
Tepat jam 12 malam, Mayra membangunkan Heaven. Menyanyikan lagu selamat ulang tahun sambil membawa kue yang sudah tertancap lilin yang menyala. Dia berharap, Heaven melihat ketulusannya dan tidak lagi menganggap bahwa dia bekerja sama dengan bapaknya.
Tak ada raut kegembiraan di wajah Heaven meski Mayra memberinya surprise ulang tahun. Raut wajahnya datar, bahkan diam saja saat Mayra selesai menyanyi.
"Ditiup dong lilinnya," ujar Mayra.
Fiuh
Heaven meniup lilin bertuliskan angka 34 hingga padam.
"Yeee..." Seru Mayra sambil tersenyum. Tapi senyum itu tak bertahan lama karena Heaven tiba tiba kembali merebahkan badan dan memejamkan mata.
"Kak, kok tiduran lagi sih, kan belum make a wish?"
"Ngantuk."
Mayra menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis. Semua ini diluar ekspektasinya. Tadi siang dengan penuh semangat, dia membuat kue ulang tahun untuk Heaven. Dia sudah membayangkan jika malam ini, akan jadi malam istimewa bagi mereka. Menyanyi, tiup lilin, make a wish, lalu memakan kue itu bersama sama sambil bersenda gurau. Nyatanya, semua itu hanya ada dalam bayangannya semata.
Mayra membawa kue tersebut keluar dari kamar. Dengan langkah gontai, dia berjalan menuju meja makan lalu meletakkan kue tersebut diatas meja.
Sambil menangis, Mayra memotong kue ulang tahun buatannya. Menyuapi diri sendiri sambil membayangkan jika Heaven yang melakukannya.
__ADS_1
"Terimakasih Sayang, kue buatanmu sangat enak." Untuk mengurangi sesak didada, Mayra cosplay jadi Heaven dan memuji diri sendiri.
Hanya potongan kecil saja, tapi Mayra tak sanggup menghabiskannya. Saat ini, dia sama sekali tak ada selera untuk makan. Untuk mengunyah saja, mulutnya seperti susah untuk diajak bekerja sama. Mayra merebahkan kepalanya diatas meja. Menangis hingga dia ketiduran.
"Non, Non May." Mayra mengerjabkan mata saat mendengar suara Bi Denok membangunkannya. "Non May kok tidur disini?"
Mayra menegakkan kepala sambil membersihkan area mata dan mulut. "Ketiduran Bi."
Bi Denok melihat dengan jelas mata bengkak Mayra. Kemarin sedikit banyak, dia mendengar permasalahan keluarga ini. Dia kasihan sekali pada Mayra. Sejak kedatangan Mayra, rumah ini terasa makin hangat dan hidup. Dia hanya bisa berharap semoga rumah tangga Mayra dan Heaven akan baik baik saja.
"May ke kamar dulu ya Bi." Mayra beranjak dari duduknya lalu menuju kamar. Bukan hendak tidur kembali, melainkan mengambil testpack untuk mengetes kehamilan.
Dengan jantung berdebar, dia melakukan tes urin sesuai petunjuk. Setelah beberapa detik, air mata Mayra mengalir deras. Benda pipih ditangannya menunjukkan dua garis merah. Itu artinya, dia positif hamil.
Mayra mengusap perutnya yang masih rata. Bersyukur sekali karena Tuhan masih mau memberinya kepercayaan berupa benih yang ada dirahimnya. Dengan perasaan senang, Mayra memasukkan testpack tersebut kedalam kotak kecil yang berhiaskan pita. Dia letakkan kotak tersebut diatas nakas dekat Heaven yang masih tidur. Dia berharap Heaven akan kembali hangat padanya dan tak menuduhnya macam macam jika tahu dia hamil.
Urusan kado selesai, Mayra segera mandi lalu membantu Bi Denok menyiapkan sarapan. Tahu jika Heaven menyukai ikan salmon, dia membuat sandwich isi salmon untuk menu sarapan.
"Pagi Ma." Sapa Mayra saat Mama Mita masuk kedapur. Tak seperti biasanya yang langsung menyahuti dengan girang, kali ini mama Mita hanya diam saja. Dia mengecek sarapan lalu keluar dari dapur.
Setelah sarapan siap, Mayra kembali ke kamar untuk menyiapkan pakaian Heaven serta membantunya bersiap seperti biasanya. Sayangnya, saat dia masuk kekamar, Heaven sudah terlihat rapi, hanya tinggal memakai dasi.
__ADS_1
"Sini aku pakaiin Kak." Mayra mengambil dasi dari tangan Heaven lalu memasangkannya. Jika biasanya Heaven akan jahil dengan mencuri curi menciumnya, kali ini, pria itu hanya diam dengan tatapan dingin.
"Selesai," ujar Mayra sambil tersenyum lebar.
Tak ada ucapan terimakasih apalagi kecupan mesra seperti biasanya. Heaven berlalu dari hadapan Mayra, mengambil jam tangan lalu mengenakannya.
Mayra melihat kearah nakas, sepertinya Heaven belum membuka kado darinya.
"Kak, aku ada kado spesial buat Kakak." Mayra menunjuk kearah kotak berwarna biru diatas nakas.
"Hem." Hanya itu yang keluar dari mulut Heaven. Bukannya membuka kado dari Mayra, dia malah mengambil tas lalu keluar kamar.
Mayra menghela nafas lalu mengekor dibelakang Heaven. Dia pikir suaminya itu hendak kemeja makan, tapi ternyata dia salah, Heaven malah menuju pintu keluar.
"Kak Heaven gak sarapan dulu?"
"Aku sarapan dikantor saja. Ada meeting pagi."
"Ya udah, kalau gitu aku bekalkan saja buat Kakak ya." Mayra lari tergopoh gopoh menuju dapur. Memasukkan sandwich salmon buatannya kedalam kotak bekal lalu menyusul Heaven ke teras.
Tapi dia hanya bisa menelan kekecewaan saat melihat mobil Heaven baru saja keluar dari halaman.
__ADS_1