
Heaven kelimpungan didalam kamar. Sudah hadap kadap kanan, hadap kiri, atas bawah, semua posisi sudah dia coba tapi tak kunjung bisa tidur. Setidaknya meski hanya diam, dia masih bisa tidur saat Mayra ada disisinya. Tapi kalau udah ditinggal pisah kamar gini, dia malah gak bisa tidur.
Hampir dini hari Heaven baru bisa tidur. Walhasil pagi ini, dia bangun kesiangan. Tak ada Mayra yang membangunkannya, tak ada juga yang menyiapkan bajunya meski sudah kesiangan seperti ini.
"Pagi Mah." Heaven mengecup kening mamanya yang sedang duduk dimaja makan. Sepi, tak ada Mayra dimeja makan. Apakah istrinya itu sudah selesai sarapan? Atau bahkan mungkin belum bangun?
"Pagi juga." Mama Mita menjawab dengan malas. Ada apa dengan rumah ini. Setiap penghuninya seperti kehilangan semangat hidup.
Selesai sarapan, Heaven langsung berangkat. Hari ini dia ada meeting penting jam 10. Dan baru tengah hari, meeting tersebut selesai.
"Lo kenapa? Gue perhatiin, beberapa hari ini, lecek banget tuh muka. Jangan bilang kalau gara gara gak dapat jatah." Edo tertawa cekikian. "Kenapa Big Bos, istri lagi hamil muda ya? Gak mau deket deket karena bawaan bayi?"
"Sok tahu." Sahut Heaven sambil mengemasi barang barangnya lalu meninggalkan ruang meeting.
Edo yang masih belum puas dengan jawaban Heaven, mengekor dibelakang pria itu hingga sampailah mereka diruang kerja Heaven.
"Jadi salah ya tebakan gue tadi? Terus kenapa dong?"
Heaven duduk dikursi kebesarannya sambil menyandarkan punggungnya dikursi. Dia memejamkan mata sambil memijat pelipisnya. Kepalanya terasa pusing karena kurang tidur dan banyak pikiran.
"Cerita sama gue, ada apa?"
Akhirnya Heaven bercerita pada Edo tentang percakapan mertuanya dengan Ki Gombal tempo hari dicafe.
"Jangan bilang kalau gara-gara itu, lo nuduh Mayra sekongkol dengan mereka?"
"Pastinya gitu."
Edo langsung berdecak pelan. Heran dia sama Heaven, sejak dulu tak bisa berubah. Selalu menganggap dirinya benar dan tak mau mendengar penjelasan orang lain. Egois, maunya menang sendiri.
"Penyebab lo susah jodoh dari dulu itu, bukan karena kutukan atau apapun kalau menurut gue. Tapi karena sikap lo yang selalu mau menang sendiri. Makanya setiap kali pacaran, ujung ujungnya putus. Cewek mana yang bisa tahan sama lo Ven?"
__ADS_1
"Apaan sih, lo kok malah merembet kesana?" gerutu Heaven.
"Ven, kadang yang lo pikirkan gak selalu bener. Cobalah buat dengar penjelasan orang lain. Lo itu egois, apa apa maunya seenak jidat lo sendiri. Kalau terus kayak gini, gue jamin Mayra gak akan kuat sama lo."
"Kok lo malah belain dia sih, bukan gue."
"Males gue belain teman tolol kayak lo."
"Sialan." Heaven meraih bolpoin diatas meja lalu melemparkan tepat ke kepala Edo.
"Lo itu sebenarnya cinta gak sih Ven sama Mayra? Kalau gak cinta, mending lo kasih aja tuh Si May ke Tirta."
Brakk
"Gila lo." Maki Heaven sambil menggebrak meja. "Emang lo pikir May barang, bisa dioper oper gitu."
"Kembali ke pertanyaan gue. Lo cinta gak sama Mayra?"
Edo langsung tergelak mendengar jawaban Heaven. "Tapi lo gak takut kehilangan dia."
"Ya takutlah bego."
"Ngomong doang takut, tapi kelakuan lo kebalikannya. Lo pernah mikir gak sih, gimana kalau Mayra capek dengan sikap lo terus dia pergi ninggalin lo."
"Lo apaan sih ngomong gitu." Heaven memelototi Edo. Temanya itu dicurhatin bukannya ngasih saran yang bener, malah nakut nakutin.
"Gue tanya sekali lagi."
"Sekali lagi mulu dari tadi. Padahal lo nanyak trus sampai berkali kali."
"Gak penting," celetuk Edo. "Emang selama jadi istri lo, Mayra minta apa aja sih? Udah berapa banyak duit lo yang dihabisin dia?"
__ADS_1
Heaven jadi ingat kejadian saat itu, saat Mayra menolak dia belikan perhiasan. Tak hanya itu, Mayra juga marah saat Bapaknya minta mobil ataupun uang. Harusnya, dari situ dia bisa tahu jika Mayra tak ada sangkut pautnya dengan bapaknya maupun ki Gombal.
"Mending lo pulang sekarang. Minta maaf sama Mayra sebelum dia benar benar muak sama lo dan pergi."
Heaven langsung beranjak. Mengambil kunci mobil lalu bergegas pulang. Tiba tiba dia takut jika yang dikatakan Edo benar. Kalau ingat apa yang Mayra katakan semalam, sepertinya wanita itu sudah muak padanya, sudah lelah.
Tok tok
"May."
Heaven mengetuk pintu kamar tamu sambil memanggil Mayra. Karena sudah berkali kali dan tak menadapatkan jawaban, Heaven langsung saja membuka pintunya. Kosong, tak ada Mayra didalam.
"Den Heaven nyariin Non Mayra?" tanya Bi Denok.
"Iya Bi. Mayra ada didapur ya?"
"Dapur? Non Mayra kan pulang kampung tadi pagi."
"APA!" pekik Heaven.
"Katanya udah pamit sama Den Heaven."
Heaven mengambil ponsel yang ada disaku jasnya. Dia mendecak pelan saat baru sadar jika ada pesan masuk dari Mayra pagi tadi. Istrinya itu meminta izin mau pulang kampung.
Heaven mengumpat pelan lalu keluar rumah. Dia harus segera menyusul Mayra. Tapi saat hendak membuka pintu mobil. Heaven terkejut melihat mobil yang hari itu dia belikan untuk Pak Sobri, memasuki halaman rumahnya.
Tapi bukan Pak Sobri yang keluar dari sana, melainkan orang lain.
"Dengan Pak Heaven?" tanya orang tesebut.
"Ini Pak." Orang itu mengeluarkan surat mobil lalu memberikannya beserta kunci pada Heaven. "Saya disuruh Pak Sobri mengembalikan mobil ini."
__ADS_1
Heaven makin pusing lagi.