
"Dia cantik sekali. Kalau besar, dia akan jadi istriku!"
"HAH!!" semua orang melongo dibuatnya. Bagaimana tidak, bocah tampan itu masih sangat kecil. Masih piyek kalau kata orang jawa.
"Heh, krucil! Kamu itu anak siapa? Bagaimana bisa kamu nyasar kemari dan memuji putriku yang bahkan aku sendiri belum memujinya! Dasar calon playboy! Masih bau ingus sudah jadi tukang gombal!" cibir Langit
"Lang. Jangan begitu sama anak kecil. Dia mungkin hanya memuji saja. Lagipula, putrimu memang cantik kok, seperti Mamanya" sahut Mama Maura
"Bahkan baru lahir saja, kamu sudah punya saingan, Lang" goda Opa David
"Nak, kamu kenapa bisa kemari? Kamu tersesat?" pertanyaan Papa Gama tidak dijawab oleh bocah itu.
"Dia mendadak bisu. Padahal tadi memuji putriku!" cibir Langit
Lihatlah, betapa menyebalkannya ekspresi bocah kecil itu.
"Sudah. Kenapa jadi kalian yang kekanak - kanakan" seru Mama Dian
"Benar yang Mama katakan", Kristal menimpali, "Sayang, siapa namamu?"
"Gio!"
Langit dan Papa Gama berdecak, giliran wanita saja, si bocil menjawab.
"Gio kenapa bisa ada disini? Apa Gio tersesat?" tanya Kristal lagi
"Gio nunggu adik lahir sama Papa, Opa dan Oma"
Kristal tersenyum, "Oh, rupanya Gio mau jadi Abang? Lalu kenapa Gio bisa ada disini? Kemana orang tua Gio?"
"Papa ada diluar. Kayak setrikaan"
Semua orang tersenyum melihat jawaban Gio. Tapi tidak dengan Langit,
"Ya sudah, ayo Om bantu kamu cari keluargamu" seru Langit
Gio kembali diam, tentu saja hal itu membuat Langit mendengus kesal. Gemas dengan tingkah si bocil, Langit segera membawa bocah itu keluar. Jika tidak bertemu dengan orang tua Gio, Langit akan membawanya ke pihak security.
"Gio!!"
Langit yang menggandengan tangan Gio berbalik, ia menatap pria seumurannya yang anehnya, wajah itu terlihat tak asing baginya.
"Langit kan?" sapanya lebih dulu
Langit tak langsung menjawab, ia mengamati ptia didepannya dengan seksama. Hingga ia mulai mengingat siapa pria didepannya ini
"Evan?!"
__ADS_1
(Kalau yang belum tahu siapa Evan, bisa membaca ceritaku berjudul : Berlian Yang Tersisih ya)
Langit menjabat tangan Evan dengan gaya anak muda. "Apa kabar? Kamu terlihat jauh lebih keren sekarang" ucap Evan
Langit tersenyum, "Seperti yang kamu lihat, aku memang lebih keren daripada dulu! Dan yang pasti, saat ini aku merasa sangat bahagia. Tidak sepertimu yang mengenaskan!" cibir Langit
Evan tersenyum sinis, "Siapa bilang aku tidak bahagia? Aku bahagia! Bahkan sangat bahagia!"
"Cih. Bagaimana bisa kamu bahagia? Kamu saja ditinggal Metha menikahi pria lain!"
"Tidak dapat perawannya, aku dapat jandanya!"
Langit menatap teman satu gengnya waktu SMP itu. Dia dan Evan sangatlah dekat, dulu. Namun mereka berpisah saat kuliah. Bahkan lost contact hingga hari ini mereka kembali di pertemukan. "Jadi kamu menikah dengan Metha? Apa buktinya?" tanya Langit sedikit ragu
Evan menatap Gio yang terlihat acuh dengan dua orang dewasa itu tadi. "Itu buktinya", tunjuk Evan pada Gio, "Dan yang satu lagi baru saja launching dua jam yang lalu" ucapnya bangga
"Pantas saja bocah tengil ini menyebalkan. Ternyata turunan darimu!" cibir Langit
"Cih!", Evan berdecih, "Ah ya. Bagaimana bisa Gio bisa ada denganmu? Aku mencarinya kemana - mana tadi"
Langit menatap Evan sinis, "Dia datang ke kamar istriku dan dengan tidak tahu malunya, dia memuji putrinya. Bahkan putramu yang tengil itu mengatakan jika kelak, putriku akan menjadi istrinya!"
1
2
3
"Dengarkan aku, Van! Aku ... Tidak mau menjadi besanmu! Aku tahu betul bagaimana kelakuanmu! Jadi jangan harap aku mau menerima putramu!" lagi - lagi Langit mencibir
"Kita lihat saja nanti!"
Dua manusia dewasa itu menatap si bocil yang baru saja menjawab perkaan Langit.
"Benar - benar turunanmu!"
"Lang, sudahlah. Apa salahnya jika kita berbesan. Kau tidak lihat, putraku tampan. Ah ... Nanti aku akan menjenguk calon menantuku. Aku ingin melihat betapa cantiknya putrimu. Jangan lupa menjenguk putriku juga"
Langit akan menjawab, namun Evan lebih dulu pergi bersama Gio setelah memberikan Langit kartu namanya. Tak mau ambil pusing, Langit kembali ke kamar istrinya. Ia masih belum puas menatap wajah putra dan putrinya.
Ceklek
"Mereka sudah tidur?"
"Baru saja tidur lagi"
"Gio sudah bertemu dengan orang tuanya, Lang?" tanya Mama Maura
__ADS_1
Langit berdehem, "Mama tahu? Bocah tengil itu ternyata turunan Papanya"
"Maksudnya bagaimana, Mas? Kamu mengenal Papanya Gio?" tanya Kristal
"Dia anaknya Evan. Temanku waktu SMP!"
"Evan?"
"Iya Ma. Evan tengil itu"
Mama Maura tersenyum, "Akhirnya kalian bertemu lagi. Nanti Mama akan sempatnya menjenguk istrinya Evan"
"Kamu sudah menyiapkan nama untuk kedua anakmu, Lang?" tanya Papa Gama
"Tentu saja sudah, Pa" Langit menatap kedua bayinya yang tertidur begitu nyenyak
"Adelio Prince Pradipta dan Adelia Queenza Pradipta"
"Nama yang bagus. Jadi, panggilannya siapa?"
"Lio dan Lia"
"Semoga mereka jadi anak yang sholeh dan sholeha"
"Amin"
Kebahagiaan keluarga kecil Langit dan Kristal semakin terasa lengkap dengan kehadiran Lio dan Lia.
Pukul sembilan malam, Papa Gama, Mama Dian, Opa David dan Oma Clara diminta pulang oleh Langit. Awalnya Mama Dian sedikit keberatan, namun karena Mama Maura ikut menginap, akhirnya keluarga Kristal bersedia pulang.
"Kamu tidurlah dulu, Kris. Mumpung baby twins masih tidur"
"Iya Ma"
"Mama juga istirahatlah dulu" ucap Langit
Mama Maura mengangguk lalu berjalan ke arah sofa. Langit duduk disamping istrinya, menatapi wajah Kristal yang terlihat semakin cantik setelah menjadi ibu. Langit berganti menatap kedua buah hatinya. Wajah damai malaikat - malaikat kecilnya itu membuat perasaannya menghangat.
Lio menggeliat, wajahnya memerah karena pergerakan tubuhnya itu. Sepertinya, putranya itu akan bangun. Langit mengecek popok Lio, dan benar, putranya itu pup. Tanpa membangun Mama dan Istrinya, serta dengan kemampuan seadanya dan lebih menggunaan insting, Langit mulai mengganti popok sang putra.
"Ternyata kulit bayi sangat lembut. Rasanya aku belum berani memegangnya terlalu lama" ucap Langit tertawa
Belum selesai mengganti popok Lio, Lia menangis. Langit yang belum berpengalaman berusaha menenangkan Lio dan Lia bersamaan. Bukannya diam dan tenang, keduanya justru sama - sama menangis,
Oek Oek
Oek Oek
__ADS_1
"S-sayang jangan nangis semua dong. Kasihan Mama kalian baru tidur"
Bukannya diam, tangis keduanya semakin kencang, "Astaga bagaimana ini?" ucap Langit frustasi