
"Mana martabak mama?" Todong Mama Mita saat Heaven sampai dirumah. Dia tak melihat putranya itu membawa sesuatu ditangannya. Tapi bukan hanya itu yang bikin mama Mita heran, tatapan Heaven berbeda. Ya, sangat berbeda. Tapi bukan padanya, melainkan pada Mayra.
"Ada apa Kak?" Ternyata tak hanya mama Mita, Mayra juga menyadari hal itu.
Bukannya menjawab pertanyaan Mayra, Heaven malah ganti menatap mamanya.
"Sebenarnya dulu mama kenal sama dukun abal abal itu dimana sih Mah?" tanya Heaven.
"Dukun abal-abal, siapa?"
"Gombal, siapa lagi." Sahut Heaven dengan nada suara sedikit tinggi.
"Emangnya kenapa sih Ven?"
Heaven membuang nafas kasar. Sejak tadi bukannya memberi jawaban yang pas, mama Mita malah ngajak muter muter.
"Dia itu bukan beneran orang pinter. Dia cuma dukun abal abal yang udah nipu kita."
"Nipu gimana? Orang kamu berhasil dapat jodoh karena dia. Dia itu yang paling berjasa atas pernikahanmu dengan May. Sampai sekarang aja, kalau dia wa minta mama ngasih uang, kadang masih mama kasih."
Mata Heaven terbeliak. Ternyata bukan hanya Pak Sobri yang morotin dia dengan minta ini itu. Ternyata Ki Gombal diam diam masih sering minta uang pada mamanya.
"Dia itu kerja sama dengan Bapaknya May buat nipu kita Mah." Ujar Heaven sambil menatap Mayra sengit.
Mayra yang sejak tadi hanya menyimak langsung kaget. Bapaknya menipu, menipu gimana?
__ADS_1
"Tentang berkendara 50km, rumah cat biru, dan apalah, pokoknya semuanya. Itu semua bukan kebetulan, tapi sudah direncanakan. Ki Gombal itu temannya Pak Sobri. Dia sengaja menuntun kita kerumah itu. Lalu memaksa Heaven menikah dengan Mayra agar mereka bisa morotin harta kita."
Deg
Mama Mita sangat kaget. Dia pikir semua peristiwa itu murni karena ilmu dukun tersebut, tapi ternyata dia hanya dibohongi.
Saat Heaven dan mama Mita menatapnya tajam, Mayra langsung menggeleng.
"A, aku gak tahu apa apa tentang itu." Mayra mendekati Heaven lalu memegang lengannya. "Aku bersumpah Kak, aku tak tahu apa apa. Aku hanya menurut saja saat Bapak menyuruhku menikah."
Heaven menepis tangan Mayra dengan kasar. "Saat ini, aku tak tahu lagi harus percaya atau tidak."
Heaven pergi setelah mengatakan itu, berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Mayra tak diam saja, dia langsung menyusul Heaven.
Sedangkan mama Mita, kepalanya makin nyut nyutan. Akhir akhir ini Ki Gombal masih suka minta uang padanya dengan dalih membersihkan sisa kutukan pada diri Heaven. Kata Ki Gombal, Jika tak dibersihkan sampai tuntas, Heaven dan Mayra akan susah memiliki keturunan. Dan bodohnya, mama Mita percaya saja. Dan selalu mentransfer uang setiap dukun itu minta.
"Semoga saja apa yang katakan benar."
Mayra langsung melepaskan lengan Heaven. "Apa itu artinya, Kakak tidak percaya padaku?" Mata Mayra memanas dan dadanya sesak. Dia tak peduli meski semua orang didunia ini tak percaya padanya, asalkan masih ada 1 orang yang percaya, yaitu Heaven. Tapi sepertinya, Heaven juga tak mempercayai ucapannya.
"Sudahlah May, aku capek, aku mau istirahat." Heaven melepas jas dan kemejanya lalu masuk ke kamar mandi.
Mayra terduduk diatas ranjang sambil menangis. Dia tak menyangka jika bapaknya bisa berbuat seperti ini. Menggunakan dirinya sebagai alat penghasil uang. Disaat Mayra masih meratapi nasibnya, ponselnya berdering. Ada telepon dari bapaknya.
Dengan dada bergemuruh, Mayra langsung mengangkatnya.
__ADS_1
"Kenapa Bapak melakukan ini? Kenapa Pak? Tega sekali Bapak memanfaatkan aku sebagai alat untuk mendapatkan uang." Suara Mayra bergertar karena isakan.
"Ya, Bapak memang salah. Tapi Bapak tak sepenuhnya salah."
Mayra mengehela nafas berat. Bisa bisanya Bapaknya masih merasa tak seratus persen bersalah.
"Menikahkanmu dengan pria yang tampan dan mapan, tak ada salahnyakan? Bapak yakin semua orang tua dibumi ini ingin anaknya menikah dengan pria tampan dan kaya. Lagian kamu juga sukakan dengan Heaven?"
"Ya tapi gak harus melalui cara penipuan seperti itu Pak." Mayra menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak. Ingin rasanya dia berteriak, sayangnya dia merasa tak bertenaga sama sekali.
"Kalau gak dengan cara seperti itu, mana mungkin Heaven mau menikah denganmu."
Mayra hanya diam sambil menangis. Percuma marah pada bapaknya. Pria itu punya seribu satu jawaban untuk membela diri.
"Jangan bilang, kamu menangis seperti ini, karena Heaven menceraikanmu."
"Astaghfirullah, kata-kata itu doa Pak. Bapak jangan ngomong sembarangan."
"Bapak cuma nanya. Syukurlah kalau tidak. Sudah jangan menangis. Kamu minta maaf dan rayu suamimu agar mau memaafkan kita."
"Kita?" Mayra tersenyum getir. "Aku tidak ikut ikut disini, kenapa harus memaafku."
"Iya, iya, salah Bapak."
"Tapi aku ikut kena getahnya," sahut Mayra cepat.
__ADS_1
Mayra langsung menutup panggilan setelah itu.