
Suasana duka terlihat kentara di kediamannya. Beberapa tetangga mulai berdatangan. Ken yang baru saja turun dari mobil segera masuk kedalam. Di ruang tamu, Mama, Papa dan Opanya tampak duduk didepan jenazah Oma Yasari. Beberapa pelayat tengah mengaji.
"Kamu sudah datang, Nak?" sapaan Opa Damar membuat Mama Rani dan Ayah Tri menatap kedatangan putranya. Ken segera duduk disamping Opa Damar lalu menatap Omanya yang sudah tak bernyawa
"Kamu sudah puas, Ken?" pertanyaan lirih Mama Rani membuat Ken menatap ibu kandungnya itu
"Ma" tegur Papa Tri
"Oma pergi karena masalah yang kamu buat!" lirih Mama Rani seraya meneteskan air mata
"Maafkan aku, Ma. Aku menyesal" suara Ken tak kalah lirih
Mama Dian dan Papa Gama yang baru datang langsung bergabung di ruang tamu. "Kami turut berduka cita, Paman"
Mama Rani menatap sekilas sahabatnya itu, "Kamu datang, Di?"
Mama Dian mengangguk, walau hubungan mereka tak terlalu baik belakangan ini, namun bukan berarti dia memiliki alasan untuk tidak hadir di hari penghormatan terakhir Bibi Yasari, wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu. "Yang ikhlas ya, Ran"
Mama Rani mengangguk, "Terima kasih sudah datang"
Para pelayan semakin banyak yang datang, jenazah Oma Yasari yang memang sudah dimandikan segera di sholatkan. Untuk terakhir kalinya, semua keluarga bisa melihat wajah wanita sepuh tersebut. Duka dan kehilangan, tentu tidak ada satu orang pun yang menginginkannya. Tapi perpisahan memanglah pasti terjadi walau terasa menyakitkan.
"Mari kita antar almarhumah ke peristirahatannya yang terakhir" ucap Pak Ustad
Keluarga Opa Damar mengangguk, usai jenazah di sholatkan, mereka segera menuju ke pemakaman. Meski menerima perlakuan dingin dari sang ibu, Ken tetap mengantar kepergian Oma.
Begitu tiba di pemakaman, dipandu oleh ulama, jenazah Oma segera dikebumikan. Seluruh keluarga melepas kepergian Oma dengan tangisan kesedihan. Walau berusaha ikhlas, namun mereka tentu masih menyimpan kesedihan.
Maafkan aku, Oma. Karena kesalahanku, Oma harus pergi secepat ini. Sesal Ken dalam hati
Langipun turut mendung. Seolah tahu jika keluarga ini tengah berduka. Nama Yasari dibatu nisan baru saja ditanam diatas gundukan tanah. Mama Rani masih menangis sesegukan, sementara Papa Tri dan Opa Damar terlihat lebih tegar.
__ADS_1
Kristal dan suaminya yang baru saja tiba di pemakaman segera bergabung dengan Mama Dian dan Papa Gama. Para pelayat satu persatu mulai meninggalkan area makam. Sesaat, mata Ken bertatapan dengan mata Kristal. Terlihat jelas sorot mata pria itu menunjukkan kesedihan.
"Kami turut berduka cita, Tante" ucap Langit pada Mama Rani
"Terima kasih" sahutnya lemah. Papa Tri yang melihat sang istri masih terpukul segera membawanya pulang. "Kami pulang duluan"
"Iya, Bang. Kami sebentar lagi juga akan menyusul" ucap Mama Dian
Keluarga Papa Gama itu menyempatkan diri duduk di depan pusara Oma Yasari, kemudian melantunkan doa untuk mendiang almarhumah.
Ken yang juga belum pulang tak henti menatap Kristal. Hatinya mencelos saat menyadari ada bekas merah di leher wanita itu. Meski tak terlalu kentara, namun Ken masih bisa melihatnya.
Tidak ada kesempatan lagi, Ken.
Setelah berdoa, Mama Dian dan Papa Gama serta anak dan menantunya juga ikut pulang kerumah keluarga Damar.
Setibanya disana, terlihat beberapa pelayat masih berdatangan. Mama Dian dan Kristal memilih membantu di dapur, sementara Langit dan Papa Gama berada di depan ikut menemui para tamu.
"Baiklah, Bang. Aku akan mencoba membujuk Rani supaya dia mau makan"
"Terima kasih", sahut Papa Tri lalu kembali ke luar
Mama Dian segera mengambil sepiring nasi beserta lauknya. Kemudian membawanya ke kamar dimana Mama Rani berada
Tok Tok Tok
Tidak ada sahutan, Mama Dian memutuskan masuk karena pintunya memang tidak di kunci.
"Ran", panggilan dari Mama Dian membuat sahabatnya untuk menoleh. Matanya masih sembab karena terus saja menangis
"Kata Bang Tri, sejak semalam kamu belum makan. Kamu harus makan, Ran. Kalau tidak, kamu bisa sakit" Mama Dian duduk disamping wanita itu
__ADS_1
Mama Rani menatap sahabatnya lekat, bukannya menerima piring yang Mama Dian berikan, Mama Rani justru semakin tergugu. Tangisannya terdengar sangat pilu. Mama Dian segera memeluknya, mengusap bahu bergetar itu supaya lebih tenang, "Menangislah jika itu bisa membuatmu merasa lega"
Ucapan Mama Dian seolah bagai mantra, bahu Mama Rani semakin bergetar, "Aku minta maaf, Di. Tolong maafkan aku"
Pelukan mereka terlepas, Mama Dian menatap sahabatnya lekat, "Kenapa kamu meminta maaf, Ran?"
"Karena aku sudah sangat egois belakangan ini. Aku terlalu arogan bahkan aku membuat hubungan kita merenggang. Aku ... Aku sungguh malu, Di. Bahkan sangat malu. Harusnya aku sadar, jika bukan karena kebaikanmu, kehidupan keluargaku tidak akan bisa sebaik sekarang. Tolong maafkan aku"
Isakan Mama Rani membuat Mama Dian kembali memeluk sahabatnya itu. "Aku sudah memaafkanmu, bukankah setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan? Dan setiap kesalahan berhak mendapatkan maaf. Lagipula, kita ini adalah keluarga"
Mama Rani memeluk erat Mama Dian, "Terima kasih, banyak Di. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu sampai kapanpun. Tolong setelah ini jangan pernah memutus tali silaturahmi di antara kita, ya"
"A-apa maksudmu? Kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Kami memutuskan untuk pulang ke kampung halaman Ayah"
Deg
Tidak hanya Mama Dian yang terkejut, Ken yang ternyata berada di balik pintu juga tak kalah terkejutnya.
"Kenapa, Ran? Kenapa kalian mau pulang? Apa karena hubungan kita selama ini renggang? Atau ... Kamu sudah tidak mau tinggal dirumah inl lagi? Kalau kenangan Bibi terlalu membebani kalian, aku bisa mencarikan rumah lainnya untuk tempat tinggal kalian"
Mama Rani tersenyum hangat, dia memegang tangan Mama Dian dengan lembut, "Semua tidak ada hubungannya denganmu atau rumah ini, Di. Keputusan ini kami ambil karena kami ingin memulai hidup baru yang lebih damai. Terlalu banyak masalah yang datang, kami ingin segera melupakannya"
"Ran"
Panggilan lirih Mama Dian membuat Mama Rani kembali meneteskan air mata, "Aku malu, Di. Hiks ... Aku sudah gagal mendidik putraku menjadi orang yang baik. Aku gagal, Di. Aku ... Aku ikut berdosa atas semua yang dia lakukan. Aku tidak baik - baik saja. Aku hancur, Di. Bahkan rasanya menatap semua orang aku tak mampu. Ken tidak hanya melempar kotoran ke wajah kami sekali, tapi berkali - kali. Dia telah merusak masa muda Kristal. Dia melakukan zina sebelum menikah. Menikah dengan anak dari orang yang aku benci. Lalu Ken juga melakukan zina dengan perempuan - perempuan malam bahkan sampai hamil. Kau tidak akan tahu betapa hancurnya aku, Di. Aku sangat hancur bahkan rasanya aku ingin mati saja"
Ken tak mampu membendung air matanya mendengar semua ungkapan hati sang bunda. Dia mengusap wajahnya kasar lalu berbalik
"Ken ..."
__ADS_1
Deg