Langit Kristal

Langit Kristal
Ekstra Part


__ADS_3

Mata tua itu menatap sendu gundukan tanah didepannya. Hampir setiap hari, pria kesepian itu mengunjungi makam putrinya.


"Ayah merindukanmu, Yaz" lirih Ayah Saka


Air mata jatuh membasahi pipinya. Ada kesedihan yang ia simpan, namun, ada pula rasa lega didalam dada. Kepergian Yazna, setidaknya sudah mendapat maaf dari orang - orang yang pernah dia lukai dulu.


Flash Back On


Tok Tok Tok


"Sebentar" sahut penghuni dari dalam rumah


Ceklek


"P-pak Saka", Kristal menatap cukup terkejut pria yang seumuran Papanya itu. Pasalnya, setelah setahun menghilang, kini pria itu muncul kembali dan datang kerumahnya. Bukan karena lama menghilang, namun, wajah sayu dan tirus pipinya membuat pria itu terlihat begitu tua. Ditambah bajunya yang begitu lusuh, membuatnya semakin terlihat memprihatinkan.


"Sayang, Lio kayaknya minta nen! Dia rewel nih!" seru Langit yang menyusul istrinya ke delan rumah, suami Kristal itu mematung menatap siapa tamu yang datang kerumahnya pagi - pagi begini


"Pak Saka", seruan Langit membuat Kristal tersadar dari lamunannya, "Silahkan masuk, Pak" ucap Kristal. Namun bukannya masuk, Ayah Saka justru bersujut didepan Kristal dan Langit seraya menangis.


"P-pak, bangunlah" Langit membantu Ayah Saka berdiri. Sungguh, melihat pria itu sekarang pasti membuat siapa saja iba.


"S-saya minta maaf", lirihnya serak


"Mas, bawa masuk dulu", Langit menatap istrinya lalu mengangguk. Mereka membawa Ayah Saka masuk kedalam rumah. Kristal masuk kedapur dan meminta art membuatkan minum, ia harus ke kamar untuk melihat putra - putrinya dulu.


Usai menyusui kedua balitanya, Kristal kembali ke ruang tamu. Teh hangat dan cemilan yang disajikan masih utuh tak tersentuh. Ayah Saka hanya diam menunduk. Kristal menatap suaminya yang hanya mengedikkan bahu.


"Pak, sebenarnya ada masalah apa? Bagaimana bisa Bapak jadi seperti ini?"


Pertanyaan Kristal membuat Ayah Saka memberanikan diri menatap putri dari mantan istrinya itu. Ada sirat keraguan didalam matanya.


"Jangan sungkan, Pak. Jika Bapak memerlukan bantuan, kami bersedia membantu"


Ucapan Langit membuat pria itu tergugu dalam tangis. Penyesalan kembali menggerogoti hati. Setelah semua kejahatan yang putrinya lakukan, mereka masih menyambutnya dengan baik. Bahkan menawarkan bantuan padanya.


"Diminum dulu, Pak. Supaya Bapak merasa lebih tenang"


Ayah Saka menerima teh yang Langit sodorkan, dengan tangan yang sedikit tremor, pria itu meminum minumannya. Setelah merasa tenang, Ayah Saka terlihat menghela nafas. "S-saya tahu, saya sungguh tidak tahu malu dan tidak tahu diri karena berani datang kemari setelah semua yang putriku lakukan pada kalian. Tapi..."


"Kami sudah melupakan semuanya, Pak. Kami juga sudah memaafkan semua kesalahan Yazna"


"T-terima kasih banyak Nak Kristal, Nak Langit. Saya lega mendengarnya"


Langit menatap istrinya, ia merasa bukan itu tujuan Ayah Saka datang menemui mereka sebenarnya. "Ada apa, Pak?"

__ADS_1


"S-sebenarnya, saya kemari untuk memohon kerelaan hati kalian untuk putri saya"


"Maksudnya bagaimana, Pak?" tanya Kristal sedikit bingung


Mata Ayah Saka jadi sendu dan berkaca - kaca, "Yazna ... Dia kritis"


Kristal dan Langit kembali terkejut, "Yazna sakit? Sakit apa?"


"Dia ... menderita kanker rahim stadium akhir. Saya bukan mau mendahului Kuasa Tuhan, namun kondisinya semakin hari semakin menurun. Semua upaya sudah dilakukan, namun tetap saja kondisi Yazna semakin memburuk", Ayah Saka menghela nafas,


Langit dan Kristal saling pandang, pantas saja kondisi Ayah Saka terlihat memprihatinkan, mereka yakin, pria itu telah mengupayakan yang terbaik untuk putrinya.


"Kemarin, Yazna drop. Dia seperti kesulitan untuk pergi. Saya tidak tega melihatnya demikian"


Jujur, Kristal dan Langit merasa iba mendengarnya. Yazna, wanita yang dulu menyakitinya, kini sudah mendapat balasan atas perbuatannya dimasa lalu.


"Dia sempat menyebut namamu saat dia tak sadar", ucapnya sembari menatap Kristal


Bruk


Ayah Saka kembali bersujud didepan pasangan itu, membuat keduanya terkejut. "S-saya mohon, tolong temui Yazna untuk terakhir kalinya. Saya tahu, kesalahan yang dia perbuat sudah sangat besar. Tapi dia tertahan untuk pergi karena rasa bersalahnya pada kalian. Aku mohon, bantulah dia supaya bisa pergi dengan tenang"


Ayah Saka kembali tergugu, "D-dia sangat tersiksa. Aku ..."


"Pergilah, Kris, Lang. Bantulah Yazna" ucap Mama Maura yang tak sengaja mendengar ucapan Ayah Saka, "Lio dan Lia, biar Mama yang jaga. Mama Dian dan Papa Gama juga akan datang sebentar lagi"


Setibanya dirumah sakit, mereka segera ke ruang ICU dimana Yazna dirawat. Karena tidak boleh banyak orang, maka Kristal lah yang masuk kedalam. Pemandangan pertama yang membuat Kristal merasa miris adalah tubuh Yazna. Perempuan itu terlihat begitu kurus. Rambutnya bahkan sudah tidak ada sama sekali.


"Yazna tidak sadarkan diri sejak kemarin malam", itulah ucapan Ayah Saka sebelum Kristal masuk tadi


Istri Langit itu segera mendekati Yazna, menggenggam tangan wanita yang dulu pernah memberikan luka baginya.


"Yaz, jika kamu akan pergi, pergilah. Aku sudah memaafkan semua perbuatanmu dimasa lalu"


Detak jantung Yazna melemah, Kristal bisa melihat air mata keluar dari sudut matanya. Kristal mengeratkan genggaman tangannya, "Yaz, pergilah dengan tenang"


Tit ....


Setelah kalimat yang Kristal ucapkan, jantung Yazna langsung berhenti berdetak. Mendengar hal itu, dokter dan perawat langsung masuk untuk memeriksa kondisi Yazna.


"Waktu kematian pukul tujuh lewat empat puluh lima menit" ucap dokter


Kristal tak terasa meneteskan air mata, bagaimanapun perbuatan Yazna dimasa lalu. Sungguh dia telah memaafkan semuanya.


"Selamat tinggal, Yaz"

__ADS_1


Kristal ikut keluar saat suster membawa jasad Yazna menuju kamar mayat. Diluar ruangan Ayah Saka langsung ambruk, pria itu menangis sejadi - jadinya.


"Yang sabar, Pak. Setidaknya sekarang, Yazna tidak sakit lagi"


Ayah Saka mengangguk, "Terima kasih, Nak. Ternyata Yazna memang menunggu kedatangan dan maafmu"


Flash Back Off


🌻🌻🌻


"Pa ... Pa ... Pa" celoteh Lio


Langit segera memangku putranya, namun belum ada lima menit, sang putri juga merengek ingin dipangku juga


"Lia cemburu sama Abang ya?" ucap Langit tertawa


Meski baru berusia setahun, kedua bayinya begitu pintar. Lio sudah bisa berjalan meski masih berpegangan, sementara Lia masih belajar.


"CALON BESAN!!"


Langit memutar bola matanya kesal, bagaimana tidak, mantan temannya, Evan, selalu saja datang tanpa diundang.


"Apa kabar manis, calon Ayah Mertua datang" sapanya pada Lia


"Najis, Van! Aku heran sama kamu, rumahmu dari sini itu cukup jauh. Kenapa kamu masih punya waktu untuk selalu datang! Mengganggu saja!" gerutu Langit


"Lang, dengar! Aku tidak akan pernah bosan datang kemari hanya untuk mengingatkan bahwa putrimu sudah kutandai!"


"Tidak bisa! Enak saja main tanda - tandain saja! Lagian anakmu belum kelihatan bibit, bebet dan bobotnya!"


"Aku sudah mengajari Gio kerja keras sejak bayi! Aku yakin, dia bisa membahagiakan princess Lia", Evan menaik - turunkan alisnya. "Lagian, kalau kamu menolak, aku pastikan Gio bisa membuat Lia jatuh cinta! Kalau sudah begitu, kamu bisa apa?"


"Mimpi!"


"Atau ..." Evan sengaja menggantung kalimatnya agar Langit penasaran, "Kamu pernah dengar, cinta ditolak dukun bertindak!"


"Tidak semudah itu, Ferguso! Langkahi dulu, Fernando!"


Evan tertawa, "Dukun tak mempan, tekdung duluan!"


"SINTING!! PULANG SANA VAN!!"


🌻🌻🌻


Tamat ya, nanti akan ada cerita selanjutnya tapi belum tahu kapan. 🙏🙏🙏

__ADS_1


"


__ADS_2