan bahu Heaven.


Wanita paruh baya itu dibuat kaget saat Heaven tiba tiba menariknya keatas ranjang dan tubuhnya jatuh menimpa Heaven.


"Hei anak kurang ajar, lepasin mama." Teriak mama Mita sambil memukul dada Heaven. Dia tak bisa bergerak karena pinggangnya dibelit lengan Heaven.


"Mama." Pekik Heaven saat menyadari jika orang yang menimpa tubuhnya dan sedang dia peluk bukanlah Mayra, melainkan mama Mita. Cepat cepat die melepaskan pelukannya agar mama Mita bisa bangun.


"Mau kurang aja sama mama kamu, hah?" bentak mama Mita dengan mata melotot.


"Heaven kira tadi May. Lagian mama apa-apaan sih, pakai masuk kamar Heaven segala?"


Plak


"Aduh." Pekik Heaven saat lengannya kena gaplokan yang cukup keras.


Heaven mendesis pelan. Semoga saja telinganya tak benar benar kena masalah. Setelah tadi Mayra memekik ditelinganya, sekarang mama Mita terus berteriak padanya. Ngantuknya seketika hilang. Dia bangun sambil meregangkan otot ototnya.


"Iya, iya, Heaven salah ngomong tadi. Mama ngapain pagi pagi bangunin Heaven, ini kan hari libur?"


Mama Mita baru teringat tujuan utamanya ke kamar Heaven. Dia senyum senyum lalu duduk disisi ranjang.


"Cie....anak mama udah gak perjaka lagi sekarang?" godanya sambil menyenggol bahu Heaven. "Gimana malam pertama, enak gak? Enak dong, enaklahh...."


Heaven garuk garuk kepala. Malam pertama dari Hongkong?


"Kok mukanya malah kusut gitu sih?" mama Mita mengernyit heran. "Jangan bilang kalau..."


"Masih perjaka."

__ADS_1


"WHAT!" Pekik mama Mita dengan mata membeliak lebar. "Gimana bisa. Mayra kan udah cantik. Emang masih kurang apa lagi sih?" dia jadi geram. Dulu alasannya gak naffsu karena Mayra jelek. Lha sekarang, apalagi alasannya? Kalau ditunda terus, kapan keluarga ini dapat penerus?


"Bukan masih kurang Mah, tapi dia gak mau deket deket Heaven. Gimana coba Heaven mau nyentuh?"


Mama Mita membuang nafas kasar. "Itu karena ulah kamu sendiri. Perempuan mana yang gak kesel kalau tiap hari dikatain jelek sama suaminya. Dan sekarang saat cantik, mau minta jatah. Gak hanya Mayra, mama juga ogah kalau harus ngelayanin laki macam itu."


"Ck, Mama kok malah ikut ikutan mojokin aku sih?"


"Lha emang kamu salah."


Haevan mendecak pelan, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang sambil melipat kedua tangan didada. Wajahnya tampak frustasi, membuat mama Mita kasihan juga.


"Udah kamu tenang aja, nanti mama bantu untuk menaklukan May. Wanita itu akan luluh dengan pujian, hadiah dan perhatian. Jadi kamu harus melakukan 3 hal itu."


Tapi rupanya, kalimat mama Mita belum bisa menenangkan Heaven.


"Mah, Heaven takut deh."


"Takut apa?"


"Gimana kalau ternyata kutukan itu masih berlaku. Gimana kalau tiba tiba May minta pisah? Secarakan, kita belum pernah ngapa ngapain. Dan itu artinya, sama saja dengan aku belum dapat jodoh. Aku masih akan jadi perjaka tua?"


Kutukan Selena kembali terngiang dikepala Heaven. Mungkinkah jika Mayra memang bukan jodohnya? Dan sejatinya, dia memang belum bertemu dengan jodohnya, yang mungkin saja memang benar benar jelek.


"Hush, jangan ngawur kalau bicara. Kata-kata itu doa. Mama yakin Mayra gak akan ngelakuin itu. Dia wanita yang baik. Dihina kamu tiap hari aja, dia gak minta cerai. Mana mungkin sekarang saat kamu udah baik padanya, dia malah minta cerai."


"Tapi dia sekarang udah cantik Mah. Dan diluar sana, pasti banyak pria yang mau sama dia." Heaven galau tingkat dewa.


"Udah-udah, jangan terlalu jauh mikirnya, entar kalau kesasar. Sekarang mending kamu fokus untuk memikat hati Mayra. Jangan mikir yang lain dulu. Mama akan bantu sebisanya."


Heaven mengangguk pelan.

__ADS_1


__ADS_2