
"Nggak nyangka, kamu beneran nikah sama Metha, Van" seru Langit.
Metha hanya tersenyum, dia juga mengenal Langit. Namun tak terlalu dekat.
"Kalau udah jodoh, mau berpetualang seperti apapun sebelumnya, pasti akan bersama pada akhirnya" sahut Evan
Ya ... Sekarang Langit dan Mamanya sedang mengunjungi Metha dikamar rawatnya. Istri teman lamanya itu juga baru saja melahirkan. Tepatnya, sama dengan kelahiran bayi kembarnya. Hanya berbeda dua jam saja.
"Anak kamu cantik ya, Van" puji Mama Maura
"Jangan dipuji, Ma. Nanti dia besar kepala"
Evan berdecak, beruntung Papa dan Mamanya serta Gio baru saja pulang. Kalau tidak, Papanya yang usil itu juga akan mencibirnya seperti Langit.
"Tentu saja cantik, kamu nggak lihat Bapak Emaknya!"
"Cih, masih cantikan putriku!"
Mama Maura menyenggol lengan Langit, ia meringis karena merasa tidak enak pada Metha
"Maafkan kelakuan Langit ya, Met"
Metha tersenyum, "Tidak apa - apa Tante. Justru kalau mereka tidak ribut, akan sangat terasa aneh"
Evan tiba - tiba merangkul pundak Langit, membuat empunya segera menepisnya.
"Jijik Van, ngapain peluk - peluk!"
Evan terkekeh, "Kita ini kan calon besan. Harus akur dong"
"Cih. Ogah!"
"Bagaimanapun, anakmu sudah di tag sama putraku"
Langit mendelik, "Omongan bocil tidak bisa dipercaya! Lagian kalaupun nanti anakmu mau melamar putriku, dia harus sukses dulu! Setidaknya dia lebih kaya dariku!"
Glek
🌻🌻🌻
Usai menjenguk Metha, Langit dan Mama Maura kembali ke kamar istrinya. Hari ini, Kristal sudah diperbolehkan pulang. Tentu saja, semua menyambut bahagia hal ini.
"Semua sudah siap, Ma?" tanya Langit pada mertuanya
"Sudah" jawabnya tersenyum,
"Ya sudah, ayo kita pulang" ucap Papa Gama
Mama Maura dan Mama Dian menggendong bayi kembar Lio dan Lia. Langit mendorong kursi roda istrinya dan Papa Gama, membawa barang - barang milik putrinya. Opa David dan Oma Clara? Mereka berada dirumah untuk mempersiapkan penyambutan baby twins.
Selama perjalanan, Langit tak henti menebar senyum. Ia bahagia karena istri dan kedua anaknya sudah diperbolehkan pulang.
"Sampai rumah, Papa yakin gigimu sudah kering Lang"
__ADS_1
Semua orang tertawa mendengar cibiran Papa Gama
"Papa nih, nggak tahu apa aku bahagia banget loh ini"
"Papa pasti tahu, Lang. Dulu waktu Kristal lahir, dia juga bahagia seperti kamu sekarang" sambung Mama Dian
"Nah, kan ketahuan juga" balasnya
Papa Gama mendengus, "Mama jangan buka kartu dong, Ma"
"Makanya jangan goda Langit terus dong"
Langit terkekeh, "Terima kasih sudah membela Langit Ma. Sayang Mama Dian banyak - banyak"
Papa Gama mendelik, "Jangan sayang - sayang istri saya sembarangan! Tidak cukup kamu membawa Kristalku? Sekarang malah menyayangi istriku!"
"Kristal milikku!"
"Tapi dia putriku! Kalau tidak ada aku, kamu nggak akan bersama Kristal sekarang!"
"Karena aku, Papa jadi punya cucu ganteng dan cantik!"
Kristal hanya bisa geleng - geleng kepala melihat tingkah suami dan Papanya.
Setengah jam membelah jalanan, akhirnya mobil yang mereka tumpangi tiba di kediaman Langit dan Kristal. Sudah ada Opa dan Oma serta asisten rumah tangga yang menyambut mereka.
"Akhirnya kalian pulang juga" sambut Oma Clara heboh
Semua orang turun dari mobil. Kristal merasa senang karena bisa pulang. Rumanya sudah dihias sedemikian rupa. Ada bunga - bunga dan ucapan selamat datang juga. Tak lupa balon warna biru dan pink yang mendominasi ruang tamu.
Mereka langsung masuk kedalam rumah. Lio dan Lia yang masih tertidur langsung dibawa ke kamar untuk ditidurkan. Setelah itu, mereka langsung ke meja makan untuk makan bersama. Sengaja hanya acara makan saja hari ini karena minggu depan, Langit dan Kristal akan mengadakan tasyakuran sekaligus aqiqoh untuk kedua anaknya. Tak lupa mengundang dan memberikan santunan pada anak yatim piatu.
"Makan yang banyak, Sayang. Asi kamu kan sudah keluar, kamu juga harus menyusui si kembar"
"Si kembar loh, ya. Bukan bapaknya di kembar"
Lagi, Papa Gama mencibir menantunya. Langit kembali mendengus, entah sudah keberapa kalinya selama seharian ini.
"Tahu!"
"Ck. Kenapa selalu saja ribut! Tidak boleh ribut didepan rezeki!" tegur Mama Dian
"Benar tuh. Sudah pada tua juga! Harusnya kalian damai" imbuh Oma Clara
Selanjutnya, acara makan bersama sore itu terasa begitu hangat. Meski ada sedkit perdebatan, cekcok ringan bahkan saling mencibir, nyatanya mereka semua saling menyayangi.
Usai makan bersama, semua orang kini memenuhi kamar si kembar. Kedua bayi itu sudah bangun, Lio baru saja selesai diberi Asi dan sekarang sedang bermain dengan para Oma cantik. Sedangkan di cantik, masih menyesap sumber makanannya.
"Waktunya mandi, cucu Oma yang tampan"
"Biar aku saja!" ucap Langit tiba - tiba
Papa muda itu terlihat percaya diri. Sebelumnya, ia memang sudah belajar tentang bagaimana mengasuh bayi. Tapi materi dan realita sangatlah berbeda. Jika saat belajar, Langit langsung paham dan tidak kaku, berbeda ketika praktik langsung apalagi tubuh anaknya yang masih lunak - lunak geli.
__ADS_1
"Kamu bisa? Yakin?" tanya Mama Maura
"Bisa! Dan yakin!" sahut Langit tegas
Semua orang menatap Langit tanpa berkedip. Meski sedikit ragu, nyatanya Langit berhasil memandikan putranya untuk yang pertama kali.
"Anak Papa udah semakin tampan. Wangi lagi"
Semua orang merasa kagum, khususnya Kristal. Dia begitu bersyukur karena tanpa diminta, Langit selalu menunjukkan rasa sayang dan cintanya.
"Sekarang giliran si cantik" ucap Langit menyerahkan Lio pada Mamanya.
"Kristal sebaiknya mandi dulu"
"Habis ini saja, Ma. Biar Langit yang bantu Kristal mandi"
"Kalau begitu, kamu bantu Kristal saja. Biar Mama yang mandiin Lia" ucap Mama Dian
Langit mengangguk, lalu membawa Kristal ke kamar mandi.
"Aku bisa sendiri, Mas sebenarnya"
"Jangan Sayang. Meski kamu merasa sehat, tapi kamu baru saja melahirkan. Kamu tidak boleh melakukan hal berat sama sekali"
Lagi - lagi Kristal merasa terharu, "Terima kasih banyak, Mas"
Langit mengecup kening istrinya lama, "Akulah yang harus berterima kasih padamu. Kamu sudah mau bertaruh nyawa demi melahirkan buah hati kita. Terima banyak, Sayang. Terima kasih sudah menjadikanku seorang Ayah dari dua malaikat kecil yang menggemaskan itu"
Kristal tersenyum. Dia jadi semakin mencintai pria dihadapannya ini.
"Aku mencintamu, Mas"
"Aku jauh lebih mencintaimu"
Tiada kebahagiaan yang sempurna, namun semua orang pasti akan merasakan yang namanya kebahagiaan. Begitu pula dengan Langit dan Kristal. Ini bukan akhir dari perjalanan cinta mereka, namun awal baru menuju kebahagiaan lainnya.
🌻🌻🌻
"Aku akan menjadi Ayah yang baik untuk putri kita, Ra. Aku janji"
Ken menatap makam yang ada didepannya dengan mata berkaca - kaca. Ya ... Setelah mencari tanpa henti, akhirnya Ken berhasil menemukan Mutiara. Awalnya, wanita itu menolak saat Ken mau bertanggung jawab. Namun pada akhirnya, Ken berhasil meyakinkan wanita itu. Mereka pun menikah. Tapi sayang, nyawa Mutiara tak tertolong setelah melahirkan anak mereka. Kehilangan, jelas. Menyesal, sudah pasti. Namun melihat wajah istrinya yang tersenyum di saat terakhirnya, Ken bertekat akan menebus semua kesalahannya dengan membesarkan putri mereka dengan baik.
"Istirahatlah, Sayang. Jangan khawatirkan aku dan putri kita. Besok, aku akan datang lagi"
The End
Cerita Langit Kristal sudah tamat ya.
Terima kasih sudah setia menanti dan membaca cerita ini. Nanti akan ada ekstra part ya. Bagi yang penasaran seperti apa cerita Yazna, nanti ada di ekstra part. Tinggal dua bab lagi sampai cerita ini benar - benar tamat.
Terima kasih banyak atas dukungan, like dan komennya. Tanpa kalian, aku bukanlah siapa - siapa. Cinta kalian banyak - banyak.
Salam Sayang
__ADS_1
AfkaRista