KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )

KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )
PENCURI TAMPAN


__ADS_3

Plugh


Ayam bakar yang ada ditangan Fano jatuh karena tangan pria tersebut gemetaran.


Heaven menatap nanar ayam kesukaanya yang mendarat sempurna dilantai. Dengan wajah memerah dan nafas memburu, dia menaikkan pandangannya. Menatap 3 orang perusuh yang telah mengambil haknya.


"Kalian tahu milik siapa yang kalian barusan makan?" tanya Heaven dengan suara berat.


Sony tak bisa menjawab, dia mengurut lehernya yang terasa sakit karena tersedak, sedang Isabel dan Fano merasa lidahnya kelu dan badanya gemetaran.


"JAWAB!" bentak Heaven dengan mata melotot tajam. Tak hanya ke-3 orang itu saja yang kaget, tapi Tirta dan Mayra juga ikutan kaget.


"Ma, ma, ma.." Hanya itu kata yang keluar dari bibir Fano yang gemetaran.


"Maafkan kami Pak. Kami akan menggantinya," ujar Isabel sambil menunduk. Dia sama sekali tak berani menatap wajah Heaven. Semua orang dikantor ini tahu, seperti apa galaknya Heaven.


"Ganti? Kalian pikir makanan itu bisa dibeli diwarung?" Heaven memegang tangan Mayra lalu menunjukkan pada ketiga orang tersebut. "Makanan itu dibuat dengan tangan istriku, bukan makanan sembarangan. Sekarang katakan, bagaimana kalian akan menggantinya?"


Mayra kasihan melihat ketiga orang itu. Mereka memang salah, tapi tetap saja dia tak tega melihat mereka dimarahi habis habisan. Begitupun dengan Tirta, tapi sayangnya dia tak bisa membantu apa apa.


"Apa kalian tak mengerti apa itu adab? Mengambil hak milik orang lain tanpa izin, sama saja dengan mencuri. Kalian sudah keterlaluan. Sepertinya kalian pantas dipe_"


"JANGANNNNN..." Teriak Isabel, Fano dan Sony kompak. Wajah mereka terlihat pucat pasi. Tak menyangka jika dibalik ayam bakar yang lezat itu, tersembunyi malapetaka.


"Sudahlah," Mayra mencoba menengkan Heaven yang sedang marah. Dia mengusap lengannya agar emosinya bisa turun. "Aku bisa memasakkan lagi untukmu."


Ketiga orang itu langsung menatap Mayra. Memohon melalui tatapan mata agar wanita itu bersedia membujuk Heaven agar tidak memecat mereka.


"Tapi sayang, kau sudah capek-capek masak. Tapi mereka_" Heaven tak sanggup melanjutkan kata katanya. Dia menatap tajam ketiga orang yang masih menunggu kelangsungan hidup mereka diperusahaan ini.


"Tidak masalah. Anggap saja rezeki mereka. Em....gimana kalau kita makan diluar saja siang ini. Mendadak aku teringin makan pizza." Mayra menatap Heaven sambil tersenyum. Dan senyum yang teramat manis itu, mampu meredam emosi Heaven. Rahang yang tadinya mengeras, sekarang sudah berubah, sudah terlihat senyum dibibirnya.


"Minta maaf dan berterimakasihlah pada istriku. Kalau bukan karena dia, aku tidak akan memaafkan kalian."

__ADS_1


Ketiga orang itu langsung berebut mendekati Mayra.


"Sekali lagi maafkan kami Bu," Soni hendak meraih tangan Mayra tapi lebih dulu ditepis oleh Heaven.


"Mau apa kamu?" bentak Heaven.


"Bu, bukannya Bapak menyuruh kami minta maaf dan mengucapkan terimakasih?"


Heaven berdecak kesal. "Hanya meminta maaf dan berterimakasih, bukan mencari kesempatan untuk memegang tangannya," tekan Heaven.


"Ma, maaf Bu." Sony langsung menunduk makin dalam. Antara takut dan malu.


"Ayo kita pergi." Heaven menarik tangan Mayra menuju ruangannya. Sebelum keluar, dia harus mengambil kunci mobil yang ada diruangannya.


Ketiga orang itu langsung bernafas lega. Beberapa menit yang lalu, hampir saja status mereka berubah menjadi pengangguran.


Tirta menghela nafas sambil geleng geleng melihat teman temannya. Mungkin ini bisa buat pelajaran bagi mereka. Agar lain kali, tak bertindak sesuka hati.


"Tadi aku sudah bilang kalau itu milik Pak Heaven, tapi kalian tak mau dengar."


"Mauku juga seperti itu," celetuk Tirta.


"APA?" pekik Isabel, Sony dan Fano sambil melotot menatap Tirta.


Sial, kenapa mulut ini pakai keceplosan sih.


"A, aku mau makan siang." Tirta buru-buru kabur daripada dicecar pertanyaan oleh teman temannya. Jangan sampai teman-temannya tahu kalau dia menyukai Mayra.


.


Sementara diruangan Heaven, Mayra terus terusan berdecak kagum melihat betapa bagusnya ruangan itu. Luas dan mewah, sungguh ruangan yang terasa sangat nyaman.


"Bagus sekali ruangan Kakak," puji Mayra.

__ADS_1


"Kau suka?"


"Hem." Mayra mengangguk cepat.


"Kalau begitu, datanglah setiap hari kesini."


Mayra langsung memutar kedua bola matanya malas. Meski suka ruangan ini, dia sama sekali tak berminat kesini setiap hari.


Setelah membereskan meja, menyimpan barang barang yang penting dan mengambil kunci mobil, Heaven kembali mendekati Mayra.


"Ayo," Ditariknya tangan Mayra lalu melingkarkan dilengannya


"Harus kayak gini?" Mayra menatap tangannya yang melingkar sempurna dilengan Heaven.


"Biar semua orang tahu kalau kamu istriku."


"Bukan pembantu?" ledek Mayra.


"May," Heaven memutar kedua bola matanya malas. "Aku sedang butuh makan, bukan butuh disindir."


Mayra menyebikkan bibir.


Cup


Mata Mayra membeliak lebar saat Heaven tiba tiba mendaratkan kecupan dibibirnya.


"Kondisikan bibir kamu agar selalu tersenyum didepan karyawanku. Kalau tidak, aku akan menciummu." Ancam Heaven sambil menahan tawa.


"Ish, suka banget nyuri kesempatan." Mayra yang kesal langsung memelototi Heaven.


"Karena kalau minta izin, pasti gak dikasih. Ya udah aku curi aja," sahut Heaven sambil tertawa ringan. Sama sekali tak merasa bersalah.


"Dasar pencuri."

__ADS_1


"Pencuri tampan," celetuk Heaven sambil menarik sebelah alisnya.


__ADS_2