
Hari ini, Heaven tak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya. Selama meeting, dia lebih banyak bengong. Sejak peristiwa dikolam, Mayra mendiamkannya, membuatnya kelimpungan mencari cara agar Mayra mau memaafkannya.
"Lo kenapa?" tanya Edo ketika meeting baru saja selesai dan tinggal mereka berdua diruangan.
"Kepala gue pusing." Sahut Heaveb sambil memijit mijit pelipisnya.
"Pusing ya ke dokter sana, ngapain ke kantor."
Heaven menatap Edo sekilas lalu memejamkan mata dan menyandarkan punggung dikursi. "Lo udah lama nikahkan? Jadi lo pasti tahu dong, gimana caranya bujuk bini yang ngambek."
Edo langsung melongo. Jadi sejak tadi bengong, diajak ngomong susah nyambung, penyebabnya adalah bini ngambek?
"Dih, ditanya malah bengong?" ledek Heaven.
"Heran aja sama lo. Masa mantan playboy gak tahu cara negbujuk bini ngambek, payah lo," cibir Edo sambil menyeringai.
Heaven mendecak pelan. Saat ini dia sedang butuh solusi, bukan cibiran. Sepertinya percuma cerita ke Edo.
Heaven mengemasi laptop dan berkas didepannya lalu meninggalkan ruangan meeting.
"Yaelah ngambek." Edo geleng geleng. Cepat cepat dia mengemasi barang miliknya lalu mengikuti Heaven keluar ruangan meeting. Berjalan mengekor dibelakangnya hingga masuk ke ruangan bos sekaligus temannya itu. "Emang Mayra ngambek kenapa? Jangan bilang karena lo minta jatah terus?"
Terus pala lo peyang, sekali aja gak pernah.
Heaven tak menjawab. Meletakkan laptop dan map diatas meja lalu menjatuhkan bobot tubuh diatas kursi kesayangannya.
"Wanita itu paling suka kalau dikasih perhatian, dikasih hadiah. Coba deh, lo kasih sesuatu apa gitu, ke Mayra," saran Edo.
"Sesuatu itu apa?"
"Ya mana gue tahu, lo pikir aja sendiri. Lo kan suaminya, yang paling tahu apa kesukaannya."
Kalimat Edo terdengar seperti sindiran. Heaven jadi teringat kata kata May kemarin.
__ADS_1
Kakak memang tak tahu apapun tentangku, apapun itu.
Heaven garuk garuk kepala, dia makin bingung lagi sekarang. Disaat bersamaan, pintu ruangannya diketuk. Muncul Tirta dari balik pintu sambil membawa laporan keuangan yang akan dia serahkan pada Heaven.
"Kebetulan lo dateng Tir." Heaven mengedipkan sebelah mata, memberi kode agar Edo tak mengatakan tentang barusan pada Tirta. Dia tak mau Tirta tahu dan malah tertawa diatas penderitaannya. "Pak bos lagi galau, bininya ngambek," lanjut Edo.
Heaven mendesis pelan, kesal pada Edo yang tak peka.
Tirta tersenyum miring sambil menatap Heaven. "Ya siapa yang gak ngambek kalau diakui sebagai pembantu."
"Pembantu, apa maksud lo?" Edo mengernyitkan dahi.
"Mending kalian kembali ke ruangan masing-masing, kerjaan gue banyak," usir Heaven.
Tapi Tirta yang masih kesal jelas tak mau pergi begitu saja. "Lo masih inget pembantu yang namanya Sitikan, yang hari itu datang ke UGD."
"Sekarang jam kerja, bukan waktunya ngerumpi kayak emak emak," sinis Heaven. "Kembali keruangan kalian."
"Siti itu Mayra." Mata Edo langsung melotot dengan mulut menganga lebar mendengar ucapan Tirta. "Istri sendiri diakui pembantu, apa ada yang lebih keterlaluan daripada itu." Tirta masih saja menyampaikan rasa kesalnya. Menatap Heaven sengit seperti menatap musuh.
Yakin kedua temannya sebentar lagi akan kompak menghujatnya, Heaven memilih pergi saja. Segera dia memasukan laptop kedalam tas lalu beranjak dari duduknya.
"Lo sungguh keterlaluan Ven. Kalau gue jadi May, bukan ngambek lagi, tapi minta cerai," cerocos Edo yang ikut merasa geram.
Heaven tak menanggapi apa apa, berjalan menuju pintu lalu keluar. Mending dia pulang dan membujuk Mayra daripada diceramahin kedua temannya.
Dalam perjalanan pulang, melihat toko bunga, dia segera menepikan mobilnya. Bukankah menurut mama Mita dan Edo, wanita suka hadiah. Bunga mungkin menjadi pilihan yang tepat.
"Selamat datang di Juliet florist, ada yang bisa dibantu?" Sapa wanita pemilik toko yang sedang menggendong seorang bayi lucu.
Heaven melihat bunga bunga disekitarnya, tapi permasalahannya masih sama. Dia tak tahu bunga apa yang disukai May.
"Saya mau buket bunga yang bagus, yang sekali wanita melihat, bisa langsung meleleh."
__ADS_1
"Maaf kalau boleh tahu, bunga apa kesukaan wanita berutung itu?"
Heaven garuk garuk kepala sambil menggeleng. Setelah ini, mungkin dia harus lebih banyak mencari tahu tentang apa saja kesukaan Mayra.
"Tidak masalah, saya akan buatkan buket dari bunga yang banyak disukai wanita." Heaven langsung mengangguk setuju.
Pemilik toko meletakkan bayinya distroller, mengambil beberapa bunga lalu mulai merangkainya.
Heaven mendekati bayi mungil yang berusia sekitar 4 bulan tersebut. Dia sungguh tampan. Mungkin nanti, kalau dia dan May punya anak, juga akan setampan itu.
Punya anak? Astaga, sepertinya dia terlalu kejauhan mikir. Bikin aja belum, dan entah kapan ada kesempatan bikin, udah mikirin punya anak.
"Tampan sekali dia. Kalau boleh tahu, siapa namanya?" tanya Heaven.
"Ryuga, baby Ryu."
"Nama yang bagus. Cocok sekali untuk bayi tampan seperti dia." Sipemilik toko tersenyum mendengar pujian yang dialamatkan pada putranya. "Em...bolehkah saya berfoto dengannya?" Melihat pemilik toko terdiam, Heaven jadi merasa tak enak. Mungkin dia tak mau kalau anaknya difoto sembarangan, apalagi oleh orang yang tidak dia kenal. "Maaf jika permintaan saya berlebihan, lupakan saja."
"Tidak masalah."
"Benarkah?" Raut muka Heaven langsung berubah senang. Apalagi saat melihat pemilik toko tersenyum dan mengangguk, cepat cepat dia berjongkok disebelah stroller. Mengambil ponsel disaku jas lalu mengarahkan kamera kearahnya dan baby Ryu.
Setelah mendapatkan hasil foto yang bagus, langsung dia mengirimnya ke nomor May.
[ Aku sudah cocokkan jadi papa? ]
Mayra mengeryit melihat foto Heaven bersama seorang bayi disertai caption seperti itu. Apa maksudnya? Jangan bilang kalau ini kode ngajakin bikin anak?
"Dasar gak jelas. Anak siapa coba yang dia foto itu?" Gumam Mayra sambil memutar kedua bola matanya malas. Dia lalu meletakkan ponsel tanpa membalas pesan Heaven.
Ditempatnya berada, Heaven terus terusan menatap ponsel, menunggu balasan dari Mayra. Sayangnya, meski sudah centang dua biru, tetap saja tak ada balasan. Hingga akhirnya Heaven kembali mengirim pesan.
[ Lucu sekalikan bayinya? Kalau kita punya bayi, pasti akan selucu itu, bahkan lebih lucu lagi ]
__ADS_1
1 menit, 2 menit, hingga buket bunga siap, belum juga ada balasan. Membuat Heaven lagi lagi hanya bisa menghela nafas lalu menyimpan kembali ponselnya didalam saku jas.