
Langit kalang kabut, suami Kristal itu terlihat panik bukan main. Bukannya lekas, semua malah semakin lambat. Sebagai orang yang berpengalaman, Mama Maura berdecak kesal
"Lang, cepetan!!"
"I-iya Ma"
Langit menenteng tas berisi keperluan babynya. Pria itu berlari dan memasukkannya asal ke dalam bagasi, kemudian menghampiri Kristal yang terlihat meringis menahan sakit.
"Pelan - pelan, Sayang" ucapnya seraya menuntun sang istri menuju ke mobil. Kristal duduk dibangku belakang bersama Mamanya. Kemudian Langit segera masuk ke kursi kemudi.
"Fokus nyetirnya Lang, Kristal aman sama Mama"
Langit mengangguk lalu mulai menginjak gas. Dalam kondisi seperti saat ini, tentu dirinya tak tenang. Langit sering kali menatap kaca spion untuk melihat sang istri. Wanita itu sesekali menggigit bibirnya sendiri. Keringat mulai terlihat di dahi Kristal membuat Langit semakin khawatir melihatnya.
"Lang, cepetan sedikit!"
"I-iya Ma. Ini udah gas pol rem blong"
Masih sempat - sempatnya terkekeh, Kristal berusaha tenang menahan nyeri yang datang semakin sering itu.
"Tarik nafas, hembuskan perlahan Sayang. Itu akan mengurangi nyerinya" seru Mama Maura
Langit kembali menatap kaca spion. Wajah kesakitan tanpa keluh itu membuatnya ikut nyeri. Tak ada seruan yang keluar dari bibir Kristal, padahal dilihat dari wajahnya saja, Langit bisa tahu jika istrinya sedang menahan sakit.
"Sayang, teriak aja kalau sakit. Nggak usah malu" sekalinya bicara, ucapan Langit membuat Mama Maura semakin kesal
"Dasar semprul! Sudah bagus istrimu bisa mengendalikan rasa sakitnya. Kamu malah nyuruh dia teriak!"
"Loh, kan bener Ma. Kalau sakit, lebih baik dikeluarkan saja rasa sakitnya. Mungkin dengan teriak, itu bisa membuat rasa sakit Kristal sedikit berkurang"
Kristal kembali terkekeh, ia paham jika suaminya itu sebenarnya hanya ingin menghiburnya saja. Kristal memang merasakan sakit yang lumayan menyiksa. Tapi menurutnya, berteriak bukanlah solusi. Ia harus menghemat tenaganya agar bisa mengeluarkan baby twins nanti. Lagipula, kalau bikinnya mendesah, masak mengeluarkan hasilnya malah teriak - teriak, kan malu.
Setelah membelah jalanan hampir setengah jam, mereka tiba dirumah sakit. Mama Maura yang sudah menghubungi dr. Angeline sebelumnya, membuat dr. sekaligus temannya itu sudah standby di depan lobi.
"Masih kuat kan?" tanya dr. Angeline
Kristal mengangguk, dia dipapah oleh Langit dan Mama Maura menuju ke ruang persalinan. Begitu tiba didepan ruang bersalin, rupanya semua sudah siap. Kristal diminta berganti pakain dulu sebelum dr. Angeline mengecek pembukaan wanita cantik itu.
"Saya cek dulu pembukaannya",
Kristal berbaring, ditemani Langit dan Mama Maura yang masih boleh masuk karena Kristal belum akan melahirkan. Tangan dr. Angeline sudah mengenakan sarung tangan, lalu ia memasukkan jarinya untuk mengecek pembukaan Kristal. Wanita itu sedikit meringis, merasa nyeri dibawah sana. Berbeda dengan Kristal, Langit justru merasa ngilu, perasaan bersalah sekaligus khawatir menyelimuti hatinya. Betapa besar perjuangan yang akan istrinya lakukan hanya demi melahirkan benihnya.
"Ma, apa tidak operasi saja. Aku nggak tega melihat istriku kesakitan" bisik Langit pada Mamanya
"Wanita yang akan melahirkan memang mengalami hal seperti ini, Lang. Itu hal wajar. Kamu hanya perlu memberikan dukungan pada istrimu. Selalu berada disampingnya dan menemani dia selama proses persalinan. Dengan begitu, kamu akan tahu betapa besar perjuangan seorang istri yang akan menjadi seorang ibu. Jadi jangan pernah berfikir untuk menduakan dan mengkhianati istrimu!"
"Aku tidak akan pernah melakukan itu! Aku akan menjaga Kristal dan anak - anak kami dengan segenap jiwa ragaku!"
"Sudah pembukaan tujuh. Kemungkinan, tiga jam lagi Kristal akan melahirkan. Kalau masih kuat, bisa dibawa jalan - jalan biar semakin cepat pembukaannya. Kalau rebahan, usahakan dengan posisi miring"
"Kenapa lama sekali dok?" tanya Langit
dr. Angeline tersenyum, "Memang seperti itu, Lang. Tapi pembukaan bisa cepat bisa lambat juga. Semoga saja anak kalian ingin cepat lahir, jadi tidak perlu menunggu selama itu. Setengah jam lagi, Tante akan memeriksanya lagi"
__ADS_1
dr. Angeline pamit sebentar
Langit menghampiri istrinya, mengusap kening Kristal yang penuh peluh. "Sayang, kamu masih kuat?" suara Langit terdengar lirih
"Aku kuat, Mas"
"Sayang, oh ... Kristalnya Papa", Papa Gama datang bersama Mama Dian, Opa David dan Oma Clara
Papa Gama nampak berkaca - kaca menatap putri semata wayangnya. Hatinya terasa nyeri melihat Kristal tampak pucat dengan keringat memenuhi wajahnya
"Are you okay?", Kristal mengangguk, "Putri Papa hebat. Kamu calon Mama yang hebat", Papa Gama mengecup kening putrinya
"Sayangnya Mama pasti kuat. Sebentar lagi, kamu akan bertemu malaikat - malaikat kecil kamu" ucapan Mama Dian membuat Kristal meneteskan air mata. Sekarang ia tahu betapa besar perjuangan seorang ibu. "Hei, putri Mama jangan menangis. Kamu kuat. Mama yakin, kamu kuat"
Kristal memeluk Mamanya, pemandangan itu membuat semua orang ikut terharu. "M-maaf jika selama ini Kristal belum bisa membuat Mama dan Papa bangga. K-kristal-" bumil cantik itu menggigit bibir bawahnya, nyeri itu kembali datang.
Mama Dian mengusap pelan perut besar putrinya, "Sayangnya Oma, jangan biarkan Mama sakit terlalu lama, ya. Kami semua tidak sabar melihat kalian berdua. Cepat lahir ya Sayang"
Perut Kristal semakin menegang, sakit dan nyeri itu makin sering muncul. dr. Angeline datang lagi, "Saya akan periksa lagi pembukaannya" wanita itu kembali melakukan tugasnya, "Sudah pembukaan sempurna. Kristal siap melahirkan" wanita paruh baya itu tersenyum, "Sepertinya, baby twins nggak mau Mama sakit lama - lama"
"Yang lain bisa menunggu diluar dulu ya. Satu orang saja yang menemani" tambah dr. Angeline. Tentu saja Langitlah orangnya. Semua orang segera keluar, kini, tinggal Kristal, Langit, dr. Angeline dan seorang suster didalam sana.
"Ikuti arahan dari saya ya, Kris", Kristal mengangguk
Jika ditanya, siapa yang paling merasa cemas, maka Langitlah jawabannya. Suami Kristal itu terlihat pucat melihat betapa kesakitannya sang istri selama proses persalinan. Sudah hampir setengah jam, tapi sepertinya anak - anaknya belum mau menampakkan diri. Hingga
Oek Oek Oek
"Wah, selamat ya. Kakaknya laki - laki"
"Terima kasih banyak Sayang. Terima kasih atas segala perjuanganmu melahirkan buah hati kita" Langit mengecup kening Kristal lama
Suster segera membersihkan bayi pertama Kristal. Perjuangan belum usai, masih ada satu lagi bayi yang harus Kristal lahirkan.
"Sekali lagi, kita berjuang bersama ya Kris. Tetap ikuti arahan saya"
Kristal kembali mengangguk, ia mengikuti semua arahan dr. Angeline dengan patuh. Sepuluh menit kemudian, baby girl lahir. Tangisannya tak kalah kencang dengan si Kakak. Kali ini Langit tak mampu menahan tubuhnya. Tubuhnya merosot seraya bersujud syukur. Setelahnya ia memeluk Kristal sambil menangis tersedu. "Terima banyak, Sayang. Terima kasih. Bahkan meski aku memberikan seluruh dunia dan isinya, semua tidak akan cukup untuk membayar perjuanganmu"
Kristal meneteskan air mata haru, selain karena ia bahagia karena sudah menjadi seorang ibu, Kristal juga bersyukur memiliki suami seperti Langit.
"Lang, silahkan di adzani dulu putra dan putrimu"
Langit menerima bayi laki - lakinya dengan tangan bergetar, kemudian ia mengumandangkan adzan bergantian pada kedua bayinya. Setelah di adzani, dr. Angeline meletakkan kedua bayi Kristal di depan dada Kristal. Mulut - mulut mungil itu bergerak mencari sumber makanannya. Kristal merasa geli sekaligus nyeri saat keduanya berhasil menghisap putingnya.
"Meski belum keluar, tapi inisiasi menyusui dini bisa merangsang keluarnya air susu ibu. Besok atau lusa, air susunya pasti sudah keluar" seru dr. Angeline
"Terima kasih banyak, dokter" ucap Kristal tulus
"Sudah tugas saya membantu persalinan setiap ibu hamil" jawab dr. itu, "Setelah ini, Kristal akan dibersihkan terlebih dahulu sebelum dipindahkan ke ruang perawatan beserta bayinya"
"Terima kasih, sekali lagi dokter"
"Sama - sama"
__ADS_1
Langit masih senantiasa menatap kedua buah hatinya. Keduanya sangat mirip dirinya, hanya bibirnya yang persis dengan istrinya. Ada rasa bangga dalam diri Langit melihat dua malaikatnya itu.
Bibit unggulku memang tidak perlu diragukan lagi. Keduanya bahkan sangat mirip denganku.
Berbeda dengan Langit yang tak ada puasnya menatap buah hatinya, diluar ruangan kehebohan juga terjadi. Para orang tua merasa lega setelah mendengar tangisan bayi dari dalam ruang persalinan. Papa Gama memeluk istrinya, sementara Oma Clara berpelukan dengan Mama Maura.
"Cucu - cucu kita sudah lahir" ucap Mama Langit terharu sambil mengusap sudut matanya
"Iya, Jeng. Kita sudah menjadi Oma sekarang" sahut Mama Dian
Kehebohan semakin terjadi saat Kristal dan kedua bayinya keluar dari ruang persalinan. Dua box bayi itu langsung diserbu para tetua.
"Mereka lucu dan menggemaskan" seru Oma Clara
"Semuanya mirip Langit" ucapan Mama Maura membuat Papa Gama berdecak,
"Kenapa tidak mirip dengan Opanya yang tampan ini?!"
Langit terkekeh, "Bibitku lebih unggul lah, Pa"
Mereka semua tertawa. Hingga semuanya sudah tiba diruang perawatan Kristal.
"Selamat Sayang, kamu sudah menjadi seorang ibu"
"Terima kasih, Ma"
"Kamu hebat, Nak. Kamu hebat" puji Mama Maura
"Mama juga tak kalah hebat"
Kebahagiaan tergambar jelas diwajah mereka. Pipi chuby kedua bayi itu membuat semua orang betah berlama - lama menatap keduanya.
"Langit hebat, ya. Anak - anaknya gemesin banget" seru Opa David
"Iya dong, Opa. Langit gitu loh"
"Halah, anaknya bagus juga karena Kristal cantik" sahut Papa Gama
"Iri bilang boss"
Papa Gama hanya bisa mendengus sebal. Dia sudah tak sabar melihat kedua cucunya. Tapi nyatanya, semuanya malah lebih mirip Langit. Walau demikian, Papa Gama tetap bersyukur atas kelahiran bayi - bayi menggemaskan itu.
"Eh ... itu anak siapa?" tanya Kristal saat melihat bocah kecil memasuki kamarnya
Semua orang menatap ke arahnya. Bocah tampan itu tampak cuek. Dengan santai, bocil itu mendekat ke arah box bayi Kristal.
"Nak, dimana orang tua kamu? Apa kamu tersesat?"
Bocah itu tak menghiraukan pertanyaan Langit
"Dia cantik sekali. Kalau besar, dia akan jadi istriku!"
"HAH!!"
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻
Kira - kira, anak siapakan si bocil itu ya?