
Suasana semakin kacau saat Mama Rani dan Oma Yasari pingsan. Mama Dian dan Papa Gama ikut serta mengantar mereka ke rumah sakit. Yazna pergi entah kemana. Sementara Ken, dia terlihat kalut dan frustasi.
"Bagaimana mungkin wanita itu hamil? Aku hanya beberapa kali memakainya!"
Ken marah pada dirinya sendiri. Semua tidak akan sekacau ini jika dia bisa menahan diri. Kehilangan Kristal, terpaksa menikahi Yazna yang mengandung darah dagingnya dan beban pekerjaan yang begitu berat membuat Ken mengenal dunia malam. Tertarik pada salah satu wanita disana karena wajahnya yang mengingatkannya pada Kristal. Hanya dua atau tiga kali, dirinya bahkan sudah lupa. Lalu, bagaimana bisa wanita mengandung anaknya? Wanita itu wanita malam, yang setiap malamnya tidur dengan banyak pria. Bisa jadi dia mengandung anak pria lain, bukan?
"Aku harus mencarinya!", Ken segera meninggalkan ballroom hotel
Kini hanya tersisa Langit dan Kristal. Setelah kelacauan tadi, Langit membawa istrinya ke dalam kamar. Kristal terlihat menatap keluar jendela, menikmati lampu - lampu gedung bertingkat yang terlihat gemerlapan
"Apa belum puas?" pertanyaan Langit membuat Kristal menatap suaminya
"Tidak sampai mereka benar - benar hancur!"
Langit mendekati istrinya, berdiri disamping wanita itu sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, "Kamu punya aku, Kris. Kenapa harus menderita sendiri jika kamu memiliki tempat untuk bersandar? Kecuali", Langit menatap Kristal lekat, "Kau sudah tidak menganggap berarti keberadaanku"
Kristal menggigit bibir bawahnya, wanita itu memeluk lengannya sendiri tanpa memberikan jawaban
"Aku tahu bagaimana hancurnya kamu karena kehilangan anak kita. Tapi kamu harus tahu, aku juga sama hancurnya. Bahkan rasanya ingin mati! Aku berdoa, memohon pada Allah agar dia tetap membiarkan kita bersama. Tapi nyatanya, setelah kamu sadar, kamu justru tidak mau mengingatku!"
"Mas ..."
"Kamu tidak amnesia, Kris! Kamu berpura - pura! Kamu meminta dokter mengatakan hal yang tidak sebenarnya!!", melihat emosi Langit, Kristal semakin menunduk, "Katakan salahku dimana?! Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?! Kamu ingin mengakhiri semuanya?!"
Deg
Kristal menggeleng dengan mata berkaca - kaca. "Aku ... Minta maaf" lirihnya pelan
"Jika saja aku tidak mendengar permintaanmu pada dokter waktu itu, mungkin sampai sekarang, aku akan percaya dengan semua yang terjadi!"
"Mas ... Aku-"
"Istirahatlah. Kamu pasti lelah karena menyusun semua rencana ini sendirian. Aku akan memberimu waktu. Aku akan pergi ke Maladewa beberapa waktu kedepan"
__ADS_1
Langit mulai melangkah, namun Kristal segera memeluknya dari belakang, "Maaf" cicitnya pelan
Langit menyeringai,
"Maafkan aku, Mas. Aku ... Aku hanya terlalu takut. Aku hanya tidak mau semakin membebanimu dengan semua ini"
"Tapi nyatanya apa yang kamu lakukan membuatku terluka, Kris. Aku merasa kamu sudah tidak membutuhkanku lagi"
Kristal mengeratkan pelukannya dan menggeleng, "Aku mencintaimu, Mas. Sangat. Maafkan sikapku selama ini. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi"
Langit bungkam, melihat suaminya tak memberikan reaksi apapun, Kristal membalik tubuh Langit untuk menghadap dirinya. "Mas, kamu tidak mau memaafkanku?"
"Aku butuh waktu"
"Apapun! Katakan padaku bagaimana agar kamu mau memaafkanku! Aku akan melakukan apapun asal kamu mau memaafkan aku"
Langit menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Senyum samar yang Kristal sendiri tak mungkin melihatnya
"Kamu yakin mau melakukan apapun yang aku mau"
Kristal mengangguk. Langit mendekatkan bibirnya ke telinga Kristal, "*I want 69!"
Deg
🌻🌻🌻*
Begitu Kristal menyetujui syarat yang Langit berikan. Langit langsung membawa sang istri ke atap hotel. Kristal dibuat tercengang saat melihat sebuah pesawat sudah terparkir disana.
"Mas?"
"Kita akan ke Maladewa malam ini juga"
Kristal tak punya pilihan untuk menolak. Ia pasrah akan di apakan juga oleh suaminya disana.
__ADS_1
Langit membawa Kristal masuk ke dalam pesawat pribadinya. Kemudian pilot segera menerbangkan burung besi itu ke tempat yang akan dituju.
Kristal menyandarkan kepalanya dibahu sang suami. Perjalanan yang akan mereka tempuh begitu panjang. Tidak ada salahnya memanfaatkan waktu yang ada untuk beristirahat bukan?
Berbeda dengan Kristal yang mulai memejamkan mata. Langit justru menatap ke luar jendela. Gelap dan hitam. Sama seperti hatinya beberapa waktu yang lalu. Saat ia harus kehilangan calon anak mereka. Kemudian, Kristal yang memilih untuk berpura - pura amnesia. Langit sempat frustasi dengan keadaan yang ada. Kerap kali ia mendengar tangis sang istri di malam hari. Kesedihan seorang ibu yang meratapi kepergian anaknya. Kesedihan Kristal menjadi luka terbesarnya. Apalagi, Kristal lebih memilih untuk menikmati sakitnya seorang diri.
Setelah ini, hanya akan ada kebahagiaan di antara kita, Sayang. Aku tidak akan membiarkanmu mengulang luka ini sendirian.
Perjalanan yang mereka tempuh, cukup panjang. Pesawat harus transit di bandara Changi (Singapura) terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Male. Setelah menempuh perjalanan selama delapan jam lamanya. Akhirnya mereka tiba di Maladewa. Kristal sempat terbangun, namun tidur lagi karena perjalanan masih setengah jalan. Langit yang tak tega membangunkan istrinya, memilih menggendong Kristal turun dari pesawat. Mobil yang akan mengantar mereka ke resort sudah standby. Tentu Langit tak akan membuang waktu untuk segera membawa istrinya beristirahat.
Mereka akhirnya sampai di salah satu resort paling terkenal di Maladewa. Lokasinya di pinggir pesisir pantai. Dengan pemandangan hamparan laut yang begitu luas. Sungguh indah dan mempesona.
Selama perjalanan, Kristal masih tertidur pulas. Dan Langit, tentu tak mau mengganggu kenyamanan sang istri. Di rebahkannya tubuh Kristal di atas ranjang. "Tidurlah, Sayang. Karena sebentar lagi hukumanmu akan segera dimulai"
🌻🌻🌻
Kristal merasa dingin. Dia menarik selimut lalu bergelung di dalamnya. Nyaman dan hangat. Namun, beberapa detik kemudian ia mulai membuka mata saat kesadarannya mulai terkumpul. Matanya perlahan terbuka dan ya. Dia tidak sedang dalam pesawat sekarang
"Sudah bangun, istriku?"
Kristal menatap Langit yang berdiri tak jauh darinya. Pria itu hanya mengenakan bathrobe yang sedikit terbuka di bagian dada. Kristal sendiri baru menyadari jika hawa dingin yang menyerangnya karena ia tak mengenakan apapun kecuali selimut yang menutupi tubuhnya
"Apa yang-"
Kristal tak melanjutkan omongannya saat Langit lebih dulu membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman. Ciuman lembut yang begitu ia rindukan. Ciuman yang membuatnya melayang. Dan ciuman yang perlahan semakin terasa liar.
Kristal mengerang pelan saat Langit mulai meraba bagian tubuh lainnya. Ciuman keduanya terlepas untuk menghirup udara. Kemudian mereka melanjutkan lagi ciuman yang lebih dalam.
"Kau sudah membuatku puasa sebulan lebih, Kris. Kamu juga menyiksaku setiap malam. Jadi malam ini kamu harus mendapat hukuman!"
Kristal menggigit bibir bawahnya. Jujur, dia juga merindukan suaminya. "Aku siap menerima hukuman darimu, Mas"
Langit menyeringai, "Aku mau 69!"
__ADS_1