Langit Kristal

Langit Kristal
Bab 56


__ADS_3

Kristal tak pernah secanggung ini waktu makan dengan mertuanya itu. Tapi sekarang, rasanya Kristal ingin menenggelamkan dirinya jika bisa. Ia melirik sang suami yang justru makan dengan santai, rasanya ingin sekali Kristal mengomeli Langit banyak - banyak.


"Makanlah, Sayang. Tidak perlu malu sama Mama. Tapi ingat, jangan mengulanginya lagi"


Kristal tersenyum kaku. Malu sekali rasanya pada Mama Maura yang malah bersikap santai seolah tak melihat apa - apa. Sekali lagi dia melirik sang suami yang masih asyik makan tanpa menghiraukan dirinya.


"Dia kadang memang tidak tahu malu", Mama Maura berucap sambil melirik sang putra


Ucapan mertuanya membuat Kristal tertawa hingga


Huek Huek Huek


Langit berlari ke arah wastafle lalu memuntahkan semuanya disana. Kristal dan Mama Maura segera menyusulnya. Semua makanan yang baru saja Langit makan, pria itu keluarkan tanpa sisa.


"Masuk angin ini pasti. Meski cuaca panas, tapi angin malam tetap nggak baik buat kesehatan"


Sekali lagi Kristal dibuat malu karena sindiran mertuanya. Melihat suaminya yang masih muntah, Kristal memijit leher Langit dengan pelan. Wajah suaminya itu terlihat pucat seketika. Setelah selesai muntah, Kristal membantu Langit untuk duduk di kursi meja makan.


"Duduk dulu, Mas"


Langit mengangguk tanpa jawaban, Mama Maura yang datang membawa minyak kayu putih segera mengoleskannya di perut dan pelipis anaknya.


"Habis ini jangan lupa minum obat masuk angin. Kalau belum mendingan, sebaiknya ke dokter"


"Nggak papa, Ma. Setelah ini pasti mendingan. Kayaknya memang masuk angin" jawab Langit pelan


"Mas, mau makan lagi? Yang tadi kan sudah dimuntahkan semua" tawar Kristal


"Mas mau tidur aja. Badan Mas rasanya lemes banget"


Kristal berpamitan pada Mama Maura lalu membawa suaminya ke kamar. Dengan telaten, Kristal membaringkan tubuh Langit ke ranjang.


"Lain kali, jangan minta yang aneh - aneh lagi, Mas. Biar nggak masuk angin kayak sekarang"


Langit masih bisa - bisanya tertawa, "Kamu juga menikmatinya kok"


"Ish. Pokoknya semalam terakhir kalinya kayak itu"


"Kayak itu gimana?"


Kristal ingin marah, tapi di urungkan karena tiba - tiba Langit kembali berlari ke kamar mandi. Suami Kristal itu kembali memuntahkan isi perutnya. Namun kali ini hanya air yang keluar.


"Sebaiknya ke dokter saja ya, Mas. Kamu terlihat nggak baik - baik saja loh" ucap Kristal begitu khawatir


"Aku nggak papa, Sayang. Aku mau rebahan saja"


Kristal menuntun Langit kembali ke ranjang.


"Masih belum baikan?" tanya Mama Maura yang datang membawa secangkir minuman.

__ADS_1


"Barusan Mas Langit muntah lagi, Ma. Apa tidak sebaiknya panggil dokter saja?"


"Suamimu itu takut sama suntikan", Mama Maura memberikan minuman itu pada Langit, "Ini wedang jahe. Biar hangat dan mualnya berkurang"


Langit menerima wedang jahe dari Mama Maura lalu meminumnya.


"Sebaiknya panggil dokter saja ya, Mas. Kan hanya di periksa. Dokter nggak akan nyuntik kok"


"Ga usah lah, Sayang. Mas hanya butuh tidur aja" tolak Langit


Kristal menatap mertunya lalu menghela nafas, seolah berbicara lewat tatapan mata


"Ya sudah, kalau sampai nanti sore kondisi Langit belum juga membaik, kita panggil dokter" putus Mama Maura, "Sekarang, temani bayi besarmu istirahat. Dia akan sangat manja kalau sedang sakit begini"


"Iya Ma"


Mama Maura segera pergi dari kamar sang anak. Setelah kepergian Mamanya, Kristal menyelimuti Langit agar suaminya bisa istirahat. Tapi pria itu malah menarik pinggangnya, "Temani aku tidur ya. Aku ingin memeluk kamu"


Kristal tertawa pelan, "Kamu beneran manja kalau sakit ya, Mas"


"Manja sama istri sendiri nggak dosa"


Kristal segera naik ke ranjang lalu dengan posesif, Langit memeluknya sambil memejamkan mata.


"Masih mual?"


Pria itu menggeleng dengan mata terpejam, "Rasanya nyaman banget kalau meluk kamu seperti ini"


Pelukan nyaman dan hangat dari Langit membuat Kristal perlahan juga masuk ke alam mimpi.


🌻🌻🌻


Perlahan matanya terbuka saat mendengar suara dari kamar mandi. Kristal lekas turun dari ranjang lalu menyusul suaminya yang muntah - muntah di dalam kamar mandi.


"Ya Allah, Mas", Kristal membantu suaminya yang terkulai lemas di depan closet. "Kenapa nggak bangunin aku?"


"Kamu kelihatan pules banget, Sayang. Aku nggak tega banguninnya"


Kristal menghela nafas berat, bisa - bisanya ia malah ketiduran dan membiarkan suaminya susah sendirian.


"Udah enakan?", Langit mengangguk


Kristal membantu suaminya berdiri lalu memapahnya menuju ke ranjang. "Aku mau kebawah dulu buat bikin teh hangat. Kamu mau makan sesuatu?"


Langit tampak berfikir, "Roti bakar sepertinya enak"


Kristal sempat merasa heran dengan permintaan suaminya, namun tak urung segera pergi ke dapur untuk membuatkan makanan yang Langit inginkan.


Begitu tiba di dapur, Kristal segera mengambil roti tawar tak lupa dengan selai cokelat kesukaan suaminya. Dengan cekatan, wanita cantik itu mengoles mentega dan mengisi bagian tengah dengan selai.

__ADS_1


"Tinggal di panggang saja", ucapnya kemudian memasukkan roti - roti itu ke dalam toaster


"Masih belum mendingan juga si Langit?" tanya Mama Maura yang baru datang


"Barusan muntah lagi, Ma. Ini aku sedang membuat dia roti bakar"


"Tumben siang - siang begini mau makan roti bakar?"


Rupanya bukan hanya Kristal yang merasa heran akan permintaan Langit, Mama Maura pun sama


"Nggak papa lah, Ma. Yang penting Mas Langit mau makan. Semua isi perutnya sudah habis dikeluarkan"


Mama Maura terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu. "Bawa periksa saja, Kris. Mama kok curiga"


Kristal menatap mertuanya khawatir, "Curiga kenapa, Ma? Apa Mas Langit punya penyakit yang aku nggak tahu? Lalu sekarang kambuh?"


"Eh ... Bukan begitu. Langit nggak punya penyakit berbahaya kok. Cuma kan kasihan kalau terus - terusan muntah. Dokter pasti punya resep untuk mengurangi mual muntahnya"


Kristal setuju dengan usulan Mama mertuanya. "Ya sudah, Ma. Setelah makan, kita bawa Mas Langit ke dokter"


Mama Maura tersenyum


Roti yang baru saja Kristal panggang sudah matang. Sekarang Kristal tinggal menyeduh teh hangat.


"Aku ke atas dulu, Ma. Sekalian siap - siap"


"Ya sudah, Mama juga akan siap - siap"


Membawa nampan berisi sepiring roti bakar dan secangkir teh hangat, Kristal kembali naik ke lantai dua, dimana kamar mereka berada.


Langit meringkuk di atas kasur dengan mata terpejam, wajahnya masih terlihat pucat.


"Mas, bangun. Makan dulu ya, lalu kita ke dokter"


"Nggak perlu, Sayang. Aku sudah mendingan kok"


Kristal menghela nafas, "Kalau kamu nggak mau ke dokter, aku akan tidur dikamar tamu"


Berhasil, pria itu segera membuka mata. Terlihat jelas sorot keberatan dari matanya. Perdebatan kecil akhirnya terjadi.


Usai drama yang tak begitu lama, akhirnya Langit mau dibawa ke dokter.


Mama Maura menyetir sendiri mobilnya. Sementara Kristal dan Langit berada di kursi belakang, karena tiba - tiba Langit merasa lemas.


Perjalanan menuju rumah sakit berjalan lancar karena siang hari. Sesampainya di lobi, Mama Maura segera menuju loket pendaftaran.


"Saya mau mendaftar ke dr. Angeline" ucap Mama Maura


"Ma, Mama kenal sama dokternya? Dia spesilis apa?" tanya Kristal berbisik

__ADS_1


"dr Angeline itu ... spesialis kandungan"


"Hah!!!"


__ADS_2