
"Yang itu Mang, ambil yang gede itu." Mayra menujuk mangga yang agak jauh dari jangkauan Mang Gimin. Si satpam yang sedang ada diatas pohon, jelas kesulitan.
"Susah Non, yang ini saja ya?" Mang Gimin menawarkan mangga yang dekat dengan posisinya berdiri. Takutnya dia malah jatuh kalau mengambil yang lebih tinggi lagi. Sekarang saja, kakinya sudah terasa ngejer dan jantungnya jedag jedug.
Saat ini, mereka sedang ada dihalaman rumah. Didepan rumah Heaven memang ada pohon mangga yang lumayan lebat buahnya.
"Tapi saya maunya yang itu Mang." Mayra kekeh minta mangga yang ukuranya paling besar.
Bi Denok yang berdiri disamping Mayra hanya bisa tersenyum sambil geleng geleng. Ngidamnya orang hamil memang suka aneh aneh, batinnya. Ya, dirumah itu, hanya Bi Denok saja yang tahu jika Mayra hamil.
Disaat Mang Gimin masih berusaha meraih mangga yang diinginkan Mayra, mobil Heaven memasuki halaman. Pria itu baru pulang dari kerja.
Mata Mayra langsung berbinar. Segera dia berjalan cepat menyambut suaminya. Dia langsung mencium punggung tangan Heaven begitu pria itu keluar dari mobil.
"Kak, ambilin aku mangga dong," Mayra tersenyum sambil bergelayut dilengan Heaven.
"Aku capek," sahut Heaven dingin.
"Please." Mayra melepaskan lengan Heaven lalu mengatupkan kedua telapak tangan didada. Terlihat sekali raut penuh pengharapan diwajahnya. "Mau ya, aku pengen banget."
Heaven menghela nafas berat. "Apa kau tak lihat, aku baru pulang kerja?" Nada suara yang sedikit tinggi itu membuat Mayra langsung menunduk.
"Maaf."
Heaven berdecak sebal lalu meninggalkan Mayra begitu saja.
__ADS_1
Sudah seminggu ini Heaven bersikap dingin pada Mayra. Dia tak pernah bicara dan hanya menjawab singkat setiap pertanyaan Mayra. Bahkan kado ulang tahun dari Mayra, tidak pernah Heaven buka. Mungkin saja garis merahnya sudah hilang karena terlalu lama.
Demikianpun dengan mama Mita. Wanita itu tak seramah biasanya. Jika dulu dia merasa dianggap anak sendiri, saat ini dia merasa seperti orang asing. Bahkan kadang, mama Mita menyindirkan, menyamakannya dengan Rafa.
"Non dapat Non." Teriak Pak Gimin dari atas pohon. Dia menunjukkan mangga besar yang diinginkan Mayra sambil tersenyum lebar. Tapi bukannya senang, Mayra justru terlihat murung.
"Lempar Min," teriak Bi Denok yang ada dibawah.
Mang Gimin, melemparkan mangga tersebut kearah Bi Denok lalu turun.
"Makasih ya Mang." Mayra merogoh saku dasternya. Mengeluarkan uang seratus ribu dan memberikannya pada Mang Gimin.
"Walah Non, saya ikhlas. Gak usah dikasih ginian."
"Saya juga ikhlas kok Mang."
"Makasih Non." Mang Gimin terlihat sangat girang. Dia lalu kembali ke pos satpam.
"Mangga ini akan langsung bibi sulap jadi manisan sesuai yang Non May mau," Bi Denok tampak bersemangat.
"Gak usah Bi. May udah gak pengen. Buat Bibi aja mangganya." Mayra masuk kedalam rumah setelah mengatakan itu.
Bi Denok langsung melongo. Bukankah tadi Mayra ngebet banget pengen manisan mangga. Kenapa cepat sekali keinginannya berubah? Meski dia tak mendengar obrolan Mayra dan Heaven barusan, tapi dia yakin mood Mayra rusak pasti gara gara suaminya itu.
.
__ADS_1
Meksi sudah seminggu lebih dicuekin, tapi Mayra belum mau menyerah. Dia masih ingin mengambil hati Heaven agar pria itu kembali hangat.
Seperti malam ini, Mayra sudah mengenakan lingerie warna merah menyala untuk menarik perhatian Heaven. Dari artikel yang dia baca, cara untuk membuat suami istri yang bertengkar agar segera baikan, salah satunya dengan sekkks. Dia mendekati Heaven yang terlihat sibuk dengan laptop dipangkuannya.
"Kak," Mayra berbisik didekat telinga Heaven. "Malam jumat." Persetan dengan harga diri. Bukankah pahalanya besar jika istri mengajak duluan.
"Aku sibuk May." Sahut Heaven datar. Pria itu bahkan sama sekali tak menoleh kearah Mayra. Padahal Mayra sudah pakai lingeri, lipstik merah merona dan mandi parfum, tapi tetap saja tak bisa menarik perhatian Heaven.
Mata Mayra berkaca kaca. "Apa aku sudah tidak menarik?" Pertanyaan itu reflek meluncur dari bibirnya.
Heaven membuang nafas berat lalu menoleh kearah Mayra. "Apa kau tidak lihat, aku sedang sibuk." Heaven sedikit meninggikan suaranya.
Mayra menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Lelah juga terus terusan diperlakukan seperti ini. Dia seperti hidup sendirian dirumah ini.
"Kalau Kakak memang sudah tak menginginkanku, kembalikan aku pada orang tuaku."
Deg
Heaven tak menyangka jika akan keluar kalimat seperti itu dari bibir Mayra.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" Rahang Heaven terlihat mengeras dan wajahnya memerah. Tampak sekali kalau dia sedang marah."Jadi benarkan, kau menikahiku hanya karena hartaku saja. Buktinya setelah kau dan orang tuamu mendapatkan banyak uang dariku, kau langsung minta pisah."
"Aku tidak minta pisah." Ujar Mayra datar. "Aku hanya lelah, lelah tak dianggap ada seperti ini. Berapa kali aku harus menjelaskan jika aku tak ada sangkut pautnya dengan Bapak. Tapi sampai mulutku berbusa, Kakak tidak percaya juga."
"Aku hanya butuh waktu May. Aku butuh waktu untuk meyakinkan diriku sendiri jika kau tak terlibat dengan rencana orang tuamu. Jika kau tak hanya menginginkan hartaku, tapi sungguh sungguh mencintaiku."
__ADS_1
"Sampai kapan?" Mayra tersenyum getir. "Aku bisa tahan saat Kakak memanggilku jelek, menghinaku, bahkan menyebutku pembantu. Tapi aku tak bisa tahan jika harus bersuamikan patung," tekan Mayra. Dia lalu turun dari ranjang, berjalan menuju almari untuk mengambil baju ganti dari sana. "Aku tidur dikamar tamu." Mayra langsung keluar setelah mengatakan itu.