
Disinilah sekarang mereka berdua berada. Di taman belakang rumah Opa Damar. Kristal masih diam, dia hanya sesekali menatap Ken yang terlihat jauh dari kata baik - baik saja.
"Maaf", itulah kata yang keluar dari mulut Ken setelah sekian lama hanya diam, "Aku tahu, kesalahanku padamu mungkin tidak bisa di maafkan. Tapi kali ini aku benar - benar minta maaf, Kris", Ken menatap Kristal dengan lembut. Tatapan yang Kristal lihat lagi setelah hampir sebelas tahun berlalu.
"Aku yakin kamu bisa jadi orang yang lebih baik lagi, Ken. Kesempatan kedua itu selalu ada"
"Tapi tidak semua orang mendapatkannya. Contohnya seperti aku" Ken tertawa miris, dan Kristal paham maksud perkataan pria disampingnya itu
"Kamu pasti akan menemukan wanita yang benar - benar mencintaimu dengan tulus. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu saat nanti"
Ken tersenyum, "Kamu bahagia, Kris?"
Pertanyaan Ken membuat Kristal menatap pria itu, "Tentu saja" wanita itu tersenyum, "Sama sepertiku, luka yang kamu rasakan sekarang pasti akan menemukan kebahagiaannya nanti"
Tatapan Ken menerawang, "Aku menyesal pernah mengabaikan semua perasaanmu. Aku menyesal sudah menyakitimu dan aku selalu menyesali semua yang terjadi padamu. Terlepas dari semua hal yang aku lakukan, kamu paham betul apa yang sebenarnya membuatku melakukan itu"
Kristal tersenyum, "Sebenarnya kamu pria yang baik, Ken. Hanya saja sebelumnya kamu kurang peka. Sekarang, aku rasa kamu sudah jauh lebih dewasa. Kamu tahu harus melakukan apa. Buang jauh ego dan opsesimu. Sudah saatnya kamu menunjukkan pada semua orang jika kamu adalah orang yang baik"
Ken terkekeh, "Kamu mengenalku dengan baik. Tapi aku justru-"
"Tidak perlu menyesali apapun sekarang. Walau aku tahu, penyesalan pasti akan menghantui setiap kali kamu mengingatnya. Tapi percayalah, perlahan semua akan membaik dengan sendirinya. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah memaafkan dirimu sendiri sebelum kamu memperbaiki semuanya"
Ken menghela nafas berat, "Kamu benar Kris. Aku memang harus memaafkan diriku sendiri sebelum menebus semua kesalahanku pada semua orang yang aku lukai", Ken menatap Kristal sekilas, "Terima kasih karena sudah menemaniku bercerita. Terima kasih juga sudah memaafkan kesalahanku padamu. Kelak, jika kita bertemu lagi, aku harap kamu masih mau menganggapku teman"
"Kamu ... Mau pergi?" pertanyaan Kristal di angguki oleh Ken, "Aku akan memulai kehidupan baru setelah ini. Aku juga harus menebus kesalahanku pada Mutiara"
"Dia ... Wanita itu?"
Ken menatap Kristal tersenyum, "Aku memang melakukan banyak kesalahan. Dan aku pastikan akan menebus semuanya. Tapi ada satu hal yang tidak aku katakan pada semua orang", Ken menghela nafas, "Mutiara bukanlah wanita malam. Aku memang bertemu dengannya di klub, tapi akulah pria pertama untuknya. Dan sejak mengetahui hal itu, aku menebusnya dari sana. Meski dia tetap kekeh bekerja di klub sebagai pelayan, tapi aku pastikan dia bukan wanita murahan seperti yang semua orang sangka"
"Kau terlihat semakin misterius, Ken"
"Benarkah?", Ken menatap Kristal dengan tatapan teduhnya, "Kris, meski aku sudah mengatakannya berkali - kali, tapi aku sungguh berterima kasih padamu. Terima kasih atas maaf darimu. Dengan begitu, aku bisa menata kembali kehidupanku yang baru setelah ini. Tentunya kehidupan yang lebih damai"
"Sepertinya rencanamu tidak akan berjalan dengan sempurna, Ken"
"Kenapa begitu? Bukankah aku sudah menerima maaf darimu?" tanya Ken keheranan
"Kamu lupa? Masih ada satu orang lagi yang harus kau urus. Dan yang pasti, dia akan sedikit memberatkanmu"
"Maksudmu?"
"Yazna"
🌻🌻🌻
Langit dan Kristal pulang setelah isya' sementara Mama Dian dan Papa Gama masih tinggal untuk menemani keluarga Opa Damar.
__ADS_1
Selama perjalanan, Langit hanya diam. Kristal yang merasa suaminya itu berbeda lekas menanyakan alasannya. "Kamu kenapa, Mas?"
"Memangnya aku kenapa?" tanya Langit acuh. Suaranya juga yang terkesan dingin membuat Kristal yakin jika ada yang terjadi
"Kamu seperti orang yang sedang kesal"
Langit acuh, dia masih bersikap sama seperti sebelumnya. Kristal sendiri sesekali melirik sang suami. Entah apa yang membuatnya kesal. Kristal masih menerka - nerka.
Hingga sampai dirumah, sikap Langit masih sama. Merasa terus diacuhkan, Kristal memahami satu hal. Mungkin saja Langit melihat dirinya dengan Ken tadi.
Kristal masuk ke dalam kamar, suara gemericik air menandakan jika suaminya itu sedang ada di kamar mandi. Tak mau terus di abaikan, lantas Kristal segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia melihat suaminya sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower. Hal itu tak Kristal sia - siakan. Melepas semua pakaiannya, Kristal mendekat ke arah Langit yang belum menyadari kedatangannya
Grep
Deg
Langit membeku saat merasa ada yang memeluk pinggangnya. Tanpa bertanyapun, dia tahu siapa pelakunya. Pria itu masih diam. Bukan karena ia masih marah. Tapi ia sengaja melakukannya untuk mengetahui, sejauh mana Kristal akan bertindak. Benar saja, tangan dengan jari - jari lentik itu mulai nakal.
"Hentikan, Kris!"
Abai, Kristal malah semakin nakal. "Kau tidak akan bisa menolakku, Mas"
Tidak salah Kristal mengatakan itu, nyatanya Langit memang tidak bisa menolak setiap sentuhan yang Kristal berikan. Dibawah guyuran shower, dua insan itu menyatukan diri dalam nikmatnya surga dunia.
Entah berapa lama, baik Langit maupun Kristal keduanya sama - sama tak berhenti. Keduanya akan mengulangi lagi dan lagi kegiatan mereka. Malam semakin larut, tapi gairah keduanya belum juga surut.
"Bagaimana kalau kita bermain di balkon?"
Percintaan panas itu kini berpindah ke balkon. Udara malam yang cukup panas, terasa semakin panas. Kristal benar - benar memuaskan suaminya. Hingga ******* panjang mengakhiri petualangan mereka malam ini.
Langit mencium kening Kristal dengan sayang. Dia mengangkat tubuh sang istri lalu memindahkannya ke dalam kamar.
"Kecemburuanmu tidak beralasan, Mas. Karena sejak awal, kamulah yang aku pilih" ucap Kristal dengan mata terpejam
"Tapi tetap saja aku cemburu, Kris! Bagaimanapun, kamu pernah memiliki perasaan padanya. Salahkah jika aku khawatir"
Kristal membuka mata, "Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu apapun keadaannya. Semua yang kamu khawatirkan adalah masa lalu yang sudah aku lupakan"
"Tapi kalian terlihat akrab. Kalian tersenyum bahagia-"
"Obrolan kami adalah sebuah perpisahan" potong Kristal. Ia lalu mencaritakan semua yang ia dan Ken bicarakan.
Langit akhirnya mengerti walau sedikit tidak percaya jika Ken benar - benar akan menjauhi istrinya.
"Jangan pernah meragukan cintaku, Mas. Aku sudah menjatuhkan hatiku padamu. Sampai maut memisahkan, aku tidak akan pernah berpaling pada pria lain. Kecuali ... Kamu selingkuh!"
"Itu tidak akan pernah terjadi!" jawab Langit dengan tegas, "Aku minta maaf, Sayang. Sungguh ... Aku tidak meragukanmu. Hanya saja, rasa takut selalu menggangguku"
__ADS_1
Kristal membelai wajah Langit dengan lembut. "Buang jauh - jauh rasa takutmu itu, Mas. Karena sampai kapanpun, aku hanya milikmu"
🌻🌻🌻
Weekend memang hari yang paling menyenangkan. Semua orang yang bekerja tidak perlu bangun pagi. Tentunya bisa menikmati waktu dengan berleha - leha. Begitupun pasangan yang semalam telah menghabiskan waktu sepanjang malam itu kini masih berpelukan dibawah selimut yang sama.
Aroma masakan khas rumahan tercium hingga ke lantai atas, tentu saja karena kamar mereka terbuka. Kristal yang belakangan ini peka terhadap aroma seketika membuka mata
"Kenapa ada aroma masakan? Tidak mungkin dari rumah tetangga kan?" dia segera melepas pelukan sang suami perlahan. Menyambar piaya tidurnya, Kristal segera turun dari ranjang.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Langit yang menyadari istrinya sudah tidak ada dalam pelukannya lagi
"Sayang, sepertinya ada yang sedang memasak di dapur"
Mata tajam Langit perlahan terbuka. "Mungkin tetangga"
"Tidak, Mas. Aku akan memeriksanya"
Kristal bergegas menuju ke lantai bawah, diikuti Langit yang hanya mengenakan boxer tanpa kaosnya.
Begitu tiba di bawah, rupanya Mama Mauralah yang memasak. "Mama"
Wanita itu tersenyum pada anak dan menantunya, "Kapan Mama datang?" tanya Langit pada Mamanya
"Semalam", jawabnya lalu meletakkan koloke di atas meja. Langit dan Kristal saling berpandangan
"Kalian mandilah dulu lalu sarapan bersama"
Keduanya mengangguk, sebelum akhirnya Mama Maura mengatakan kalimatnya lagi, "Oh ya", Langit dan Kristal berbalik lagi menatap Mama Maura, "Mama tahu kalian masih muda. Jiwa kalian tentu penuh dengan perualangan. Tapi kalau bisa, jangan bercinta di atas balkon. Kalian harus ingat, rumah kalian ini bukan vila yang letaknya berjauhan dengan rumah lainnya. Jadi, kedepannya berhati - hatilah"
Wajah Kristal memerah, dia malu bukan main. Apa ... Semalam Mama Maura melihat percintaan mereka? Astaga, betapa malunya Kristal
"Mama lihat kami semalam?"
Astaga, pertanyaan bodoh apa yang Langit lontarkan. Rasanya Kristal ingin memukul suaminya itu.
"Menurutmu?"
Jawaban Mama Maura jelas menunjukkan kata ya. Kristal segera melipir ke kamar saking malunya.
"Kamu malu?" tanya Langit yang segera menyusul sang istri
"Jelaslah, Mas. Kenapa masih bertanya?"
Langit terkekeh, "Selain melihat, apa Mama juga mendengar desahanmu?"
Kristal menatap suaminya tajam, kata desahanmu kenapa rasanya hanya ditujukan untuk dirinya. Padahal semalam suaminya itu juga mendesah tak kalah hebat dengannya.
__ADS_1
"Mau mencobanya lagi sekarang?" Langit menaik-turunkan alisnya
"JANGAN GILA, MAS!!"