KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )

KUTUKAN MANTAN ( Istri Jelekku )
POSESIF


__ADS_3

Disofa ruang tamu, Mama Mita menangis sesenggukan. Disebelahnya ada Mayra yang merangkul dan mencoba menenangkannya. Heaven, pria itu masih setia berdiri sambil menatap mamanya yang sedang putus cinta. Ternyata tak hanya abg saja yang meraung raung saat putus cinta, yang sudah tua seperti mama Mitapun sama saja. Heaven sampai geleng geleng kepala.


"Udahlah Mah, cowok modelan gitu gak usah ditangisin. Buang-buang waktu dan energi saja."


"Mama itu sakit hati Ven, sakit hati." Mama Mita menepuk nepuk dadanya. Sakit hati yang dia rasakan dobel. Sakit hati karena pacar dan teman.


"Iya tahu sakit hati. Tapi daripada nguras air mata sampai segitunya, mending mama nguras kolam sana."


"Kak Heaven," desis Mayra sambil melotot. Heran sama suaminya itu, mulutnya sungguh tak berfilter. Kalau ngomong suka gak dipikir dulu. Main ceplos saja.


Mama Mita membuang nafas lalu berdiri. Ditatapnya Heaven tajam sampai putranya itu merinding. Bagaimanapun, Heaven tetap takut jika mamanya sampai murka. Dia belum mau dikutuk jadi batu seperti malin kundang.


"Siniin kartu kredit kamu," mama Mita menengadahkan tangan. "Mama mau shopping biar gak stress."


Heaven membuang nafas berat, mengeluarkan dompet lalu mengambil kartu kredit dan memberikannya pada mama Mita. "Tapi mama gak boleh pergi sendiri, harus ditemenin Tarjo."


"Terserah." Sahut mama Mita sambil berlalu.


"Mama," panggil Mayra. "Perhiasannya kok gak dibawa? Mau dikasihkan May ya?"


Mama Mita langsung balik badan. Kembali ke meja untuk mengambil perhiasannya lalu pergi.


Setelah Mama Mita pergi, Heaven mendekati Mayra lalu duduk disebelahnya. Merangkul pundak istrinya itu lalu mengecup keningnya.


"Kamu mau perhiasan?"


Mayra menggeleng. "Aku cuma godain mama tadi."


Heaven menyentuh jari jemari Mayra. Disana hanya ada cincin pernikahan mereka. "Kita beli perhiasan yuk." Ajak Heaven sambil membelai rambut Mayra.


"Gak usah, aku gak begitu suka pakai perhiasan."

__ADS_1


"Ya kan bisa disimpan. Dipakai hanya pas ada acara tertentu saja," bujuk Heaven. "Mumpung aku lagi pulang siang. Kita jalan yuk."


"Ya udah, terserah Kakak."


Heaven mengecup bibir Mayra sekilas lalu berdiri. "Mau aku gendong?" Heaven merentangkan kedua lengannya kedepan.


"Apaan sih, enggak usah," tolak Mayra.


"Ayolah sayang."


"Aku itu berat Kak. Apalagi kita mau naik tangga. Gak ah, aku takut jatuh." Mayra hendak pergi tapi Heaven menahan lengannya. Tanpa minta persetujuan lagi, dia langsung mengangkat tubuh Mayra ala bridal style.


"Kak Heaven, apaan sih." Pipi Mayra bersemu merah. Meski daritadi dia seolah olah menolak, tapi sebenarnya, dia sangat senang diperlakukan seperti ini.


"Pegangan dong, tadi katanya takut jatuh."


Mayra langsung melingkarkan kedua lengannya dileher Heaven. Tak lupa, bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat manis. Sampai sampai, Heaven tak tahan untuk tak menciumnya.


"Ish, nakal banget sih." Ujar Mayra saat pagutan bibir mereka terlepas. "Jadi tawaran gendong tadi karena ada maunya."


Heaven langsung tergelak. "Awalnya gak ada maunya. Tapi seperti aku bilang, seluruh bagian tubuh kamu seperti mengandung magnet. Membuat aku selalu tertarik."


"Gombal."


Heaven kembali mengulum bibir Mayra hingga mereka memasuki kamar. Dia baru melepaskan pagutan bibirnya saat hendak menurunkan Mayra diatas ranjang.


Wajah Mayra memerah, nafasnya ngos ngosan. Tapi dia masih tersenyum kearah Heaven. Mayra pikir sudah selesai, tapi ternyata dia salah, Heaven kembali menciumnya. Dan kali ini, tak hanya mencium, tapi tangannya juga bergerak aktif masuk kedalam kaos yang dikenakan Mayra. Memainkan dua benda kesayangannya hingga Mayra merem melek keenakan.


Tak puas hanya menggunakan tangan, Heaven menyingkap kaos Mayra. Dengan tatapan berkabut, dia mendekatkan wajahnya kedada Mayra.


"Kak Heaven." Mayra menahan kepala Heaven. Mendorongnya pelan agar menjauh dari dadanya. "Masih siang."

__ADS_1


"Emang ada aturan, siang gak boleh?"


"Tadi katanya mau ngajak jalan?"


"Kita jalan 2 jam lagi. 1 jam untuk bersiap siap, dan 1 jam lagi untuk ber cinta." Heaven hendak membenamkan wajahnya didada Mayra tapi lagi lagi, Mayra mendorongnya.


"Yakin 1 jam?" Mayra tahu Heaven tak akan puas hanya 1 jam.


"Kalau gak khilaf." Sahut Heaven sambil menyeringai devil.


Mayra menelan ludahnya susah payah. Dia yakin seratus persen, Heaven akan khilaf. Dan bisa jadi, rencana jalan hanya tinggal rencana.


Mereka lalu mereguk nikmatnya surga dunia. Tak peduli masih siang dan terdengar teriakan mama Mita yang memanggil dari bawah.Keduanya tak lagi mempedulikan apapun. Yang ada dikepala mereka hanya ingin segera mendapatka puncak yang akan membuat keduanya terbang melayang kelangit ketujuh. Moga aja gak ke tabrak pesawat.


"Udah 1 jam." Ujar Mayra dengan nafas tersengal saat Heaven kembali ingin menerkamnya.


"Sekali lagi sayang."


"No." Mayra mendorong Heaven. "Tadi janji hanya 1 jam."


"Ok, ok" Heaven terkekeh pelan. Dia rebahan miring sambil menatap Mayra dan merapikan rambutnya. "Kamu harus rajin olahraga biar nafanya panjang."


Mayra mengangguk. Dia juga merasa nafasnya terlalu pendek. Selalunya kualahan saat menghadapi ciuman Heaven yang brutal. Mayra juga merasa cepat sekali lelah, apalagi kalau berada diatas. Sepertinya dia memang butuh olahraga.


"Aku ikut fitnes ya Kak, biar stamina bagus dan body ok kayak artis artis."


"Enggak." Sahut Heaven penuh penekanan.


"Kenapa?"


"Boleh olahraga, tapi dirumah saja. Alat fitnes dirumah juga lengkap. Nanti aku instrukturin. Gak rela kalau kamu diinstrukturin orang lain, apalagi sampai di pegang pegang."

__ADS_1


Mayra langsung tergelak. Dia mencium sekilas bibir Heaven yang mengerucut kedepan. Mungkin sebagian besar wanita diluar sana tak suka suami posesif, tapi Mayra, dia sangat menyukainya. Dia menyukai Heaven yang posesif.


__ADS_2