
Heaven bergeming. Hamil? Hana tidak sedang becandakan?
"Kamu hamil Sayang?"
Mayra tak menjawab, dia sibuk membersihkan mulutnya. Kepalanya terasa sangat pusing dan pandangannya berkunang kunang. Tubuhnya terasa lemas dan semuanya menggelap. Melihat Mayra yang limbung, Heaven langsung sigap meraih tubuhnya dan memeluknya.
"Sayang, kamu gak papakan?" Heaven panik melihat wajah Mayra yang pucat. Ditambah lagi, mata Mayra tiba tiba terpejam. "May, May, bangun May." Heaven menepuk nepuk pelan pipi Mayra. Karena tak kunjung membuka mata, Heaven segera menggendongnya.
Bu Jamilah dan Hana langsung mendekat. Kedua orang itu ikut panik melihat Mayra pingsan.
"Bawa ke kamar," titah Bu Jamilah. Dia segera menunjukkan pada Heaven letak kamar Mayra.
Sementara Hana, dia mengambil segelas air putih dan membawanya ke kamar.
Begitu tubuh Mayra diturunkan keranjang, Bu Jamilah langsung mengoles minyak angin disekitaran wajahnya. Sampai akhirnya, Mayra kembali membuka mata.
"Alhamdulillah," ucap mereka bertiga bersamaan.
Bu Jamilah membantu Mayra duduk lalu memberinya minum.
"Kepala May pusing banget Bu." Keluh Mayra sambil memegangi kepalanya.
"Kita ke dokter," ucap Heaven yang terlihat sangat panik. Dia takut terjadi apa apa pada Mayra dan anaknya.
"Aku mau dirumah aja," sahut Mayra dingin. Melihat ekspresi Mayra yang masih kurang bersahabat, Heaven tak berani memaksanya.
Hana, gadis itu langsung menarik lengan ibunya, mengajaknya untuk keluar. Dia ingin memberi ruang pada sepasang suami istri itu untuk bicara dari hati kehati.
"Kamu apaan sih, narik naik ibu keluar?" Omel Bi Jamilah saat dia dan Hana sudah ada diluar kamar. "Kakakmu sedang sakit."
"Sudah ada suaminya Bu." Hana memutar kedua bola matanya.
__ADS_1
"Tapi suaminya i_"
"Suaminya udah tahu kalau dia salah. Tadi Kak Heaven mohon mohon ke aku biar bisa ketemu sama mbak Mayra. Kak Heaven kelihatannya nyesel banget. Lagian apa Ibu gak kasian sama mbak May. Apalagi dia sekarang hamil, anaknya butuh bapak."
"Kok malah kamu yang ngajarin ibu?" Bu Jamilah mengerutkan kening.
"Hehehe, bukan ngajarin Buk." Hana tersenyum absurd. "Cuma ngasih tahu." Dia langsung kabur sebelum diomeli ibunya.
Sementara didalam kamar, Heaven naik keatas ranjang lalu memeluk Mayra dari belakang. Jangan dikira Mayra langsung mau, dia menolak awalnya, tapi karena Heaven tak mau melepaskannya, dia jadi pasrah.
"Kenapa gak bilang kalau disini ada buah cinta kita?" Heaven mengusap perut datar Mayra.
"Gak bilang?" Dada Mayra terasa sesak sekali, air matanya mengalir dengan deras. "Kakak yang gak mau tahu, bukan aku yang gak bilang," ujarnya geram.
"Aku tahu udah salah karena nyuekin kamu beberapa hari ini. Tapi seharusnya kamu bilang."
Mayra menarik nafas dalam lalu membuanganya perlahan. Kalau nurutin naffsu, pengen sekali dia ngamuk dan mukulin Heaven. Tapi saat ini, tubuhnya sangat lemah. Mungkin anak dalam kandungannya terlalu sayang sama bapaknya, makanya dia dibuat teler kayak gini. Biar gak bisa ngamuk bapaknya.
Heaven terdiam, dia teringat kado yang ada diatas nakas. Kado yang sampai saat ini belum sempat dia buka. Sebenarnya bukan belum sempat, melainkan tak tertarik membukanya.
"Jangan bilang kalau isinya.."
"Isinya testpack dua garis merah."
Heaven mendecak pelan sambil memejamkan mata. Menyesal sekali karena telah menyia nyiakan kado seistimewa itu. Perasaan bersalahnya makin dalam. Suami macam apa dia, istri sudah menyiapkan kado spesial tadi disia siakan.
"Dan mangga?" Heaven seketika teringat saat Mayra meminta mangga.
"Padahal hanya ngidam sepele, tapi Kakak tak mau melakukan itu." Air mata Mayra meleleh saat teringat kejadian itu. Menyebalkan sekali, padahal cuma pengen mangga, tapi gak diturutin.
Heaven membalikkan badan Mayra. Menyeka air matanya lalu mencium keningnya lama. "Maaf, maafkan aku sayang."
__ADS_1
Dengan sisa tenaganya, Mayra memukuli dada Heaven. "Ntar kalau anak kita ngiler, itu salah Kakak," ujarnya sambil terisak.
"Maaf, maaf." Heaven kembali meminta maaf sambil menghujani wajah Mayra dengan kecupan lembut. Setelah Mayra lebih tenang, dia beringsut kebawah. Mensejajarkan wajahnya dengan perut Mayra. "Maafin papa ya nak. Papa terlambat tahu jika ada kamu disini." Heaven mengecup perut Mayra. "Mulai sekarang, papa janji bakal nurutin semua ngidamnya mama. Bahkan kalau mama mau mangga sekebon, bakal papa jabanin."
"Dih, gak usah lebay deh," sewot Mayra.
Heaven terkekeh lalu kembali naik hingga posisinya sejajar dengan Mayra. "Kita pulang ya?" Pintanya sambil mengusap pipi Mayra dengan punggung tangan.
Mayra hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Please, kita pulang." Heaven membuat ekspresi semenyedikan mungkin agar Mayra iba. Dan usahanya berhasil, akhirnya Mayra mengangguk.
"Oh iya, mobil Kakak kok gak ada di halaman?" Mayra tiba tiba teringat tentang mobil.
"Dipakai Bapak."
Mata Mayra langsung melotot. Dia pikir Bapaknya udah insaf, tapi..
"Sudahlah, Bapak hanya pinjam bentar karena mobilnya ada dirumah kita. Aku tak peduli lagi dengan itu semua." Heaven menggenggam kedua tangan Mayra lalu menciumnya. "Aku hanya peduli pada kita dan calon anak kita. Kamu berdua, segalanya bagiku."
"Tapi aku gak suka Bapak minta minta ke Kakak."
"Bapak hanya pinjam, gak minta. Dan mobil yang kemarin dikembalikan, akan aku kasih Bapak lagi. Aku ikhlas sayang."
"Tapi janji, lain kali, jangan ngasih apapun ke Bapak tanpa bicara dulu padaku."
"Iya, aku janji. Tapi kalau Hana?"
"Hana?" Mayra mengerutkan kening. Ada apa dengan adiknya itu.
"Tadi aku udah terlanjur janji mau beliin Hana ponsel keluaran terbaru jika dia mau bantuin aku baikan sama kamu."
__ADS_1
Mayra langsung tepok jidat. Ternyata tak hanya bapaknya yang matre, adiknya menuruni sifat bapaknya.