
"Wanita sialan! Beraninya kamu tidur dengan suamiku!" Yazna menjambak rambut wanita itu
"Hentikan, Yaz!!"
Yazna tersungkur saat Ken mendorongnya, Ayah Saka yang melihat hal itu langsung menolong putrinya. "Beginikah kamu memperlakukan istrimu?"
Ken menatap mertuanya sekilas, "Apa dia masih pantas diperlakukan baik setelah semua yang terjadi?" tanyanya sambil membantu wanita yang tidur dengannya tadi merapikan rambutnya
"Setidaknya perlakukan dia dengan baik selama Yazna masih menjadi istrimu"
Ucapan Ayah Saka membuat Ken tertawa, "Saya akui, Anda memang Ayah yang baik. Saking baiknya Anda ikut - ikutan jadi manusia yang tidak tahu malu!"
"Jaga bicaramu, Ken! Bagaimanapun, Ayah masih mertuamu!" ucap Yazna tak terima
"Sebaiknya kalian pergi dari sini! Kedatangan kalian hanya mengganggu kesenanganku saja!"
"Aku tidak akan pergi! Rumah ini juga rumahku!"
"Hahahaha. Kamu memang tidak tahu malu, Yaz! Apa kamu yang membeli rumah ini?"
Wajah Yazna berubah merah, begitupun dengan wajah Ayah Saka. "Sudah cukup kamu menghina kami, Ken! Ayo Yaz, kita pergi dari sini!"
"Aku tidak mau pergi, Yah!" kekeh Yazna
"Baiklah. Sepertinya kamu memang ingin melihat kami bercinta sekali lagi"
Plak
Yazna menampar suaminya, "Kamu lebih memilih wanita ****** itu dibanding aku? Bagus, Ken! Akhirnya kamu menunjukkan sifat aslimu"
Ken mengusap pipinya yang baru saja ditampar oleh Yazna, "Kamu ingin tahu kenapa aku jadi seperti ini? Semua karena sikap licikmu Yaz!" Ken menatap Yazna tajam, "Kamu sudah membuat hidupku hancur! Kamu membuatku kehilangan banyak hal! Jangan bersikap seperti orang yang tersakiti! Kamulah penyebab kekacauan ini!"
"Itu karena aku mencintaimu, Ken! Kamu tahu itu!"
"Tapi kamu tahu betul, siapa yang sejak dulu aku cintai!" Ken menatap Ayah Saka yang sejak tadi terdiam, "Bawa putri Anda pergi! Aku sudah muak menghadapinya! Dan pastikan kalian tidak akan muncul lagi di kota ini setelah perceraian!"
Ayah Saka tentu sakit hati dan tidak terima dengan perkataan Ken, "Jangan khawatir! Aku pastikan kita tidak akan pernah bertemu lagi! Aku juga tidak sudi bertemu lagi dengan pria arogan dan tidak bertanggung jawab sepertimu!"
"Ayah!!"
Ken tertawa, "Bagus! Dengan begitu, hidupku akan jauh lebih damai! Sekarang silahkan pergi dari sini!"
"Ayo pergi, Yaz!"
__ADS_1
"Aku tidak mau, Yah!"
Ayah Saka terpaksa membawa Yazna dengan paksa. Meski memberontak, pria itu masih bisa membawa putrinya keluar dari rumah itu. Ayah Saka memasukkan Yazna kedalam mobil lalu segera pergi dari sana.
Ken mengusap pelipisnya setelah kepergian Yazna dan Ayahnya,
"Sebaiknya aku pulang saja" ucap wanita yang menemaninya tadi
Ken mengangguk, "Kabari aku jika Mutiara datang", Wanita itu mengangguk, lalu pergi.
"Kemana aku harus mencarimu, Mutiara. Kenapa kamu menghilang begitu saja?"
🌻🌻🌻
"Seharusnya Ayah tidak pergi dari sana! Kita berhak tinggal disana!" ucap Yazna kesal
"Kamu masih mau bertahan meski Ken menghinamu habis - habisan?"
"Setidaknya aku masih bisa bersama Ken!"
Ayah Saka menghela nafas berat, "Jika orang lain tidak bisa menyayangimu, setidaknya sayangi dirimu sendiri, Yaz. Jangan biarkan orang lain terus - terusan menginjak - injak harga dirimu. Setelah ini, Ayah harap kamu bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Bertobatlah, Nak. Kita jalani hidup baru dengan damai"
Yazna memutar bola matanya malas, "Apa gunanya hidup damai jika tidak bahagia?"
Mengarungi puluhan meter tanpa tujuan, Ayah Saka bingung harus pergi kemana.
"Ayah tidak punya tujuan kemana akan pergi kan?"
Ayah Saka menghela nafas, "Kita akan ke penginapan untuk malam ini"
"Berapa banyak sisa uang yang Ayah miliki? Kita tidak sekaya itu untuk membeli rumah baru yang nyaman kan?"
Ayah Saka kembali bungkam. Setelah menemukan penginapan, dia memarkirkan mobilnya. "Ayo turun"
Yazna menggerutu kesal, "Lihatlah, bahkan Ayah memilih penginapan murah untuk kita"
"Yang penting kita bisa tidur nyaman malam ini"
Ayah Saka turun lebih dulu. Kemudian masuk untuk memesan kamar. Sementara Yazna memilih untuk menunggu di dalam mobil.
"Maaf, kami tidak bisa menerima kalian disini"
"Kenapa?" tanya Ayah Saka keheranan, "Apa penginapannya penuh?"
__ADS_1
"Iya"
Ayah Saka keluar dengan langkah lesu, lalu kembali masuk ke dalam mobil.
"Tidak ada kamar kosong?" tebak Yazna
Ayah Saka mengangguk kemudian kembali melajukan mobilnya.
Sudah beberapa penginapan dan hotel, tapi sayangnya, semua tidak mau menerima mereka. Ayah Saka mulai merasa ada yang janggal. Apa mungkin, ini di sengaja? Tapi siapa pelakunya?
"Sebaiknya kita kembali ke rumah, Yah. Jangan pikirkan orang - orang. Ayah membeli rumah itu dengan uang Ayah. Ada hak apa mereka mengusir kita dari rumah kita sendiri?"
Merasa lelah dan butuh sekali istirahat, Ayah Saka pun melajukan mobilnya kembali ke rumah. Lagipula, yang di katakan Yazna ada benarnya. Rumah itu adalah rumahnya, kenapa dia harus pergi?
Perjalanan ditempuh tidak terlalu lama. Malam sudah semakin larut, jalanan tidak sepadat sore dan siang hari. Namun, bukan seperti yang mereka pikirkan, tepat ketika mobil berada di depan rumah. Kondisi rumah mereka sungguh memprihatinkan. Pagar rumah di tutup menggunakan kayu. Corat - coret dan tulisan terpampang nyata.
"Rumah Pembunuh!"
"Rumah wanita gila!"
Dan masih banyak lagi tulisan yang ada di depan gerbang.
"Kurang ajar sekali mereka. Kita tidak boleh diam saja, Yah! Kita harus lapor polisi!"
Ayah Saka mulai merasa pening, "Kamu mau menyerahkan diri?"
"Kenapa aku harus menyerahkan diri? Memangnya aku melakukan apa?"
Lelah yang mendera fisik dan pikirannya, membuat Ayah Saka frustasi. Namun beberapa detik kemudian, dia mengingat sesuatu. Pria paruh baya itu menatap jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Memang tidak pantas bertamu malam - malam begini, tapi ia tak punya pilihan lain.
"Kita akan pergi kemana lagi?" tanya Yazna
Namun Ayah Saka memilih untuk bergeming dan kembali melajukan mobilnya.
Mobil yang dikendarai Ayah Saka tiba di sebuah perumahan elit. Awalnya, dia tak di izinkan masuk oleh satpam, namun karena memaksa satpampun menelpon tuan rumah terlebih dahulu. Berungtung ia diizinkan masuk.
"Kita mau kerumah siapa?"
Ayah Saka kembali bungkam, dan hal itu membuat Yazna kesal. Tak lama, pintu gerbang rumah yang mereka tuju terbuka, tanpa menunda, Ayah Saka segera masuk kedalam. Rupanya, tuan rumah sudah menunggu di depan teras
"Apa yang Ayah lakukan? Kenapa kita kemari?" tanya Yazna yang sudah mulai panik saat ia tahu rumah ini adalah rumah orang tua Kristal
Baru saja turun dari mobil, "Lihatlah, siapa yang datang malam - malam begini? Wah ... Dia membawa serta pembunuh cucuku!"
__ADS_1
Deg