Langit Kristal

Langit Kristal
Bab 62


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa usia kehamilan Kristal sudah memasuki trimester akhir. Menurut HPL (Hari Perkiraan Lahir), Kristal akan melahirkan seminggu lagi. Semua persiapan baby sudah Langit siapkan dengan sangat baik. Sengaja memilih kamar bawah yang bersebelahan dengan kamar mereka yang sekarang, kamar baby twins sementara dijadikan satu. Alasannya karena mereka masih bayi. Dan tentu saja untuk memudahkan sang istri juga jika akan menyusui baby twins. Tapi jangan ragukan Papa Langit, meski satu kamar, pria itu membuatnya seolah seperti dua kamar. Setengah kamar dibuat dengan nuansa baby girl dan setengah lagi dibuat dengan nuansa baby boy. Tentu saja lengkap dengan segala perabotnya juga.


"Mas, aku kira kamu belum datang" seru Kristal yang baru saja memasuki kamar calon buah hati mereka


Langit tersenyum, "Aku sudah lama berada disini. Tadi aku melihatmu tertidur begitu nyenyak. Jadi, karena tidak mau mengganggumu, aku pergi kemari setelah mandi"


Kristal duduk disamping suaminya, lebih tepatnya duduk dikursi goyang yang sengaja disiapkan untuknya ketika nanti menyusui baby twins.


"Halo anak Papa. Gimana kabarnya sore ini? Kalian tidak membuat Mama kelelahan kan?"


"Tidak kok Papa" jawab Kristal menirukan suara anak kecil


Langit berjongkok didepan perut Kristal yang tampak begitu besar. Dia menciumi perut istrinya itu. Langit tersenyum kala merasakan tendangan keras dari dua calon buah hatinya.


"Kamu ngerasa nyilu nggak, kalau mereka menendang keras seperti itu?"


Kristal mengangguk, "Sedikit. Tapi aku malah senang saat mereka aktif didalam sana. Itu artinya mereka sehat"


Langit kembali mengusap perut istrinya. "Aku tidak sabar menunggu kelahiran mereka. Kita akan segera menjadi orang tua", kini pria itu merengkuh istrinya, memberikan pelukan hangat yang selalu membuat Kristal merasa nyaman.


"Kelahiran mereka bukankah akhir dari kebahagiaan kita. Justru kehidupan keluarga kecil kita baru akan dimulai. Tentunya tak selamanya berjalan mulus. Pasti ada rasa dimana kita merasa lelah atau mungkin jenuh. Sedih dan senang bergantian. Bahkan mungkin akan diiringi air mata. Tapi disitulah nantinya kita akan menemukan kebahagiaan. Kita berdua akan menemani, menjaga dan menyayangi anak - anak kita. Melihat tumbuh kembang mereka sampai nanti mereka dewasa. Tugas kita sebagai orang tua akan segera dimulai"


Langit mengecup kening Kristal begitu lama. Ia sangat paham dengan apa yang istrinya katakan. "Aku bahkan sudah siap akan hal itu, Sayang. Menjaga anak - anak kita yang mungkin akan rewel ketika malam tiba. Begadang, mengganti popok, dan memandikan mereka. Aku sungguh sudah menyiapkan diri untuk semuanya. Aku akan berusaha menjadi Papa yang baik untuk mereka. Menjadi suami yang bisa kamu andalkan saat kamu lelah. Kita akan membesarkan mereka bersama - sama, Sayang. Dan tentunya dengan segenap cinta"


Kristal memeluk suaminya. Beruntung dia mendapatkan suami seperti Langit. Tak jarang pria itu harus kelelahan karena mengurusi dirinya setelah pulang kerja. Meski merasa lelah, Langit sama sekali tak pernah mengeluh.


"Sayang, ayo kita ke dapur. Mama mungkin sudah selesai memasak"


Kristal mengangguk, mereka berjalan beriringan menuju dapur. Oh ya, jangan lupakan sosok Mama Maura yang juga meratukan dirinya. Sejak kehamilannya masuk bulan ke enam, mertuanya itu melarang Kristal melakukan pekerjaan apapun. Perut Kristal yang lebih besar dibanding ibu hamil pada umumnya itu, membuat Mama Maura over protektif. Wanita hanya mengizinkan Kristal jalan - jalan, olahraga dan makan. Selebihnya, wanita itulah yang akan mengurus semuanya.


"Ah, kebetulan kalian datang, ayo kita makan malam dulu" seru Mama Maura


Banyak menu masakan yang Mama Maura hidangkan. Tentunya, semua sehat dan bergizi seimbang untuk sang menantu.

__ADS_1


"Mama selalu masak banyak. Tapi nggak pernah mau dibantuin"


Mama Maura tersenyum, "Mama nggak mau kamu kecapean, Sayang", selalu saja sahutnya demikian


"Mama itu sayang banget sama kamu, Sayang. Makanya kamu nggak dibolehin ngapa - ngapain" Langit ikut menimpali


"Ya kan kesannya aku jadi kayak mantu nggak tahu diri. Semua Mama yang ngerjain" Kristal berucap sambil terkekeh pelan


"Siapa yang bilang begitu?! Kamu mantu kesayangan Mama kok! Jadi jangan pernah ngomong kayak gitu. Mama nggak suka dengernya. Dan ingat satu hal, Mama nggak pernah keberatan melakukan semuanya!"


Kristal berdiri lalu berjalan ke arah Mama Maura, tentu saja untuk memeluk wanita itu, "Aku sayang Mama"


"Mama jauh lebih sayang kamu"


"Jadi cuma sayang sama mantunya nih? Anaknya dilupain" Langit berbicara dengan nada yang dibuat sedih. Bukannya bersimpati, kedua wanita itu malah tertawa


"Iri, bilang bos!"


"Eh, Mama ini calon Macam! Oma cantik. Enak aja dipanggil nenek!"


Kristal tergelak,


"Harusnya Mabo. Oma beo!" cibir Langit


"Anak tuyul! Ngomong apa kamu barusan?"


Langit tertawa, membuat Mama Maura menatapnya semakin kesal, "Malah ketawa!"


"Ya jelas ketawalah", Tuyulnya udah mati!"


Mama Maura berdecak, "Sudah. Jangan hiraukan dia. Sekarang kita makan saja, Sayang" ajak Mama Maura pada menantunya


"Udah tua jangan ngambekan!" cibir Langit

__ADS_1


"Sekali lagi kamu ngomong. Kamu nggak boleh nyentuh masakan Mama"


Langit segera berdiri, berjalan ke arah Mamanya dan memeluk wanita paruh baya itu, "Aku sayang Mama"


"Iki siying Mimi!"


Langit dan Kristal sama - sama tergelak. Tentu saja dibalik sikap Langit, ia sangat menyayangi Mamanya. Orang tuanya satu - satunya.


Sejak Mama Maura memutuskan pensiun dari dunia modeling, wanita itu memutuskan jadi ibu rumah tangga. Mengurus anak dan menantunya dan sebentar lagi akan ikut mengurus cucunya juga. Tapi jangan salah, Mama Maura bukan pengangguran yang numpang hidup pada anak. Jauh sebelum pensiun, wanita paruh baya itu sudah memiliki beberapa butik yang tersebar diberbagai daerah. Jadi, meski menganggur, uang akan mengalir sendiri ke rekeningnya. Istilah kerennya, Oma sultan.


"Sudah, ayo makan!" titahnya


Langit kembali ke tempat duduknya, ia beralih memperhatikan Kristal yang sudah mengunyah makanannya. Setelah dua suap, Kristal memberikan makanan itu pada suaminya. Ya ... Kebiasaan Langit yang makan setelah istrinya tidak hilang. Jika tidak makan setelag Kristal, makanan yang Langit makan akan keluar semua.


"Makasih, Sayang"


"Lihat saja! Nanti setelah anak - anak kalian lahir. Mereka nggak akan ngebiarin Papanya deket - deket dengan Mamanya"


Pernyataan Mama Maura sontak membuat Langit menatap Mamanya, "Kok Mama doain yang jelek sih?"


Mama Maura tersenyum puas menatap wajah Langit, "Liat saja. Nanti si boy bakal jadi pawangnya Kristal. Dan posisi raja, akan digantikan oleh pangeran!"


"Mama bikin selera makanku hilang saja"


Mama Maura tertawa begitupun dengan Kristal, namun sejurus kemudian wajah bumil cantik itu berubah meringis.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mama Maura yang melihat perubahan menantunya. Dia segera menghampiri Kristal


"Sayang, kamu ngompol?"


Pertanyaan konyol Langit membuat Mama Maura berdecak, "Bukan ngompol. Dasar tulatit! Itu air ketuban! istrimu akan segera melahirkan! Siapkan mobil sekarang!"


"HAH!!"

__ADS_1


__ADS_2