
"Bangunkan dia!", perintah Kristal
Byur
"Hah!!" teriak seorang wanita yang baru saja disiram satu ember air oleh anak buah Kristal, "Kurang ajar!!" ucapnya marah
"Sudah bangun Tuan putri? Sepertinya kamu mimpi indah sampai - sampai kamu tertidur seperti orang mati!" tanya Kristal sinis
Yazna menatap sekeliling. Gelap dan berdebu. Sepertinya tempat ini sudah lama tidak ia tinggali. "Aku sudah menduga kaulah yang berada di balik semua ini!!"
Tawa Kristal menguar, "Bukankah kamu ingin mengikuti permainanku dan melihat siapa yang menang? Ini baru di awal, Yaz. Tapi lihat sendiri kan? Aku selangkah lebih maju darimu!"
"Itu karena kamu licik!"
Lagi - lagi Kristal tertawa, "Ya, mungkin aku licik. Bisa dibilang, aku juga cerdik. Tapi aku tidak sejahat dirimu, yang dengan tega membunuh bayi - bayi yang tidak berdosa!"
Yazna menatap Kristal murka. Satu kata yang baru terlontar dari bibir istri Langit itu membuatnya marah. "Tutup mulutmu itu!"
Kristal berjalan mendekat kemudian berjongkok di depan Yazna. "Kamu masih angkuh sama seperti sebelumnya. Apa harus aku ingatkan jika sekarang kamu bukan siapa - siapa?", Kristal menatap Yazna dengan tatapan yang tak terbaca, "Ken sudah menceraikanmu. Ayahmu juga sudah meninggalkanmu. Bukankah sekarang sudah tidak ada lagi orang yang peduli padamu? Seharusnya kamu bisa bisa bersikap lebih ramah agar mendapat rasa iba dari orang lain"
Yazna mematap Kristal tajam. "Ken tidak akan menceraikanku! Dan Ayah juga tidak akan tega meninggalkan aku!"
"Benarkah?", Kristal tersenyum sinis, "Persidangan sudah digelar kemarin dan kamu justru tidak menghadirinya. Bukankah hal itu membuat perceraianmu semakin mudah"
Mata Yazna membelalak, "Jangan bicara omong kosong!"
Kristal mengangguk, "Aku hanya membantumu lebih muda terlepas dari Ken. Aku sungguh merasa kasihan padamu, Yaz. Ken itu tidak pernah mencintaimu. Bahkan dia menghamili wanita malam. Dia juga lebih suka tidur dengan wanita penghibur daripada dirimu yang notabene adalah istrinya", Kristal mendramatisir, "Aku tahu, kamu begitu hancur dan terluka. Sebagai sesama wanita, tentu aku memiliki rasa simpati yang besar. Untuk itu aku membawamu kemari"
"Apa maksudmu?!"
"Tentu saja membuatmu cepat bercerai dengan Ken!"
"Dasar wanita ******! Kamu pasti sengaja melakukan semua ini agar bisa kembali pada Ken, bukan? Jangan pernah bermimpi Kris! Selama aku masih hidup, semua itu tidak akan pernah terjadi!!"
"Aku tidak sejahat itu, Yaz", Kristal menatap Yazna dengan senyuman smirknya. "Untuk apa juga aku menginginkan pria bekas! Suamiku jauh lebih segalanya dibanding calon mantan suamimu itu!"
Yazna justru tertawa, "Orang bilang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kamu dan Diandra ternyata benar - benar sama. Kalian berdua adalah wanita perusak kebahagiaan orang lain!"
__ADS_1
"Arrgg!!", Yazna kembali meringis saat Kristal menekan wajahnya dengan kuat, "Mulut kotormu itu bahkan tidak berhak mengomentari aku daj Mama!! Jika selama ini kamu menganggap diamku tak berarti, maka kamu harus mengenal Kristal yang sekarang!"
"Cih! Kamu pikir aku takut padamu? Dengar Kris! Sejak dulu aku sudah sangat membencimu! Membenci semua hal yang berhubungan dengamu! Karena kamu, dan juga Mamamu yang ****** itu sudah menghancurkan hidupku!"
Plak
Yazna meringis saat pipinya ditampar begitu keras oleh Kristal. "Tampar lagi! Tampar saja sampai kamu puas. Meski aku mati, semua tidak akan menghilangkan fakta jika Mamamu itu memang ******!! Argg!!" ringisan Yazna terdengar lantang,
"Seharusnya aku membiarkan saja tubuh kotormu dinikmati pria hidung itu! Kau sungguh wanita yang tidak tahu diri, Yaz!! Tidak salah jika semua orang meninggalkanmu!"
"Aku pasti akan membalas semua yang kamu lakukan, Kris!! Aku bersumpah!!"
"Lakukan! Tapi sebelum itu terjadi, aku pastikan kamu yang hancur lebih dulu!"
Kristal beranjak meninggalkan kamar dimana Yazna di sekap. Kamar usang berdebu yang cukup gelap. "Awasi dia! Pastikan dia tidak kabur!"
"KELUARKAN AKU DARI SINI, KRIS!!!"
Brak
🌻🌻🌻
Kristal kembali ke kantor setelah mengunjungi Yazna. Mobil yang membawanya mulai melaju membelah jalanan.
Semalam
*Kristal baru saja menutup teleponnya. Ia memang meminta anak buahnya mengawasi Yazna. Kristal juga menutup semua akses agar Yazna tidak diterima di semua penginapan dan hotel. Tujuannya hanya satu, yaitu menggiring wanita itu agar masuk ke hotelnya.
Malam harinya, ia mendapat informasi jika ada pria tua yang datang ke kamar Yazna. Kristal berfikir, mungkin pria itu adalah Ayah Saka. Namun ternyata, pria itu adalah salah seorang pengusaha. Entah apa niat dan tujuannya, akhirnya Kristal meminta anak buahnya membereskan masalah ini. Tentu saja selain tak mau hotelnya tercemar dengan hal tak senonoh, ia tak mau kehilangan Yazna. Sudah saatnya wanita itu mendapat balasan atas semua perbuatannya*
"Kita sudah sampai, Nona"
Panggilan sang sopir membuat lamunan Kristal tersadar, "Ah ... Terima kasih, Pak"
Kristal segera turun dari mobil kemudian masuk kedalam. Beberapa karyawan tersenyum ramah melihat kedatangannya. Jam makan siang telah usai, tentu para karyawan mulai masuk ke ruangan masing - masing. Saat memasuki lift, rupanya Ken juga akan masuk ke dalam lift. Suasana berubah canggung bagi Ken. Tapi tidak bagi Kristal yang terlihat cuek dan terkesan dingin.
"Kris", panggil Ken
__ADS_1
"Ini di kantor, Tuan Ken. Ada baiknya Anda bersikap formal, apalagi saya adalah atasan Anda!"
Ken terdiam, rasanya, semakin jauh saja harapannya untuk kembali bersama mantan kekasihnya itu.
Ting
Pintu lift terbuka, dan sungguh kebetulan Langit berdiri didepan pintu lift. Tatapannya menajam melihat sang istri berdua dengan Ken.
"Mas, kamu datang?"
Langit hanya tersenyum tipis. Tadinya Langit akan pergi saat istrinya tidak ada diruangnnya. Tapi semua ia urungkan, Langit merengkuh pinggang Kristal posesif lalu berbalik meninggalkan Ken yang masih terdiam di tempat.
Begitu sampai di dalam ruangan sang istri, Langit langsung membungkam bibir istrinya rakus. Kristal awalnya cukup terkejut, namun karena ia sudah hafal peringai sang suami, tentu ia bisa dengan mudah mengimbangi Langit.
"Mas" panggil Kristal di sela ciuman mereka.
"Kamu telah berani membuatku cemburu, Kris. Untuk itu, kamu harus dihukum!"
Kristal pasrah ketika Langit membawanya masuk ke kamar pribadi di dalam ruangannya. Ia tahu, suaminya itu tengah cemburu. Dan hanya dirinya yang mampu meredam semuanya. Penjelasan apapun sekarang rasanya percuma. Hanya sentuhannya yang bisa membuat Langit membaik.
Langit membawa Kristal ke depan cermin meja rias, "Lihatlah dirimu, Sayang" bisikan Langit membuat Kristal menatap cermin. Dia melihat jelas bayangan dirinya dan sang suami. "Kamu hanya milikku. Dan aku tidak suka jika kamu berdekatan dengan pria lain, khususnya mantan terburukmu itu!"
Berbeda dengan Kristal dan Langit yang tengah mengarungi indahnya surga dunia, Ken justru tenggelam dalam lamunannya. Harapannya bersama Kristal tentu sudah pupus. Wanita yang masih belum ia yakini kebenarannya telah mengandung janinnya itu juga menghilang bak di telan bumi. Belum lagi proses perceraiannya bersama Yazna juga Mamanya yang masih belum mau bertemu dengannya membuat kepala Ken rasanya mau pecah. Di tambah pekerjaannya yang begitu banyak, tentu membuat Ken frustasi. Kepercayaan Mama Dian juga telah hilang. Belakangan ini begitu banyak masalah yang menderanya.
"Aku tidak boleh menyerah. Aku harus menyelesaikan semuanya satu persatu"
Ken mulai mengerjakan pekerjaannya, hingga terdengar bunyi ponsel dari dalam sakunya
"Papa"
Ken segera mengangkat teleponnya
"Ya, Pa?"
"Nenek meninggal Ken"
Deg
__ADS_1