Langit Kristal

Langit Kristal
Bab 48


__ADS_3

Baru saja turun dari mobil, "Lihatlah, siapa yang datang malam - malam begini? Wah ... Dia membawa serta pembunuh cucuku!"


Deg


Ayah Saka menghentikan langkahnya, tatapan tajam mantan istrinya membuatnya canggung. "Maaf kalau kedatangan kami mengganggu waktu istirahat kalian"


"Aku pikir, setelah semua yang terjadi padamu dulu. Kamu bisa berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tapi rupanya, masih sama. Dari dulu kamu memang tidak punya malu, Ka. Bahkan bertamu tengah malam begini!"


Mendengar ucapan tajam Mama Dian, Yazna segera turun dari mobil. "Kami juga sebenarnya tidak sudi datang kemari!"


"Yaz!!" tegur Ayah Saka


"Dia persis seperti mendiang istrimu, Ka!" sindir Papa Gama


"Maaf"


"Kenapa Ayah selalu meminta maaf! Mereka akan merendahkan kita, Yah!"


Ayah Saka tak menghiraukan apa yang Yazna katakan, pria paruh baya itu tiba - tiba berlutut di depan Diandra dan Gama. Hal itu jelas membuat semuanya terkejut khususnya Yazna, "Apa yang Ayah lakukan?!! Bangun Yah!! Jangan merendahkan harga diri Ayah di depan mereka!!"


"Tolong ampuni kami, Di, Gam. Aku tahu, kesalahan yang diperbuat putriku begitu fatal. Aku rela menggantikan hukumannya, tapi tolong, biarkan kami hidup tenang setelah ini" pinta Ayah Saka lirih


Mama Dian menatap Yazna tajam, "Aku bisa saja memaafkan putrimu. Tapi, apa kamu bisa mengembalikan cucuku?"


Ayah Saka menggeleng pelan,


"Kesalahannya tidak hanya sekali, Ka! Aku tidak tahu, kesalahan apa yang sudah diperbuat putriku hingga putrimu terus saja mengusik hidupnya! Dia membenci Kristal sejak masa sekolah! Entah kenapa putriku malah membiarkannya bebas!", sebagai ibu, tentu Mama Dian masih terluka atas apa yang menimpa putrinya


"Maka untuk itu, aku datang untuk meminta pengampunan kalian berdua"


"Kita pulang sekarang, Yah! Jangan membuang waktu!"


Mama Dian menatap Yazna tajam, "Pergilah, Ka! Percuma kamu datang meminta maaf jika putrimu tidak memiliki niat ikhlas!"


"Aku memang tidak berniat meminta maaf!" sahut Yazna angkuh


Papa Gama menatap Ayah Saka, "Kami menghargai kedatanganmu. Tapi kami tidak bisa memberikan maaf pada orang yang arogan, Ka. Pulanglah, semoga menantuku tidak membalas semua perbuatan putrimu"


"Yaz, minta maaflah pada mereka! Ayah mau kita hidup tenang setelah ini"

__ADS_1


"Hidup kita, hanya kita yang merasakan dan menjalaninya! Tidak tergantung pada orang lain!"


"Bagus! Jadi sekarang pergilah! Berdoa saja semoga putri dan menantuku mau mengampunimu!"


🌻🌻🌻


Berbeda dengan Yazna yang begitu angkuh. Dua anak manusia yang sedang menikmati bulan madu kedua mereka tampak berbahagia. Setelah dari Maladewa, Langit mengajak istrinya singgah ke Paris. Dan sekitar setengah jam yang lalu, keduanya baru tiba di salah satu hotel terbaik di Paris, Perancis. Menghadap langsung ke Menara Eiffel,


Cup


Kecupan manis, Langit daratkan di bibir Kristal. Senyum mengembang di wajah wanita cantik itu. "Kamu capek?"


"Hm. Perjalanan kita cukup melelahkan. Bolehkan, aku tidur sebentar?"


"Tentu. Kita akan istirahat sejenak", Langit mencium kening sant istri, "Kita akan berkeliling menikmati keindahan Paris mulai besok. Jadi hari ini kita menikmati Menara Eiffel dari sini saja"


Kristal terkekeh pelan, "Kenapa rasanya sulit mempercayai ucapanmu ya, Mas?", iayang sudah hafal tabiat suaminya segera memeluk pria itu. "Benar kan dugaanku?"


Cup


Langit tertawa pelan, "Kamu memang benar. Bukankah tidak ada yang gratis di dunia ini, Sayang?"


"Kamu selalu membuatku candu, Kris. Aku mencintaimu"


Siapa yang tidak bahagia mendengar kalimat pujian seperti itu setiap hari? Tentu sebagai wanita, Kristal sangatlah beruntung memiliki suami seperti Langit. Tidak hanya tampan. Langit juga mapan dan penyayang.


"Aku juga mencintaimu, suamiku"


Dua insan dimabuk cinta itu kembali menyatu dengan penuh cinta. Berbagi keringat, berbagi saliva dengan penuh gairah.


Tuhan, jika boleh meminta, tolong panjangkan umur kami agar kami bisa saling mencintai seperti ini selama mungkin


Entah berapa lama keduanya menikmati indahnya surga dunia. Yang jelas, baik Langit dan juga Kristal keduanya sama - sama saling beradu menunjukkan cinta yang mereka punya.


"I Love You, Kris" bisik Langit saat mereka selesai mengarungi panasnya malam


Kristal tersenyum lalu memeluk suaminya. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang Langit yang selalu membuatnya nyaman. Keringat bercampur bau tubuh Langit yang maskulin membuat Kristal candu dan betah berlama - lama memeluk suaminya.


"Kamu lelah?", Kristal mengangguk dengan mata yang masih terpejam, "Tidurlah, Sayang. Kita istirahat sekarang agar besok tidak kelelahan jika ingin jalan - jalan"

__ADS_1


Kristal membuka mata, "Tapi aku belum mengantuk"


Langit menatap istrinya sedikit heran, "Lalu kamu mau apa?"


"Aku ingin terus memelukmu seperti ini. Rasanya sangat nyaman"


Pria tampan itu mengulum senyum,


"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Kristal


"Aku hanya mengingat masa dimana kita masih menjadi musuh", kini giliran Kristal yang menatap suaminya, "Kenapa?"


"Aku belum pernah mengatakan ini kan?"


"Mengatakan apa?"


"Jika aku sudah pernah berfikir untuk menghamilimu agar kamu mau menikah denganku"


Tentu pernyataan Langit membuat Kristal terkejut, "Kamu sempat memikirkan itu?" tanyanya tak percaya


"Hm", Langit mencium kepala sang istri, "Sejak menyukaimu, aku mulai memikirkan berbagai cara agar kamu bisa kumiliki. Bahkan cara terlicik sekalipun. Aku bahkan pernah membayangkan memiliki banyak anak denganmu", Langit tertawa menerawang, "Tapi siapa sangka, tanpa aku melakukannya ternyata Allah memang menjodohkan kita"


"Maafkan aku yang tidak bisa menjaga anak kita, Mas" sesal Kristal


"Hei, aku tidak bermaksud mengungkit anak kita", Langit membelai pipi Kristal pelan, "Semua sudah takdir, Sayang. Jangan membahas hal ini lagi"


Kristal mengangguk, "Aku akan belajar menjadi istri yang lebih baik lagi, Mas. Aku juga akan belajar menjadi ibu yang baik untuk anak kita kelak"


"Kamu sudah menjadi istri yang baik, Sayang. Kamu juga calon ibu yang baik. Jangan terus menyalahkan diri sendiri, hm?"


"Iya"


Keduanya saling berpelukan, "Aku akan terus membahagiakanmu sebisa mungkin. Tetaplah mencintaiku seperti ini, Kris"


"Aku akan mencintaimu selamanya, Mas. Kamu juga jangan pernah berubah ya"


"Tentu"


Aku akan terus menyayangi dan mencintaimu, Kris. Dan setiap tangis yang keluar dari matamu akan kupastikan dibayar dengan mahal

__ADS_1


__ADS_2