KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )

KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )
KE KANTOR


__ADS_3

Karena perasaan bersalahnya, Mayra memutuskan membuat makan siang untuk Heaven. Dan menu yang dia pilih, tentulah kesukaan pria itu, ayam bakar. Setelah selesai, dia menaruhnya beserta nasi serta lauk lainnya kedalam kotak bekal. Sedikit diberi hiasan agar lebih menarik.


"Buat siapa May?" tanya mama Mita yang baru memasuki dapur.


"Kak Heaven Mah." Sahut Mayra sembari menunjukkan bekal buatannya pada mama Mita. "Cantik gak Mah?"


"Cantik, tapi Heaven tidak suka."


Mata Mayra langsung terbeliak lebar mendengarnya. Apa ada yang salah dengan bekal buatannya?


"Ya kan Heaven sukanya sama kamu, hehehe." Lanjut mama Mita sambil nyengir.


"Mama bikin aku takut aja. Kirain ada apa dengan makanannya." Mayra bernafas lega. Dengan senyum yang kembali merekah, dia meraih tutup kotak bekal yang berada tak jauh darinya lalu segera menutupnya.


"Mau kamu anter sendiri apa kurir?"


"Anter sendiri. Kak Heaven sih maunya gitu."


Mama Mita tersenyum melihat perkembangan hubungan mereka. Dia berharap Heaven segera bisa mendapatkan Mayra seutuhnya, biar keluarga ini segera mendapatkan keturunan.


"Bagus itu, biar Heaven gak jajan diluar. Mama seneng liat kalian makin dekat. Harap-harap, bulan depan kamu sudah isi." Goda mama Mita sambil menyenggol lengan Mayra.


Mayra tersenyum kecut. Apa semua orang tua seperti itu, ngarep banget dapat cucu. Tadi pagi kedua orang tuanya, sekarang mama Kita. Semua orang seolah memaksanya untuk cepat hamil. Pantas saja diluar sana banyak wanita yang frustasi jika tak kunjung hamil.


"Tadi orang tua kamu kesini ya?"


Mayra mulai gelagapan saat ditanya tentang orang tuanya. Dia takut mama Mita marah jika tahu orang tuanya minta mobil.


"I, iya Mah. Tadi aku mau manggil Mama, tapi kata Bi Denok, mama lagi keluar."


"Iya, mama tadi pagi jogging. Biar bugar dan makin singset." Mama Mita memamerkan tubuh bahenolnya.

__ADS_1


Mayra hanya menanggapi dengan senyuman. Entahlah puber keberapa yang dialami mertuanya sekarang. Tapi yang pasti, wanita itu makin bersemangat tampil muda dan segar sejak menjalin hubungan dengan Rafa. Hari-harinya selalu dihabiskan untuk olahraga dan perawatan.


"Tumben mereka kemari pagi-pagi, ada keperluan apa?"


Mayra menelan ludahnya susah payah. Dia ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Kangen sama aku katanya Mah," Mayra terpaksa berbohong. Dia terlalu malu untuk mengakui ada hajat apa orangtuanya datang pagi-pagi.


"Ya sudah, udah mau jam makan siang, buruan siap-siap sana."


Mayra mengangguk lalu pergi menuju kamarnya. Syukurlah mama Mita tak banyak bertanya lagi tentang orang tuanya.


.


.


.


"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya seorang satpam yang menghampiri Mayra. "Mbaknya sepertinya bingung, ada keperluan apa atau mau bertemu siapa?"


"Emm...saya mau bertemu Pak Heaven."


"Pak Heaven?" satpam tersebut mengerutkan kening. Dia menatap Mayra dari atas kebawah. Rasa rasanya, dia tak pernah melihat wanita didepannya itu.


"Iya. Bisa tolong beritahu saya, dimana ruangannya?"


"Udah ada janji?"


"Saya istrinya."


"Istrinya?" Satpam tersebut kembali menatap Mayra dari atas kebawah. Semua disini tahu jika istri bos mereka bercadar. Jadi saat seorang wanita tanpa cadar mengaku sebagai istrinya, jelas sulit dipercaya.

__ADS_1


Mayra baru ingat jika dia tak memakai cadar. Jadi wajar jika satpam itu tampak bingung. "Saya Mayra, istrinya. Dulu saya memakai cadar, tapi sekarang tidak."


"Oh....pantesan," satpam itu manggut manggut. "Maaf ya Mbak, eh Bu. Saya tadi agak ragu."


"Tidak masalah Pak. Jadi, bisa beritahu saya, dimana ruangan Pak Heaven. Saya baru pertama kali kesini," sahut Mayra dengan sopan.


Satpam tersebut lalu memberitahu dimana ruangan Heaven. Dia bahkan menawarkan diri mau mengantar, tapi Mayra menolak karena tak mau merepotkan.


"Andai saja semua istri bos kayak gitu, gak mentang mentang, pasti hidup lebih damai." Gumam satpam tersebut sambil menatap punggung Mayra yang hilang ditelan lift.


Sementara 2 orang resepsionis yang daritadi memperhatikan Mayra langsung memanggil satpam tadi.


"Siapa wanita tadi Pak?" tanya Intan, salah satu resepsionis.


"Istrinya Pak Heaven."


"What, istrinya!" Pekik Nia dan Intan bersamaan.


"Jangan mudah dibohongi Pak. Istri Pak Heaven itu bercadar," ujar Intan.


"Dia tadi juga bilang begitu, katanya sekarang udah gak pakai cadar."


Nia dan Intan saling tatap. Dulu mereka memang pernah dengar gosip jika ada yang pernah melihat wajah Mayra ditoilet. Katanya, istri bos mereka memang sangat cantik. Tapi benarkah wanita yang tadi itu?


"Kenapa sekarang tak pakai cadar?" tanya Nia


"Ya mana saya tahu," sahut satpam sambil mengedikkan bahu.


"Liat aja, pertama tama buka cadar, lama lama buka hijab," sinis Intan.


"Kalian itu kenapa sih, ada orang buka cadar kok kalian yang sewot. Setahu saya, wajah itu bukan aurat. Jadi pakai cadar itu tidak wajib. Ngaku saja jika kalian itu ngiri sama bininya Pak Heaven yang lebih cantik," cibir Pak satpam.

__ADS_1


__ADS_2