
Mata Kristal melotot, dia berbalik dan hampir saja tak mampu bernafas ketika berhadapan langsung dengan Langit, suaminya.
Lihatlah, senyum smirk pria itu terlihat menakutkan. "Kamu tadi mengatakan sesuatu?"
Kristal menggeleng cepat, "Tidak ada!"
Langit mengangguk, ia berlalu begitu saja menuju ke kamar mereka. Kristal memilih turun dan bergabung dengan para wanita yang sedang ada di dapur.
"Kenapa wajahmu masam begitu?" tanya Oma Clara
"Tidak apa - apa"
Kristal memperhatikan menu masakan yang tersaji di atas meja. "Kenapa tidak ada menu yang aku suka?"
Mama Dian dan Oma Clara saling menatap, "Kami sengaja memasak makanan kesukaan menantu kami agar dia tidak berpaling ke wanita lain. Sebab, istrinya sedang tidak ingat padanya"
Kristal memutar bola matanya malas, "Lakukan saja kalau berani!"
"Ucapan itu doa! Seharusnya kamu membangun hubungan yang baik dengan Langit meski belum mengingatnya. Hampir sebulan, tapi tidak ada perubahan sama sekali. Semoga saja tidak ada bau parfum bekas wanita lain dan bekas lipstik di kemejanya"
Kristal segera meninggalkan dapur lalu menuju ke kamar. Kran air berbunyi, tandanya Langit sedang ada di kamar mandi. Kristal segera mengecek kemeja yang tadi suaminya kenakan. Tidak ada tanda seperti yang Mama dan Omanya katakan tadi.
"Apa yang kamu lakukan dengan kemejaku?"
Kristal kembali melempar kemeja Langit ke keranjang kotor. "Hanya mengecek. Siapa tahu kamu bawa virus menular!"
Langit hampir menyemburkan tawanya mendengar alasan Kristal yang tak masuk akal.
Dia tidak pandai berbohong rupanya. Tunggulah sebentar lagi Kris, aku akan segera menghukummu.
Langit hendak melangkah ke luar kamar, namun Kristal langsung menahannya. "Kamu mau pergi lagi?"
"Iya" jawab Langit singkat
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan diluar sana, hah! Kenapa akhir - akhir ini kamu sering sekali tidak pulang?!"
Langit berdehem agar tidak tertawa, "Kenapa kamu kepo?"
Kristal mendelik mendengar apa yang Langit katakan, "Aku, kepo?" tunjuknya pada diri sendiri, "Yang benar saja!" Kristal tertawa sinis, "Asal kamu tahu ya. Aku sama sekali tidak kepo dengan urusanmu! Hanya saja, sebagai penghuni kamar yang sama, aku terganggu dengan dirimu yang kadang pulang terlalu malam. Tidurku yang nyenyak tentu terganggu!"
"Ada atau tidaknya aku dikamar ini, bukankah kamu tidak peduli?"
Kristal mendadak salah tingkah, "Ya ... Aku hanya. Ish ... Sudahlah. Aku tidak peduli. Dasar menyebalkan!"
Langit tertawa begitu Kristal keluar dari kamar. Sepertinya, ide untuk menjahilinya berhasil. Langit pun turun untuk makan malam bersama keluarga dari istrinya itu.
🌻🌻🌻
__ADS_1
"Ayo kita makan sekarang, Oma sudah lapar" celetuk Oma Clara
"Kris, ambilkan makan untuk suamimu" perintah Papa Gama
"Mau makan dengan apa?!!"
Langit tersenyum, "Tidak usah. Aku ambil sendiri saja"
Kristal jelas memanyunkan bibirnya, "Lihat kan? Dia tidak mau di ambilkan!"
Kristal mengambil makan untuk dirinya sendiri lalu memakannya dengan lahap. Semua orang hanya bisa geleng - geleng kepala melihatnya
Seusai makan malam, Langit kembali ke ruang kerja Papa Gama. Kristal sendiri sempat kepo dengan apa yang mereka lakukan. Mereka sering kali membicarakan hal yang tertutup.
"Kamu belum tidur?" Kristal hanya menoleh sekilas lalu kembali berbaring diatas ranjang.
Langit juga ikut berbaring lalu menarik selimut hendak tidur. Pria tampan itu mulai memejamkan mata. Sayangnya, ia tak benar - benar bisa tidur karena Kristal bolak - balik tak karuan.
"Tidur, Kris. Aku ngantuk"
"Kalau ngantuk ya tidur saja. Bawel!"
Langit menghela nafas, "Bagaimana aku bisa tidur kalau kamu terus berisik!"
Kristal mengubah posisinya jadi duduk, "Tinggal tidur apa susahnya sih!"
"Iya. Iya! Ini tidur!"
Langit tersenyum, ia tak benar - benar tidur. Suami Kristal itu sengaja menunggu istrinya sampai benar - benar tertidur.
🌻🌻🌻
Kristal baru saja membuka mata, sepertinya karena agak susah tidur, ia jadi bangun kesiangan. Kristal menoleh ke samping, suaminya sudah tidak ada.
"Masih jam enam, masak udah berangkat?"
Kristal bangkit dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Rapi, bersih. Dan tidak ada tanda - tanda keberadaan Langit. Setelah mencuci muka dan gosok gigi, Kristal turun ke bawah.
"Kenapa baru bangun? Langit sudah pergi sejak tadi" ucap Mama Dian
"Dia sudah pergi? Kok ga bilang?"
"Mungkin karena kamu kayak kebo tidurnya", cibir Oma
"Ish, mana ada! Aku tidur atau melek, sama - sama elegan dan cantik!"
"Apa gunanya elegan dan cantik kalau tidak bisa jadi istri yang baik!"
__ADS_1
Kristal lebih memilih mengunyah makanannya daripada berdebat dengan Oma. Setelah makan, ia kembali ke kamar. Mau keluar pun, Langit tak memberinya izin. Jadilah dia seperti tawanan rumah.
Ting
Satu pesan dari Ken. Kristal yang enggan berurusan dengan suami Yazna itu memilih untuk mengabaikan pesan tersebut. Istri Langit itu terlihat menghubungi seseorang.
[Aku mau semuanya seperti rencana! Jangan sampai ada yang terlewat]
Entah apa yang akan wanita itu rencanakan. Sepertinya akan ada hal besar yang terjadi.
"Karena aku tidak punya pekerjaan. Sebaiknya aku melanjutkan tidurku!"
Berbeda dengan Kristal yang memilih santai dirumah, Yazna justru dibuat kesal. Buku nikahnya dengan Ken tidak ada di lemari. Padahal seingatnya, Yazna sudah membawanya kemari.
Istri Ken itu masih tinggal dengan Ayah Saka. Tentu saja karena Ayahnya itu melarang Yazna kembali ke rumah sang mertua. Alhasil, Yazna jadi semakin jarang bertemu dengan Ken. Pria itu hanya datang seminggu sekali, itupun tidak sampai setengah jam saja. Mau pergi menemuinya, Ayah Saka selalu melarang. Kalaupun Yazna berhasil keluar dari rumah, ia yang tak berhasil bertemu suaminya. Keadaan ini tentu membuatnya kesal.
Ting
[Tuan Ken meminta saya mengirim gaun untuk pesta ulang tahun DV Hotel, Nona. Apa saya bisa mengantarnya sekarang?]
Yazna membaca ulang pesan yang datang ke ponselnya. "Ini tidak salah kan? Ken mau mengajakku ke pesta ulang tahun hotel?" tanya Yazna pada dirinya sendiri. "Tunggu! Bagaimana kalau pesan ini salah sasaran? Bisa jadi pesan ini dikirim untuk Kristal kan?"
Tak lama, ponselnya berdering. Si nomor penelpon masih sama dengan yang mengiriminya pesan. Dengan ragu, akhirnya Yazna mengangkatnya
[Ya, hallo]
[Dengan Nona Yazna?]
Orang ini menyebut namaku, artinya dia tidak salah kirim pesan
[Ya, saya sendiri]
[Saya ingin mengirim gaun untuk Anda dari Tuan Ken. Apa bisa saya mengirimnya sekarang]
[Benarkah gaunnya dari Ken?], Yazna memastikan kembali
[Benar Nona, bahkan tidak hanya gaun. Tuan Ken juga mengirimkan satu set perhiasan kepada Anda]
Tak terkira bagaimana perasaan Yazna sekarang. Dirinya begitu bahagia
[Apa saya bisa mengirimnya sekarang?]
[Ah, ya. Tentu saja]
Yazna berteriak senang. Apakah sikap Ken selama ini hanya karena ia ingin memberinya kejutan?
"Lihatlah siapa yang menang, Kris? Sebaik apapun kamu berusaha merayu suamiku, tetap istri sahlah pemenang sesungguhnya!"
__ADS_1