
Pagi-pagi, Mayra sudah dikejutkan dengan kedatangan kedua orang tuanya. Ini untuk kedua kalinya mereka datang setelah Mayra menikah dengan Heaven. Mayra memang melarang mereka datang karena tak mau mereka sampai tahu seperti apa Heaven memperlakukannya.
"Kenapa gak bilang May dulu kalau mau kesini?"
"Memangnya kenapa? Masa bapak harus izin dulu kalau mau mengunjungi rumah anaknya?" Pak Sobri sedikit tersinggung dengan kalimat Mayra berusan. Dia memang sengaja databf tanpa memberi tahu, karen kalau bilang dulu, pasti dilarang oleh Mayra. "Lagian kamu jangan lupa May, yang bikin kamu bisa nikah sama Heaven dan hidup enak itu bapak."
Karena jodoh kali, bukan karena bapak.
Mayra hanya berani mengatakan itu dalam hati.
"Mana Heaven?" tanya Pak Sobri sambil celingukan melihat kearah dalam.
"Ngapain Bapak nyariin Kak Heaven?"
"Banyak nanya kamu. Udah panggilin dia," titahnya.
Mayra menghela nafas berat. "Bapak sama Ibu itu kesini mau nemui May apa kak Heaven sih?"
"Ya elah May, ya kalian berdualah."
Mayra merasa ada yang tidak beres. Dia tahu seperti apa sifat bapaknya. Semog saja tak ada udang dibalik rempeyek atas kedatangan mereka pagi ini.
Disaat bersamaan, muncul bi Denok sambil membawa nampan berisi minuman.
"Monggo minumannya," ujarnya sambil meletakkan teh hangat didepan kedua orang tua May.
"Bik, Heaven ada dirumah gak? Bisa tolong panggilkan."
"Bapak!" Desis Mayra sambil melotot. Kalau ngebet seperti ini, dia semakin yakin bapaknya ada maunya.
__ADS_1
"Ada Pak, sebentar saya panggilkan." Bi Denok kemudian kembali kebelakang untuk memanggil Heaven.
"Kamu itu kenapa sih May, takut banget bapak ketemu suami kamu?"
Mayra tak menjawab, dia hanya membuang nafas berat. Dia lalu menatap kearah Bu Jamilah yang sejak tadi hanya diam.
"Sebenarnya ada apa sih Bu?"
"Udah, nanti kamu juga tahu," pak Sobri yang menjawab. Dia tak memberi peluang sama sekali untuk bu Jamilah bersuara.
Beberapa saat kemudian, Heaven muncul dari dalam lalu menyalami kedua mertuanya. Pria itu sudah rapi dengan pakaian kerja karena sebentar lagi mau berangkat ke kantor.
"Kamu kok gak langsung manggil aku sih May, saat orang tua kamu datang?" tanya Heaven sambil duduk disebelah Mayra. Dia menggenggam tangan Mayra lalu meletakkan dipangkuannya. Melihat itu, Pak Sobri dan Bu Jamilah langsung tersenyum. Orang tua mana yang tak bahagia saat melihat anaknya diperlakukan sangat manis oleh suaminya. Apalagi jika ingat pernikahan mereka karena paksaan, bukan karena cinta.
"Gak usah nyari kesempatan," bisik Mayra. Didepan orang tuanya seperti ini, mana bisa Mayra menarik tangannya dari genggaman Heaven.
"Wah...bapak seneng sekali lihat kalian bahagia seperti ini," ujar Pak Sobri.
Bu Jamilah sampai malu sendiri melihat kemesraan mereka. Sudah 3 bulan mereka menikah, Bu Jamilah jadi penasaran apakah cucunya sudah loading. "Udah isi belum?" tanyanya.
"Isi? Isi apa Bu? Ibu minta May isiin pulsa ya tadi?"
Pak Sobri dan Bu Jamilah kompak menepuk jidat mendengar jawaban Mayra.
Heaven menahan tawanya. "Maksud ibu, kamu udah hamil belum sayang?"
Mayra langsung melongo mendengar penjelasan Heaven.
"Maaf ya nak Heaven, anak bapak ini terlalu polos," Pak Sobri memelototi Mayra yang menurutnya memalukan.
__ADS_1
"Justru yang polos gini yang bikin saya makin jatuh hati," sahut Heaven sambil menoleh kearah Mayra. Tapi yang ditoleh malah menyebikkan bibir dan memutar bola matanya jengah.
"Gimana May, udah hamil belum?" Bu Jamilah kembali bertanya.
"Belum Bu," jawab Mayra sambil menggeleng.
Tampak raut kecewa diwajah kedua orang tua Mayra terutama Pak Sobri. Dia ingin Mayra segera memiliki anak yang kelak bisa mewarisi harta Heaven.
"Eh Bu, mending ajak May ke Mbok Nem aja," saran Pak Sobri sambil menoleh kearah istrinya.
"Ngapain Pak?" Mayra mengernyit bingung.
"Biar kamu cepet hamil. Kali aja posisi perut kamu kurang pas, jadi susah hamil. Biasanya yang datang kesana, setelah dipijat, bulan depannya bisa langsung hamil. Lebih baik kamu kesana sama ibumu. Siapa tahu bulan depan sudah isi."
"Gimana mau isi Pak, kalau_"
Mayra membekap mulut Heaven sebelum pria itu buka suara. Dia tak mau orang tuanya tahu jika sebab dia tak kunjung hamil karena masih perawan hingga saat ini.
"Kalau apa?" tanya Bu Jamilah.
"Kalau belum waktunya dikasih," jawab Mayra cepat. Dia memelototi Heaven agar tak kembali berencana buka rahasia.
"Ya itu artinya, kamu harus makin getol usahanya," celetuk Pak Sobri.
"May gak mau diajak u_, aduh..." pekik Heaven saat Mayra mencubit pahanya. Pak Sobri dan Bu Jamilah sampai melotot menatap kelakuan dua sejoli itu.
"Sayang." Mayra tersenyum sambil mengusap bekas cubitannya dipaha Heaven. "Gak usah cerita soal pribadi, malu sama Bapak Ibu," lanjutnya sambil pura-pura malu malu kucing.
"Astaga, Bapak sampai lupa tujuan utama bapak kesini tadi."
__ADS_1
Tujuan utama, Mayra mendadak mencium bau bau kurang menyenangkan. Dia hanya bisa berdoa agar bapaknya tak bikin ulah.