
Heaven menatap kompor yang ada dihadapannya. Sekarang, masalahnya bukan bagaimana cara membuat telur mata sapi, melainkan bagaimana cara menyalakan kompor. Mau bertanya pada Mayra, gengsinya terlalu besar.
"Gak bisa nyalain kompor ya?"
Heaven menoleh kearah Mayra yang sedang duduk dibelakangnya. Tersenyum absurd sambil mengangguk malu malu. Sedangkan Mayra, wanita itu menutup mulut menahan tawa.
"Kenapa gak nanya? Kirain tadi punya kekuatan super yang bisa bikin kompor menyala hanya dengan tatapan mata saja." Ledek Mayra sambil cekikian.
"Mau makan gak? Kalau mau, buruan ajarin nyalain."
Mayra berdiri lalu mendekati Heaven. Ditatapnya wajah suaminya itu sambil ketawa. Ternyata seseorang yang pintar, kadang tak bisa melakukan hal yang sangat sepele, contohnya menyalakan kompor.
"Sini perhatiin aku." Mayra lalu mengajari Heaven cara menyalakan kompor hingga pria itu bisa.
"Ternyata mudah," celetuk Heaven.
Mayra menyebikkan bibir. "Sekarang aja bilang mudah, tadi?"
Done, satu masalah sudah ada solusinya. Tapi jangan senang dulu, membuat telur ceplok alias mata sapi, mungkin mudah bagi sebagian orang, tapi bagi Heaven, kita lihat saja nanti.
Heaven meletakkan teflon diatas kompor yang menyala. Menuang minyak keatasnya lalu mengambil sebutir telur yang sudah dia siapkan didalam wadah yang ada disebelah kompor.
Dengan ragu ragu, Heaven memposisikan telur diatas teflon yang minyaknya sudah panas. Memecahkan telur dengan spatula, dan srengggg... Dia kaget dengan bunyi telur yang masuk kedalam teflon. Tak hanya kaget, cangkang telur ikut masuk kedalam penggorengan dan sekarang, minyaknya malah meletup letup dan mengenai tangannya. "May, tolong May."
Lagi lagi, Mayra tak kuasa menahan tawa. Dia mendekati Heaven lalu mematikan kompor. Heaven bernafas lega saat telur didalam teflon tak lagi meletup letup. Dia lalu memperhatikan punggung tangannya yang terkana cipratan minyak.
"Cuci pakai air mengalir biar gak melepuh," ujar Mayra. Mengikuti saran Mayra, Heaven mengguyur tangannya diwastafel.
"Minyaknya kebanyakan ini, Kak. Dan apaan ini, ya kali aku disuruh makan telur sekalian cangkang?" Mayra geleng-geleng.
"Kamu minggir, biar aku coba lagi." Heaven mendorong bahu Mayra kembali ke kursi. Menyuruhnya duduk manis sambil melihat aksinya.
Heaven kembali mencoba. Percobaan kedua, cangkang masih ikut masuk. Alhasil dia membuang telur tersebut. Percobaan ketiga dan keempat, masih sama. Hingga akhirya, "Yess, aku berhasil sayang." Teriak Heaven yang kegirangan saat telurnya berhasil landing sempurna tanpa cangkang.
Karena Mayra sedang hamil, dia tak boleh makan makanan setengah matang, alhasil Heaven membiarkannya agak lama agar matang sempurna. Alih alih matang sempurna, yang ada malah gosong karena tak dibalik. Dia mencoba membuat ulang, tapi kali ini, telurnya rusak karena dia membalik sebelum waktunya.
__ADS_1
Heaven berdecak sebal karena kesabarannya hampir habis gara gara telur mata sapi. Tahu jika Heaven sudah sangat kesal, Mayra lalu mendekatinya.
"Sini aku aja yang masak." Melihat telur tak berdosa jadi korban, Mayra merasa tak tega. Mungkin sudah sekitar 10 biji telur yang terbuang sia sia. "Bisa bisa sampai malam aku gak makan kalau nungguin Kakak." Tadinya berniat ngerjain, tapi dipikir pikir, dia sendiri yang rugi karena harus menahan lapar sejak tadi.
"Hehehe, maaf ya sayang." Heaven mengusap perut Mayra. "Lagi lagi, papa gak bisa nurutin ngidamnya kamu. Minta yang lain aja ya?"
"Udah Kakak duduk sana, biar aku aja yang masak." Mayra mengambil spatula dari tangan Heaven lalu menggoreng telur. Sementara Heaven yang lelah, duduk ditempat Mayra sambil menyaksikan istrinya masak. Dan wow, hanya beberapa menit, 2 buah telur ceplok udah siap diatas meja.
.
.
.
Sore ini, Mayra, Heaven dan Mama Mita pergi kedokter. Ternyata, selain Heaven, Mama Mita tak kalah antusias. Dia malah yang udah teriak teriak manggil Mayra dan Heaven, mengajak berangkat ke rumah sakit.
Heaven menyetir mobil, sementara Mayra dan Mama Mita duduk dibelakang. Sepanjang perjalanan, Mama Mita terus berceloteh tentang masa masa dia hamil Heaven. Hingga tak terasa, mereka sudah sampai di rumah sakit.
Setelah mendaftar, mereka mengantri didepan poli kandungan. Mayra mengusap perutnya saat melihat seorang ibu hamil yang perutnya sudah besar.
"Nanti perut kamu juga balakan segitu," bisik Heaven.
Mata Heaven lansung terbeliak. "Apaan sih ngomong gitu?"
"Ya aku pengen memastikan aja. Kan kalau aku jelek, Kakak gak cinta. Kakak cuma mau kalau aku cantik saja."
Heaven menghela nafas berat. Kenapa pula Mayra masih ngungkit hal hal yang lalu.
"Nanti kalau Heaven berani macam-macam, Mama lawannya," ujar Mama Mita sambil menatap Heaven sengit.
"Macam-macam apa sih Mah. Heaven cuma satu macam aja," sahut Heaven.
"Ya takutnya ntar penyakit play boy kamu kumat," ujar Mama Mita.
"Udah ada pawangnya, Mama gak usah khawatir." Heaven menggenggam tangan Mayra dan meletakkan dipangkuannya.
__ADS_1
Sesaat kemudian, terdengar nama Mayra dipanggil. Mereka bertiga lalu masuk keruangan dokter. Dokter Airin, anak teman Mama Mita tersebut langsung menyambut mereka dengan ramah.
Setelah berbincang sebentar, Dokter Airin mekakukan pemeriksaan USG. Dan mata Dokter cantik itu langsung berbinar saat melihat ada 2 kantung janin diperut Mayra.
"Selamat Tante Mita, kayaknya Tante bakalan lamgsung dapat cucu 2 sekaligus."
"Dua." Ucap Mama Mita dan Heaven bersamaan.
"Hem," Dokter Airin mengangguk. "Ibu Mayra hamil anak kembar."
Mayra tak bisa menahan haru. Cairan bening mengalir dari sudut matanya. Dua? Satu saja dia sudah bahagia, apalagi 2. Begitupun dengan Heaven, dia meraih tangan Mayra lalu mencium punggung tangannya.
Berbeda dengan Heaven dan Mayra, Mama Mita justru langsung terlihat sedih. Dia menunduk sambil mencengkeram pinggiran ranjang.
"Ada apa Mah?" Tanya Mayra yang bisa melihat ada yang tidak beres dengan mertuanya. "Mama gak suka, Mayra hamil anak kembar?"
Mama Mita menggeleng pelan. "Bukan begitu May. Mama suka, hanya saja, Mama teringat saudara kembar Heaven."
Mayra melongo, dia baru tahu jika Heaven kembar. Pantar saja sekarang dia hamil kembar, ternyata ada keturunan dari Heaven.
"Saudara kembar Heaven meninggal beberapa menit setelah dilahirkan." Mama Mita menyeka air matanya. Dia lalu meraih tangan Mayra dan menggengamnya. "Kamu harus jaga baik baik kandungan kamu."
Mayra mengangguk pelan. Dia ikutan melow gara gara dengar cerita Mama Mita.
"Tante gak usah khawatir." Dokter Airin menyentuh bahu Mama Mita. "Sekarang dunia medis sudah berkembang pesat, insyaallah cucu cucu Tante akan baik baik saja. Saya yang akan selalu memantau kesehatannya."
"Terimasih Airin," sahut Mama Mita.
"Sekarang jangan nangis- nangis lagi dong. Mau punya cucu dua harus happy. Begitupun Mayra, jangan sampai stress, harus happy terus. Dan kamu Ven, harus jadi suami siaga."
"Gak usah kamu kasih tahu aku udah paham," sahut Heaven. Mereka berdua memang lumayan akrab karena sudah sering bertemu.
"Pokoknya nanti, acara 4 bulan dan 7 bulanan, kita buat acara semeriah mungkin. Kita undang juga semua saudara alm. Papa kamu yang diluar negeri. Dan kamu May, gak boleh terlalu capek, kalau perlu, tiduran aja seharian."
Semua orang langsung tertawa mendengar ucapan Mama Mita.
__ADS_1
.
TAMAT