Langit Kristal

Langit Kristal
Bab 60


__ADS_3

Langit, Kristal, Papa Gama dan Mama Dian baru saja mengantar Ken ke bandara. Selain mengantar dan melepas kepergian Ken, mereka juga menjemput Opa David dan Oma Clara. Dua sesepuh keluarga Mahaditya itu baru saja pulang dari liburan masa tua mereka.


"Kami juga mau ikut ke rumah sakit. Kami ingin melihat langsung jenis kelamin calon cicit - cicit kami" seru Oma Clara begitu antusias


"Tentu saja boleh, Oma. Kita semua akan ikut" jawab Langit


Kristal meringis, bukan karena dia tidak suka semua keluarganya ikut. Enam orang ditambah di satu totalnya jadi tujuh. Padahal yang akan periksa hanya dirinya, sudah pasti mereka akan menimbulkan kehebohan nantinya.


"Ya sudah, sebaiknya kita berangkat sekarang. Mamanya Langit sudah sampai dirumah sakit katanya" seru Mama Dian


Mereka segera masuk kedalam mobil. Mama Dian, Papa Gama, Oma Clara dan dan Opa David satu mobil. Sedangkan Kristal dan Langit menggunakan mobil yang berbeda.


Perjalanan menuju ke rumah sakit membutuhkan waktu cukup lama karena jalanan yang macet. Pukul empat belas lewat sepuluh menit, mereka semua sampai dirumah sakit. Benar saja, baru memasuki pintu rumah sakit, mereka sudah menjadi pusat perhatian. Siapa yang tidak mengenal keluarga pengusaha ini. Selain Papa Gama dan Mama Dian yang memang cukup dikenal masyarakat, Langit pun tak kalah tenar dengan mertuanya. Pemilik salah satu marketplace terkenal itu tentu menyita perhatian banyak orang. Dan yang paling mengusik perhatian pengunjung lain adalah sosok bumil cantik yang dikelilingi banyak orang.


"Kita kayak orang mau demo" bisik Kristal pada sang suami


Langit menatap istrinya tanpa melepas genggaman tangan mereka, "Jangan hiraukan orang - orang. Yang penting keluarga kita bahagia"


Kristal menoleh ke belakang sekilas, Oma Clara tersenyum lebar padanya. Wajah tua itu juga tampak berseri - seri. Kristal jadi menyesal sudah sempat keberatakan akan keikutsertaan mereka meski ia tak mengutarakannya.


"Kamu benar, Mas. Wajah bahagia mereka lebih penting dibanding apapun"


Langit mengangguk, begitu tiba didepan ruangan dr. Angeline, suster sudah menyambut dan langsung menyuruh mereka masuk.


"Wah, saya kedatangan tamu rombongan, ini" seru dr. Angeline tertawa


"Kenalkan, Ngel. Ini besan saya" ucap Mama Maura


"Salam kenal, saya dr. Angeline"


"Senang bertemu dengan Anda, dr"


dr. Angeline mempersilahkan keluarga Kristal duduk di sofa. Beruntung, ruangan dr. Angeline begitu luas. Jadi bisa menampung keluarga Kristal yang cukup banyak.


"Kita periksa dulu ya", Kristal mengangguk, dibantu suster, dia melakukan penimbangan berat badan dan tensi darah. Setelah itu, barulah detik - detik menegangkan mulai terjadi. Opa David yang paling heboh, dia berdiri paling dekat dengan Kristal. Kristal sendiri sedikit malu dan sungkan, pasalnya, semua keluarga mengelilingi dirinya sekarang.


"Sepertinya kehadiran baby twins membawa kebahagiaan buat semua orang ya? Kalian semua terlihat begitu antusias" seru dr. Angeline

__ADS_1


"Tentu saja dok. Ini cucu pertama dan cicit pertama di keluarga kami"


dr. Angeline tersenyum, "Baiklah, mari kita lihat jenis kelamin baby twins"


Tranducer mulai digerakkan di atas perut Kristal. Tentu saja semua pasang mata menatap layar monitor dengan wajah deg - degan. Mereka sudah tak sabar ingin melihat jenis kelamin anak - anak Kristal dan Langit.


"Yang satu ini, baby girl" ucap dr. Angline


"Ah ... Akhirnya aku punya cucu perempuan. Aku senang sekali" heboh Mama Maura


"Lalu yang satunya dok?" tanya Oma Clara tak kalah antusias


"Wah ... Yang satu baby boy"


"Yeay ...!" teriak Papa Gama dan Opa David bersamaan. Bahkan mereka berpelukan sambil berputar - putar seraya bergandengan tangan.


"Cucuku laki - laki dan perempuan!"


"Mereka pasti akan sangat menggemaskan" heboh Oma Clara


"Selamat ya. Anak kalian sepasang" ucap dr. Angeline


Kristal dan Langit saling menatap. Kebahagiaan jelas tergambar di wajah keduanya. "Berat bayi normal. Air ketubannya juga cukup. Penambahan berat badan bumil juga tidak berlebihan. Semua baik", tentu saja hal itu membuat semua keluarga lega dan sangat bahagia. "Kalian kamu mendengar detak jantungnya?" tawar dr. Angeline


"Tentu dok" jawab Langit


Jedug Jedug Jedug


Darah Langit berdesir. Suara detak jantung kedua calon anaknya membuat perasaan calon Ayah itu menghangat. Begitupun dengan Kristal. Matanya sudah berkaca - kaca saat menatap layar monitor di atasnya. Suasana heboh tadi seketika berubah haru, apalagi saat Langit tak mampu menahan air matanya yang tiba - tiba turun membasahi pipi.


"Terima kasih banyak dok"


"Tentu"


🌻🌻🌻


Usai melakukan pemeriksaan, Papa Gama mengajak seluruh keluarganya mampir di sebuah restoran. Sudah sore juga, tidak masalah jika makan malam maju satu setengah jam dari biasanya. Masakan nusantara khas Indonesia menjadi pilihan semuanya.

__ADS_1


Mobil Langit dan mobil Papa Gama parkir di parkiran restoran. Satu persatu turun dari mobil dan masuk bersama - sama ke dalam restoran. Memilih duduk di gazebo tepat di atas kolam ikan, mereka semua menikmati sore dengan suasana kekeluargaan yang hangat. Tentunta setelah memesan beberapa menu.


Lampu - lampu kuning mulai menyala. Tak lama, pesanan mereka datang. Dan semua orang mulai menyantap pesanan masing - masing. Langit dengan telaten memisahkan ikan bakar yang Kristal pesan dari durinya.


"Terima kasih, Mas"


"Sama - sama, Sayang" jawab Langit tersenyum


Beruntung, memasuki bulan ke empat, mual muntah Langit mulai mereda. Dia bisa makan dengan nyaman tanpa memuntahkannya kembali dengan syarat, dia makan makanan bekas Kristal makan. Walau sebenarnya, bukan asli bekas. Jika ada dua piring, maka Kristal akan makan satu atau dua suap milik Langit sebelum suaminya itu memakannya. Dengan begitu, Langit bisa makan dengan nyaman.


"Ini, Mas" ucap Kristal menyerahkan makanan milik suaminya yang sudah dia makan dua suap tadi


"Terima kasih, Sayang"


"Makan yang banyak, Lang. Biasanya, orang kalau habis nangis, butuh banyak energi" cibir Opa David


"Benar. Walau kamu nangis karena haru. Tetap saja butuh makan banyak" lanjut Mama Maura


Langit hanya tersenyum malu. Menangis bahagia apa salahnya. Ya kan?


"Aku yakin, nanti anak - anak akan mirip denganku" ucap Langit percaya diri


"Ck. Harus mirip Opanya lah" ucap Papa Gama tak mau kalah


"Ya harus aku lah, Pa. Aku yang bikin"


"Mana boleh begitu. Kristal itu putriku satu - satunya. Tentu saja anaknya akan mirip aku"


Mama Dian menggelengkan kepala saat menantu dan mertua itu mulai lagi dramanya.


"Sudah, deh. Mau mirip Langit ataupun Kristal, yang jelas anak - anak mereka pasti cantik dan tampan seperti Papa dan Mamanya" ucap Mama Dian menengahi


"Benar. Yang penting ibu dan bayinya sehat, mirip siapapun nantinya"


"Setuju" sahut bumil cantik yang langsung membuat semua orang tersenyum.


Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang menatap masam pemandangan tersebut. Jika Ayah Saka menatap mereka iri sekaligus penuh penyesalan, berbeda dengan Yazna yang menatap mereka sinis.

__ADS_1


"Kamu juga ikut andil dalam kehancuran hidupku, Kris. Jadi, sebaiknya hidupmu juga sama hancurnya denganku!"


__ADS_2