
"Gini nak Heaven, saudara dikampung ada yang lagi bikin hajatan. Em....rencananya, bapak mau pinjam mobil. Gak lama kok, buat seminggu saja."
Mayra menghela nafas, ternyata yang di takutkan sungguh terjadi, bapaknya datang karena ada maunya.
"Boleh Pak, jangankan seminggu, sebulan juga boleh," sahut Heaven. Tak terlihat raut keberatan sama sekali diwajahnya.
"Nanggung, kenapa gak sekalian dikasihkan aja."
"BAPAK!" Pekik Mayra tertahan. Dia tak mengira bapaknya bisa bicara seperti itu. Dia merasa sangat malu pada Heaven. Kalau seperti ini, apa bedanya dia dengan Rafa? "Bapak hanya becanda kok Kak."
"Ya kalau nak Heaven mau benaran ngasih, ya Bapak terima. Mana mungkin rejeki ditolak."
Mayra benar-benar tak punya muka didepan Heaven. Dulu, dia memang pernah menguras isi atm Heaven untuk shopping dan perawatan. Tapi itu karena dia sangat kesal. Lagi pula, sudah kewajiban Heaven untuk menafkahinya. Tapi jika sampai orang tuanya minta mobil, menurutnya ini sudah keterlaluan.
Heaven awalnya ingin meminjamkan mobil milik alm papanya. Tapi jika diminta, dia tak akan memberikan yang itu.
"Kalau begitu, nanti Heaven belikan yang baru buat Bapak. Besok saya pastikan sudah diantar kerumah."
__ADS_1
Mata Pak Sobri seperti mau keluar dari tempatnya. Awalnya niat pinjam, eh malah dikasih. Padahal dikasih bekas juga gak masalah, ini malah mau dibelikan yang baru. Tak kerkira girangnya pria itu.
Mayra menggeleng cepat. "Gak usah Kak."
"Kok gak usah sih May?" Pak Sobri terlihat kesal.
"Udahlah sayang, aku gak keberatan kok."
"Tapi aku yang ke_" Heaven meletakkan telunjuknya didepan bibir Mayra. "Orang tua kamu orang tua aku juga. Udah, gak usah diperpanjang lagi."
Pak Sobri rasanya ingin teriak yesss sekencang kencangnya. Dia tak menyangka jika semudah ini minta mobil pada Heaven. Rasanya rugi selaman dia tak bisa tidur karena gelisah memikirkan bagaimana cara bicara pada Heaven. Sebenarnya dia takut juga kalau Heaven keberatan. Tapi ternyata, jalannya malah semulus ini.
Berbanding terbalik dengan Mayra, dia merasa tak enak hati pada Heaven.
"Maafin Bapak aku ya Kak." Ujar Mayra saat mengantar Heaven yang mau berangkat kerja. "Kalau Kakak keberatan, gak usah dibeliin."
"Aku gak keberatan kok. Udah, gak usah terlalu dipikiran, hanya mobil, bukan masalah besar," Heaven tersenyum sambil mengusap rambut panjang Mayra.
__ADS_1
"Makasih banget ya Kak."
"Makasih doang?"
"Maksudnya?" Mayra langsung mengerutkan kening. Jangan bilang jika Heaven ada maksud terselubung dibalik kebaikannya membelikan mobil.
"Ya kali aja kamu mau ngasih sesuatu sebagai ucapan terimaksih. Em...boleh gak kalau aku minta sesuatu?"
Mayra yang awalnya merasa tak enak karena kebaikan Heaven, sekarang malah berubah kesal. Ternyata pria itu ada maksud tersembunyi. Dia tidak tulus memberi, tapi karena mau minta imbalan. Mayra jadi kepikiran tentang hal yang paling diinginkan Heaven saat ini.
"Jangan bilang kalau Kakak ingin minta hak kakak diatas ranjang sebagai imbalan? Kupikir tulus, ternyata modus," sinisnya.
Heaven tersenyum mendengar tuduhan Mayra. "Apa aku seburuk itu dimatamu? Tapi wajar juga sih, selama ini aku memang memperlakukanmu dengan buruk. Udah jangan marah." Heaven menarik kedua pipi Mayra agar wanita itu melengkungkan senyum. "Aku gak jadi minta apa-apa."
"Bagus kalau sadar diri," celetuk Mayra.
"Padahal aku cuma mau kamu bikinin makan siang dan anter ke kantor." Mayra terkejut mendengarnya. Sepertinya dia sudah salah sangka duluan pada Heaven. "Ya sudah, aku berangkat kerja dulu." Heaven mengambil tasnya yang dibawa Mayra lalu berjalan menuju mobil.
__ADS_1
Sedangkan Mayra, dia masih mematung ditempatnya, merasa bersalah sekaligus malu karena sudah menuduh Heaven yang tidak tidak.