
Mayra tak bisa menikmati pizzanya. Tatapan Heaven sungguh membuat jantungnya berdegup tak karuan.
"Berhenti menatapku seperti itu Kak," Mayra benar benar tak tahan lagi. Dia hanya ingin makan dengan tenang, tanpa ditatap seperti itu.
"Ok, ok. Kalau begitu segera selesaikan makanmu. Setelah ini kita ke showroom."
"Ngapain?"
"Beli cendol," celetuk Heaven.
"Ya elah, gitu aja marah."
Heaven menghela nafas, mengambil sepotong pizza lalu menyodorkan kedepan mulut Mayra. Mayra langsung membuka mulut, menerima suapan dari Heaven. Karena kalau menolakpun, Heaven pasti akan memaksa.
"Bukan marah sayang. Aku hanya becanda. Kita beliin mobil buat bapak."
Mayra seketika berhenti mengunyah. Sumpah demi apapun, dia sangat malu jika ingat kejadian tadi pagi. Saat bapaknya dengan tak tahu diri meminta mobil pada Heaven.
"Aku tak keberatan, jangan dipikirkan." Heaven tahu apa yang dipikirkan Mayra. "Apa kau juga mau aku belikan mobil?"
Mayra seketika menggeleng.
"Kenapa?"
"Aku tak bisa menyetir mobil."
"Kan bisa belajar Sayang. Nanti aku ajarin kamu."
"Apa itu tidak merepotkan Kakak?"
"Lebih baik repot daripada kamu harus les mengemudi. Aku tak rela kamu berduaan dengan trainer didalam mobil."
Mayra langsung tergelak. Alasan seperti apa itu? Sangat membagongkan, tidak masuk akal. Cemburu yang tidak pada tempatnya.
Selesai makan, Mayra minta izin ketoilet.
"Mau aku antar?"
__ADS_1
"Kak Heaven!" Pekik Mayra tertahan sambil melotot. Emang dia anak kecil, ke toilet saja harus diantar. Lama lama sikap Heaven membuatnya kesal.
"Iya, iya." Heaven terkekeh pelan. "Hanya becanda Sayang, silakan pergi."
Mayra membuang nafas kasar lalu pergi ketoilet. Seperti wanita lain pada umumnya, ketoilet hanya untuk merapikan penampilan. Kembali memoles lipstik yang sedikit hilang karena makan. Dan touch up wajah yang mulai tampak berminyak. Setelah penampilannya kembali segar, Mayra hendak kembali ke tempat duduknya. Tapi belum sampai ditempat Heaven, ada seseorang yang memanggil.
"Kamu May kan, Mayra?" Seorang pria berpakaian waiter menatap Mayra dari atas kebawah. Mayra sampai menahan tawa melihatnya. Bisa bisanya Dimas, teman SMA nya dulu hampir tak mengenali. Padahal baru 3 tahun yang lalu mereka lulus.
"Ya iyalah Dim, siapa lagi? Aku gak punya kembaran kali," sahut Mayra sambil tersenyum.
"Gila, kamu makin cantik aja May. Sumpah, aku hampir gak ngenalin kamu."
"Masak sih? Kamu terlalu memuji kayaknya." Mayra menepuk pelan lengan Dimas. Sesuatu yang biasa merek lakukan saat masih sekolah dulu.
"Beneran." Dimas sampai geleng geleng.
Dari tempatnya duduk, Heaven bisa melihat interaksi antara Mayra dan seorang waiter laki laki. Dadanya bergemuruh melihat keduanya yang tampak akrab, ketawa ketiwi tanpa rasa canggung. Dan apa tadi, dia tak salah lihatkan, Mayra menepuk lengan pria itu?
Heaven berdecak lalu bangkit. Ditambah lagi pria itu dengan santainya memegang bahu Mayra, makin bertambah saja emosinya. Dengan langkah lebar, dia menghampiri keduanya yang masih tampak asyik mengobrol.
"Dia tidak akan datang." Heaven menyahuti dengan suaran lantang. Dia menarik Mayra mendekat dan langsung melingkarkan lengan dipinggang rampingnya.
"Dia siapa May?"
"Saya suaminya." Heaven lalu menarik Mayra pergi dari sana.
"Aku pergi dulu Dim," seru Mayra sambil menoleh. Sungkan juga pergi begitu saja tanpa berpamitan. Apalagi mereka termasuk lumayan akrab dulu, teman satu kelas dan duduknya depan belakang.
Heaven langsung menatap Mayra tajam melihat istrinya itu malah menyempatkan diri berpamitan. Mendapat tatapan seperti itu, Mayra langsung menunduk, dia tahu jika Heaven sedang marah.
"Aku tidak suka kau terlalu dekat dengan pria." Ucap Heaven saat mereka sudah sampai didalam mobil.
"Dia itu temanku Kak, teman SMA."
"Tetap saja aku tidak suka."
"Ya tapi Kakak jangan berlebihan kayak tadi dong. Masa iya aku disapa teman lama diam saja. Bisa bisa aku dikira sombong."
__ADS_1
Heaven menatap Mayra tajam, dan kalau sudah seperti itu, lidah Mayra seketika kelu. Dia hanya bisa menunduk dalam sambil meremat jemarinya.
"Aku tak masalah jika kau menjawab sapaannya. Tapi kalian lebih dari itu."
Lebih? Apanya yang lebih? Mayra bahkan merasa biasa saja tadi. Dia hendak protes tapi Heaven lebih dulu kembali bicara.
"Kau diam saja saat dia menyentuhmu. Kenapa kau tak menepis tangannya yang ada dibahumu. Ingat May, kau bukan lagi wanita single, kau sudah bersuami."
Mayra tak mengira jika semua kejadian tadi tak luput dari perhatian Heaven. Dulu, saat sekolah, mungkin sentuhan seperti tadi terasa biasa. Tapi benar kata Heaven, sekarang statusnya istri, harusnya dia lebih bisa menjaga sikap.
"Maaf," akhirnya kata itu keluar dari bibir Mayra.
Heaven diam saja tak menanggapi. Sebenarnya dia tak terlalu marah tadi. Tapi karena Mayra yang malah merasa tak bersalah, dia jadi kesal.
Rencana ke showroom gagal, Heaven melajukan mobilnya menuju rumah. Biarlah urusan mobil, dia meminta asistennya untuk mengurus itu.
Sesampainya dirumah, Heaven tak lagi semanis tadi. Tak membukakan pintu dan malah masuk lebih dulu meninggalkan Mayra.
"His, mengerikan sekali kalau marah." Mayra berjalan cepat mengekor dibelakang Heaven.
"Maaf," Mayra kembali mengatakan itu saat keduanya sudah berada didalam kamar. Heaven terlihat acuh, mengambil baju dari dalam almari lalu melepas satu persatu kancing kemejanya.
"Kak Heaven," Mayra menarik lengan Heaven karena kesal tak ditanggapi. "Maaf, maafin aku. Janji gak kayak tadi lagi."
Tapi tetap saja, Heaven tak menggubrisnya. Sampai sampai, Mayra bingung harus meminta maaf seperti apa.
Cup
Dan akhirnya, jurus terakhir yang dipakai Mayra adalah mencium bibir Heaven.
Heaven terpaku ditempat. Dia menyentuh bibirnya yang baru saja dicium Mayra. "Kau menggodaku?"
"Eng, eng, enggak." Mayra hendak kabur tapi Heaven lebih dulu menahan pinggangnya.
"Kau harus tanggung jawab karena menggodaku."
Jantung Mayra makin berdebar saat Heaven mendekatkan wajah mereka. Dia bisa merasakan sapuan nafas Heaven diwajahnya. Darahnya berdesir hebat, dan seluruh sendinya mendadak terasa lemas.
__ADS_1