KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )

KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )
PULANG KERUMAH


__ADS_3

Siang itu, Heaven langsung membawa Mayra pulang kerumah. Sebenarnya Pak Sobri menyuruh Heaven menginap disana. Tapi dia langsung menolak karena tak betah dirumah Mayra. Maklumlah, dia sudah terbiasa tinggal dirumah mewah dan hobi memerintah. Kalau dirumah mertua, mana bisa seperti itu.


Dalam perjalanan, Mayra tampak gelisah, seperti ada yang dia pikirkan.


"Kamu kenapa?" Tanya Heaven sambil meraih sebelah tangan Mayra lalu menggenggamnya.


"Emm....mama gimana? Dia masih marah gak sama aku?"


Heaven berdecak pelan. Ternyata gelisah dari tadi karena mikirin mama Mita. Tapi wajar juga sih. Heaven juga tahu jika beberapa hari kebelakangan ini, mama Mita terlihat dingin pada Mayra, bahkan kadang sampai menyindirnya.


"Nanti aku yang ngomong sama Mama. Lagiankan ada ini." Heaven melepas tangan Mayra lalu mengusap perut wanita itu. "Mana bisa Mama marah jika tahu ada cucunya diperut kamu. Udah jangan mikirin mama lagi. Aku gak mau kamu sampai stress. Masih pusing gak?"


"Sedikit."


"Ya udah mending dipakai tidur aja."


Mayra mengangguk pelan. Ya, lebih baik sekarang dia tidur saja, toh perjalanan masih jauh.


Sesampainya dirumah, Heaven tak tega membangunkan Mayra. Apalagi kondisi istrinya itu kurang baik, jadi dia putuskan untuk menggendongnya masuk. Tapi ketika Heaven mengangkat tubuh Mayra dari dalam mobil, tak sengaja kepalanya malah terhantuk pinggiran pintu.


"Aww." Mayra meringis sambil mengusap kepalanya.


"Astaga, maaf sayang." Karena kedua tangannya berada dipunggung dan lutut Mayra, Heaven tak bisa mengusap kepala yang kejedot barusan. Dan dengan konyolnya, dia malah meniup niup kepala Mayra.


Mayra tak bisa menahan tawanya diperlakukan seperti itu. "Kayak bayi aja, digendong sambil kepalanya ditiup."


"Bentar lagi jadi mommynya bayi. Jadi harus diperlakuan kayak bayi juga."


Mayra langsung tergelak mendengarnya. "Kak, turunin. Aku jalan aja."


"Yakin mau jalan? Udah gak pusing."


"Enggak."

__ADS_1


Akhirnya Heaven menurunkan Mayra saat mereka sudah ada diteras. "Mau mangga gak? Biar aku panjatin."


"Udah enggak," sahut Mayra sambil menggeleng.


"Terus ngidamnya apa dong sekarang?"


"Penthouse seharga 10M."


"Busyet!" Pekik Heaven sambil melotot.


Mayra sampai cekikikan melihat ekspresi suaminya. "Aku cuma becanda, gitu banget ekspresinya."


"Kirain beneran." Heaven bernafas lega sambil mengusap dadanya.


"Emang kalau beneran mau ngebeliin?" Mayra menatap Heaven sambil bergelayut dilengannya.


"Aku usahain." Heaven mengecup kening Mayra lalu menggandengnya masuk kedalam rumah. Saat hendak menaiki tangga, mereka berpapasan dengan mama Mita. Mayra reflek melepaskan tangan Heaven lalu menghampiri mama Mita dan mencium tangannya. Tapi ekspresi mama Mita hanya datar, membuat Mayra merasa jika kepulangannya tak diharapkan.


"Apaan?" Dari ekspresinya, Mama Mita terlihat kurang tertarik.


"May hamil Mah. Mama akan segera dapat cucu."


Mulut Mama Mita terbuka lebar dengan mata membulat sempurna. Dia lalu menoleh kearah Mayra dan fokus menatap perutnya yang masih datar. "Jadi disini ada cucunya Mama?" Dia meletakkan telapak tangannya diperut Mayra.


"Iya Mah," sahut Mayra.


Mama Mita langsung mengangkat kedua tangannya dan berucap syukur. Wajah yang tadinya lempeng, langsung berubah bersemangat. Sejak dulu, dia ingin sekali punya cucu. Heaven satu satunya anaknya. Tentu saja dia berharap jika Heaven segera memiliki keturunan. Dengan begitu, dia akan merasa tenang karena garis keturunan keluarga ini masih berlanjut, tidak berhenti pada Heaven.


"Nanti sore kita ke dokter kenalan Mama. Dia dokter yang bagus. Mama tak sabar pengen segera melihat cucu Mama."


Mayra senang sekali karena Mama Mita kembali peduli padanya. Dia sudah menganggap mama Mita seperti mamamya sendiri. Dicuekin wanita itu, membuat dia sangat sedih.


"Kita kekamar dulu Mah. Mayra butuh istirahat." Heaven menggandeng tangan Mayra, hendak mengajaknya naik keatas tapi ditahan oleh mama Mita.

__ADS_1


"Kalian harus pindah kamar. Naik turun tangga tidak baik untuk wanita hamil muda. Ajak Mayra istirahat dikamar tamu aja. Besok, mama akan nyuruh Bi Denok sama Neneng buat mindahin barang barang kalian kebawah."


"Yaudah kalau gitu mulai besok aja pindahnya. Barang barang kami masih ada dikamar atas. Entar malah capek bolak balik kalau mau ngambil sesuatu. Besok aja kalau semua barang udah dipindahin, kita pindah kekamar bawah."


Benar juga apa yang dikatakan Heaven. Akhirnya mama Mita membiarkan mereka naik keatas. Sesampainya dikamar, Heaven langsung fokus melihat kearah nakas. Dia mengambil kado dari Mayra. Dibukanya kotak kecil yang diikat dengan pita tersebut. Dia menatap nanar sebuah testpack ada didalamnya. Mata Heaven seketika memanas. Dia membayangkan Mayra, wanita itu pasti sedih sekali saat kado istimewanya malah disia siakan.


Heaven meletakkan kembali kotak kado diatas nakas. Menghampiri Mayra lalu memeluknya.


"Maaf, maafin aku." Dada Heaven terasa sesak. Rasa bersalah memenuhi seluruh relung hatinya.


Mayra melepaskan pelukan Heaven lalu menatap kedua matanya. "Bisakah aku minta sesuatu?"


"Apa?"


"Jika nanti kita ada masalah, jangan diamkan aku. Jangan bersikap dingin lagi, karena itu sangat menyakitkan."


"Maaf, maafkan aku May." Heaven menangkup kedua pipi Mayra lalu menghujani wajahnya dengan kecupan. "Apa kau mau sesuatu? Katakan, biar aku mengabulkannya."


Mayra meletakkan telunjuknya dikening, memikirkan kira kira apa yang ingin dia minta pada Heaven. Hingga akhirnya, lampu pijar diotaknya menyala. Dia punya ide untuk mengerjai Heaven.


"Aku mau makan."


"Makan? Dimana, direstoran mewah? Candle light dinner?"


Mayra menggeleng cepat. "Aku mau makan masakan Kakak."


Mata Heaven langsung melotot dan mulutnya terbuka lebar. Memasak? Nyalain kompor saja belum tentu bisa. Dia kaya sejak kecil, mana pernah yang namanya memasak. Melihat Mayra yang senyum senyum, dia yakin jika istrinya itu sengaja mengerjainya. "Kamu mau ngerjain aku?"


"Huft." Mayra membuang nafas kasar. "Tadi bilangnya mau mengabulkan apapun. Padahal cuma mau dimasakin telur mata sapi aja, tapi gak mau." Dia memasang wajah semenyedihkan mungkin. "Sepertinya papa gak sayang sama kita." Mayra mengusap perutnya.


"Heis, jangan bicara seperti itu. Baiklah aku akan masak untuk kalian. Telur mata sapi sajakan?"


Mayra langsung mengangguk dengan wajah penuh semangat. Dia yakin, untuk pria sekelas Heaven, memasak telur mata sapi pasti tidak mudah. Mengerjai sedikit tak dosakan? Hitung hitung balas dendam dikit.

__ADS_1


__ADS_2