KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )

KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )
BALAS CUEKIN DIA


__ADS_3

Heaven melajukan mobilnya menuju rumah Mayra. Sejak tadi dia mencoba menelpon Mayra tapi ponselnya tidak aktif. Sepanjang jalan, Heaven tak bisa tenang. Dia takut kehilangan Mayra. Seharusnya dia paham hal ini sejak kemarin kemarin. Dia terlalu sibuk memikirkan apakah Mayra tak tulus padanya atau hanya ingin hartanya saja. Sampai-sampai dia lupa, jika sebenarnya, ketakutan terbesarnya bukanlah soal Mayra tulus atau tidak, melainkanq kehilangan Mayra. Dia sangat mencintai wanita itu.


Sesampainya didepan rumah Mayra, Heaven langsung turun. Dia mengucap salam didepan pintu yang terbuka setengah tersebut.


Bu Jamilah, matanya langsung melotot melihat kedatangan Heaven. Dikepalanya, seperti keluar tanduk yang siap untuk menyeruduk Heaven. "Ngapain kamu kesini?" tanyanya ketus.


"Ma-mau ketemu Mayra Bu." Tatapan tajam mertuanya membuat Heaven seketika gagap.


"Buat apa? nganter surat cerai?" Mata Heaven langsung terbeliak lebar. "Semalam, Mayra telepon sambil nangis nangis. Katanya kamu udah gak peduli lagi dengan dia. Dia sampai mohon mohon sama bapaknya supaya ngembaliin mobil kamu. Mobil sudah kami kembalikan, jadi mau apa lagi kamu kesini?"


"Sa-saya mau ngajak May pulang Bu."


Bu Jamilah tersenyum sinis. Menatap Heaven dari atas kebawah lalu keatas lagi.


"Buat apa Mayra disana. Toh disanapun, kehadirannya juga gak dianggap. Saya memberikan anak saya padamu untuk dijadikan istri, disayangi, dicintai, bukan dijadikan makhluk tak kasat mata. Yang meski ada disampingmu, seperti tak terlihat, kamu abaikan."


Heaven menelan ludahnya susah payah. Kayaknya membujuk Bu Jamilah akan lebih sulit dari membujuk Mayra. Mertua yang biasanya diam itu, ternyata lebih galak dari mamanya kalau lagi marah.


"Bo-bolehkah saya bertemu Mayra?"


"Dia gak mau ketemu kamu." Bu Jamilah mendorong Heaven hingga keluar lalu membanting pintu dengan kasar. Sampai sampai, hidung mancung Heaven terhantuk pintu. Untuk tulangnya tak patah.


Heaven berdecak pelan, mengambil ponsel lalu kembali menghubungi Mayra. Berkali kali dia mengumpat karena tak tersambung. Mungkin nomornya sudah diblokir oleh Mayra.


Heaven masuk kedalam mobil. Merenung disana sambil menunggu pintu rumah Mayra kembali terbuka. Untung-untung, jika Mayra sendiri yang buka.

__ADS_1


Sedangkan didalam kamar, Mayra bisa mendengar suara keras ibunya yang memaki Heaven. Tapi dia tak ada niatan keluar. Dia sudah lelah dengan suaminya itu. Mengaku cinta, tak bisa percaya. Dan tadi apa dia bilang? Mau ngajak pulang? Buat apa pulang, kalau disana cuma buat dicuekin doang.


"Apa dia udah pergi Bu?" tanya Mayra saat ibunya masuk ke kamar.


"Belum, mobilnya masih ada didepan. Udah jangan pikirin dia, biar kapok dia." Rasanya Bu Jamilah masih belum puas memaki Heaven. Ibu mana yang tak kesal jika putrinya datang datang menangis dan mengadu jika sudah seminggu lebih dicuekin suaminya.


Sebenarnya Mayra juga tak mau mengumbar masalah rumah tangga pada orang tuanya. Tapi saat ini dia sedang hamil. Dia tak mau terlalu stress. Jadi agar pikirannya lebih plong dan demi menjaga kewarasan, dia memilih bercerita pada ibunya. Dan Pak Sobri, sematre matrenya dia, tak tega juga kalau melihat putrinya menderita karena dia. Tak mau Mayra terus dituduh bersekongkol, pagi tadi, dia menyuruh orang untuk mengembalikan mobil Heaven.


Mayra berjalan menuju jendela, menyibak gorden untuk mengintip mobil Heaven. Ya, mobilnya masih ada dihalaman rumahnya.


"Udah, kamu istiraha, tidur. Jangan pikirin dia. Palingan gak lama lagi pergi," ujar Bu Jamilah.


.


.


Mayra mengeluarkan isi perutnya. Padahal dia baru makan sedikit malam ini, tapi semua yang dia makan kembali keluar.


Tak lagi berselera, Mayra tak melanjutkan makan. Dia kembali ke kamar karena merasa lemas. Sebelum naik keatas ranjang, Mayra mengintip dari balik gorden. Mobil Heaven masih ada dihalaman rumahnya.


"Jangan diintipin mulu." Ujar Bu Jamilah yang baru masuk kedalam kamar sambil membawa segelas teh hangat. "Ini diminum biar perutnya enak."


Mayra menerima teh hangat yang disodorkan ibunya lalu meminumnya. Dia kembali teringat Heaven. Apakah pria itu sudah makan?


"Bu, apa Kak Heaven gak dikasih makanan. Kasihan dia, takutnya belum makan dari siang."

__ADS_1


"Astaga May." Bu Jamilah langsung tepok jidat. "Ngapain kamu masih mikirin dia. Emang kemarin-kemarin, dia peduli kamu udah makan apa belum? Jadi wanita jangan lembek, jangan dikit dikit luluh. Kalau gini terus, si Hepen bisa makin besar kepala. Nanti kelakuan dia bakal lebih seenaknya lagi sama kamu karena yakin kamu bakal memaafkan apapun kesalahannya. Balas cuekin dia, biar dia kapok."


"Tapi Mayra hamil Bu. May gak mau anak May lahir tanpa ayah." Mata Mayra mulai berkaca-kaca.


Bu Jamilah menghela nafas lalu merangkul Mayra. "Ibu juga tidak pengen kamu pisah sama Heaven. Ibu cuma mau kamu ngasih pelajaran sama dia biar jera. Kita lihat dulu, seberapa besar usahanya buat minta maaf sama kamu. Seenggak enggaknya, kalau dia kuat bertahan diluar sana seminggu, baru kamu maafin."


"Seminggu Bu, apa gak kelamaan?"


"Heh, malah kalau bisa, sebulan lebih bagus."


"Kalau hujan gimana Bu, kan kasihan dia kedinginan diluar."


"Heh, mana ada hujan, sekarang musim kemarau. Keseringan nonton drama jadi kayak gini nih. Suka mendramatisir keadaan. Kamu pikir, setiap ada yang nunggu diluar buat minta maaf, mesti hujan, kayak adegan drama. Terus kalau gak gitu, pas diusir dari rumah, langsung turun hujan? Heleh, adegan kayak gitu udah basi, udah bisa ditebak."


Mayra kembali menyingkap gorden untuk mengintip Heaven. Bu jamilah yang geram, langsung menarik Mayra menjauh dari jendela.


"Ibu bilang jangan dilihatin mulu, masih aja ngenyel. Tunggu aja beberapa hari. Tapi kalau besok pagi mobilnya udah gak ada. Emang kebangetan laki kamu."


Bu Jamilah lalu mematikan lampu. Malam ini, dia menemani Mayra tidur. Dia tak mau Mayra semalaman malah gak tidur karena ngintipin Heaven dari balik gorden.


.


.


Pagi hari, saat baru bangun, Mayra langsung teringat Heaven. Segera dia turun dari ranjang untuk mengintip mobil Heaven.

__ADS_1


Dadanya seketika terasa nyeri. Mayra kecewa berat. Mobil Heaven sudah tidak ada dihalaman rumahnya. Ternyata cuma segitu usahanya.


__ADS_2