
Suasana berubah ricuh saat segerombol wartawan maju dan mengerubungi Langit dan juga Ken.
"Kenapa bukan Anda yang memberikan sambutan? Apa Anda tidak menjabat sebagai CEO lagi?"
"Istri Anda, bukankah putri dari Nyonya Diandra Veronica Abraham, pemilik DV Hotel. Apa beliau telah menyerahka kepemilikan hotel pada Anda? Kenapa tidak diberika kepada putrinya saja?"
"Tuan Ken, apakah Anda dinilai tak mampu memimpin DV Hotel hingga kepemilikan diberikan kepada menantu Nyonya Diandra?"
"Kapan peralihan jabatan dilakukan? Mengapa sepertinya, Anda tidak mengetahui hal ini?"
Banyaknya pertanyaan yang menyudutkan Ken, membuat Mama Rani meminta petugas keamanan untuk membawa wartawan keluar gedung. Bisik - bisik praduga begitu memenuhi telinga semua orang. Acara yang seharusnya berlangsung meriah dan lancar kini berubah menjadi riuh dan kacau.
Mama Rani segera menghampiri Langit begitu suami Kristal itu turun dari panggung. Bukan hanya Mama Rani, Papa Triyoga, Opa Damar dan Oma Yasari juga ikut menghampiri Langit. Tamu undangan masih disana, mereka khawatir, Mama Rani akan membuat keributan karena tidak terima akan hal ini. "Apa maksudnya ini?!! Kenapa tiba - tiba kamu jadi pemilik DV Hotel?!! Kapan peralihan dilakukan? Kalian sengaja ingin membuat Ken malu?!!" tuduhnya sambil menatap Mama Dian dan Papa Gama
"Ran, jangan membahas hal ini sekarang. Tamu undangan terus memperhatikan kita. Tidak bisakah kamu menunggu sampai acara selesai?" ucap Mama Dian
Mama Rani tertawa sinis, "Kenapa? Kamu takut aku mempermalukan menantumu? Asal kamu tahu, Kris. Menantunya sudah mencoreng nama Ken didepan semua orang! Kalian sudah mempermalukannya! Dan kalian ... Sudah menginjak - injak harga diri putraku!!"
"Ma, tenanglah. Sebaiknya jangan terbawa emosi sekarang. Semua bisa dibicarakan dengan kepala dingin" bujuk Papa Tri
Mama Rani menatap suaminya tajam, "Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu, hah!! Mereka sudah mempermainkan kita! Bahkan, mereka sudah tidak menganggap kita keluarga! Seharusnya masalah ini dibahas terlebih dahulu! Bukan dengan mempermalukan keluarga kita seperti ini!! Aku sungguh tidak terima!!"
"Ran, kita akan membahas masalah ini setelah acara selesai!" tutur Papa Gama
"Tidak perlu! Aku mau masalah ini selesai sekarang juga!" kekeh Mama Rani
"Anda sungguh ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, Nyonya Triyoga?"
Mama Rani menatap Langit dengan tajam, "Akhirnya si biang masalah membuka suara!"
"Jangan mengatakan hal seperti itu pada suamiku, Tante!" seru Kristal tidak terima
"Lihat? Sekarang kamu berani berkata dengan nada tinggi padaku! Bahkan Mamamu juga menjaga jarak denganku sejak kalian menerima pria ini dalam keluarga Mahaditya!!"
"Cukup!! Jika kalian terus berdebat, masalah ini tidak akan pernah selesai! Keluarga kita semakin menjadi sorotan! Tidakkah kalian lihat, semua orang memandang ke arah kita!" tegur Papa Gama
"Aku tidak peduli dengan omongan orang! Yang jelas, kalian semua sudah melukai harga diri keluarga kami!!"
Mama Dian mengepalkan tangan, selama ini dia diam saja. Tapi perkataan demi perkataan yang sahabatnya lontarkan membuatnya geram. "Jelaskan semuanya sekarang! Bukankah Rani tidak peduli dengan anggapan semua orang! Seluruh duniapun tahu, dia tidak akan peduli!" tutur Mama Dian
__ADS_1
Langit menatap Papa Gama lalu pria paruh baya itu mengangguk, Ken terlihat ketar - ketir begitupun dengan Yazna. Sejak tadi, wanita itu memilih duduk tanpa ikut campur urusan keluarganya dengan keluarga Kristal.
"Kenapa diam? Apa benar dugaanku jika kalian memang sengaja mempermainkan Kenzie?"
"Ma, tenanglah dulu", kini Ken yang berusaha menenangkan Mamanya
"Bagaimana Mama bisa tenang, Ken. Harga diri keluarga kita sudah di injak - injak!"
"Ken membuat DV Hotel jatuh ke tangan Amarta Hotel!"
Deg
Apa yang baru saja Langit katakan mampu membuat semua orang terlihat tegang. Khususnya wajah Ken yang langsung berubah pucat. Semua orang terkejut, namun berbeda dengan Mama Rani yang justru menatap Langit geram
"Belum cukupkah kamu menginjak - injak harga diri putraku? Sekarang kamu malah memfitnahnya?!"
Tatapan Langit berubah gelap, aura dingin seketika mengelimuti suasana yang seharusnya ceria itu. "Tanyakan pada putra kebanggaanmu itu! Kesalahan apa yang sudah dia lakukan hingga membuat DV Hotel jatuh ke tangan orang yang salah! Jika aku tidak menyelamatkannya, bukan hanya Mama Dian yang akan kehilangan hotel warisan keluarganya, tapi juga ribuan orang yang bekerja disana akan kehilangan pekerjaan!"
"Omong kosong apa yang sedang kau karang? Putraku orang yang cerdas! Berdedikasi tinggi! Tidak mungkin dia menjual DV Hotel kepada orang lain! Kamu sengaja memfitanahnya karena iri dengan pencapaian prestasinya kan?!!"
Langit menyeringai, tatapannya sungguh mengerikan, "Jangan hanya bisa menghakimi orang lain, Nyonya. Kau selalu menutup mata atas kesalahan putramu, tapi kau membuka mata lebar hanya untuk melihat kesalahan orang lain! Coba tanyakan padanya apa yang sebenarnya terjadi!!"
"Ken, katakan jika yang pria ini ucapkan tidak benar!"
Ken terlihat gelisah,
"Apa yang sebenarnya terjadi, Ken? Kamu tidak melakukan kesalahan fatal bukan?" sekarang giliran Papa Tri yang bertanya pada sang putra
Ken menghela nafas berat, "Aku ..."
"Kenapa kamu terlihat gelisah, Ken? Katakan saja yang sebenarnya? Apa kamu takut mengakui kesalahanmu?" cibir Langit
"Jangan mengintimidasi putraku?!!"
Langit tersenyum mengejek ke arah Ken, suami Kristal itu seolah mengatakan, kau anak Mama
"Ken memberikan tanda tangannya pada salah satu penanam saham. Tante tahu? Setelah Ken memberikan tanda tangannya, tujuh puluh persen saham DV Hotel telah berpindah pada rival kita. Dan semua karena putra kesayangan Tante!"
Langit, Papa Gama dan Mama Dian terkejut mendengar penuturan Kristal. Darimana wanita itu tahu
__ADS_1
"Itu tidak mungkin!" elak Mama Rani
Kristal menatap Ken begitu tajam, "Tidak hanya sekali. Putra Tante berkali - kali melakukan kesalahan. Dan Om Tri selalu menutupi hal itu. Aku benar kan, Om?"
Wajah Papa Tri ikutan panik, "Kris, kamu?"
Kristal menyeringai, "Aku tahu semua yang terjadi! Karena apa? Karena aku selalu mengawasi apa yang terjadi!"
Deg
Semua orang menatap Kristal terkejut, khususnya Ken
"Kris", Mama Dian menatap putrinya
"Diam begitu lama bukan berarti tidak mengerti apapun! Tapi jika diamnya kami membuat orang - orang lupa diri dan tidak tahu diri", Kristal menekankan kalimatnya, "Bukankah sebaiknya kita buang parasit itu?"
"Kristal!!", Mama Rani merasa tak terima dengan apa yang wanita itu katakan
"Sebaiknya jangan jadi pecundang, Ken! Jelaskan semuanya sekarang juga!"
Ken menatap semua orang kemudian kembali menghela nafas panjang, "Maafkan aku. Tapi ... Semua yang Kristal katakan memang benar" ucapnya sambil tertunduk lirih
Mama Rani menutup mulutnya tak percaya, "Bagaimana bisa kau melakukan hal ceroboh ini, Ken! Bagaimana bisa?!!"
"Aku-"
"Urusan hotel, kita bisa membahasnya nanti. Ada hal lain yang jauh lebih penting!"
Lagi - lagi Langit membuat semua orang terkejut, Oma Yasari mulai lemas dan merasa pusing. Melihat hal itu, Mama Dian meminta karyawan hotel mengantar pasangan sepuh itu istirahat. Suasana yang mulai tidak kondusif, dengan terpaksa Papa Gama menyudahi acara meski belum waktunya.
Kini, tinggallah keluarga inti yang masih berada di ballroom hotel.
"Sekarang apa lagi?" tanya Mama Rani yang mulai lemas
"Ini mengenai kecelakaan yang menimpa Kristal. Aku meminta polisi menyelidikinya dan Ken terlibat dalam kecelakaan itu! Dia akan dikenakan pasal percobaan pembunuhan berencana dengan kurungan minimal lima belas tahun!"
"KEN TIDAK BERSALAH! AKULAH YANG MERENCANAKAN SEMUANYA!"
Deg
__ADS_1