Langit Kristal

Langit Kristal
Bab 52


__ADS_3

Hingga dua hari menginap, tidak terjadi apa - apa pada Yazna. Wanita justru asyik menikmati kedamaiannya di dalam kamar hotel.


"Betapa nikmatnya menikmati kedamaian hidup ini", seru Yazna yang hanya berguling - guling di atas kasur. "Ayah kemana ya? Dia pergi sejak kemarin tapi sampai sekarang belum kembali", gumam Yazna sendiri, "Tapi sudahlah, bodo amat Ayah dimana. Lebih baik dia tidak berada disini. Kalau dia ada disini, dia akan kembali seperti ustad yang tak henti memberi ceramah"


Jam sudah menunjukkan pukul tiga. Karena malas pergi kemanapun, kegiatan Yazna hanya rebahan. Tak membutuhkan waktu lama, matanya mulai tertutup dan dia mulai masuk ke dalam alam mimpi.


"*Kenapa Mama bunuh aku?"


"Kenapa Tante bunuh aku?"


Suara jeritan dan tangisan dua bayi perempuan itu terdengar mengerikan. Dua bayi itu merangkak dalam kondisi penuh darah. Bahkan wajah keduanya tidak berbentuk sempurna.


"Mama"


"Tante"


"Pergi! Jangan mendekat! Pergi dari sini!" teriak Yazna saat dua merangkak mendekatinya


"Kami tidak bersalah. Kenapa Mama membunuh kami?"


"Tidak! Aku tidak membunuh siapapun! Pergi! Pergi dari sini!"


"Pergi! Pergi*!!"


Hah ... Hah .... Hah ...


Nafas Yazna tersengal, mimpi tadi terlihat begitu nyata. Keringat dingin membasahi wajahnya.


"Kenapa aku mimpi itu lagi?!"

__ADS_1


Suasana mulai gelap, Yazna beranjak untuk menghidupkan lampu. Setelah terang, wanita itu menyambar air yang ada diatas nakas lalu meminumnya.


Tok Tok Tok


Belum usai dia jantungan, kini Yazna dibuat was - was dengan orang yang mengetuk pintu kamar hotelnya. Berjalan perlahan, Yazna membuka pintu pelan


"Ada kiriman paket untuk Nona Yazna"


"Dari siapa? Saya tidak memesan paket apapun" jawab Yazna


"Tidak ada nama pengirimnya. Kalau begitu, saya permisi" ucap pegawai hotel


Yazna menutup pintu kemudian duduk di tepi ranjang. Benar saja, paketnya hanya ada nama penerima.


"Bagaimana kalau ini bentuk teror?" tanyanya sendiri


Ragu dan takut, hal itulah yang membuat Yazna tak kunjung membuka paket tersebut. Namun, rasa penasaran membuatnya berakhir membuka paket tersebut. Sekilas tidak ada yang aneh dengan paket tersebut. Bahkan paket itu terasa sangat ringan.


Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Ibumu adalah wanita penghancur rumah tangga orang lain. Dan kamu juga penghancur hubungan orang lain pula. Bukankah kalian sama? Sama - sama wanita tak berhati dan ... Murahan!


"Apa - apaan ini?!! Siapa yang mengirim ini padaku!!" Yazna meremas surat tersebut


Belum usai rasa kesal dan jengkelnya, pintu lagi - lagi diketuk. Yazna berdecak, dia sungguh merasa dongkol sekarang. Wnaita itu kembali turun dari kasur kemudian berjalan tertatih menuju pintu


Begitu pintu dibuka, Yazna melihat sosok pria paruh baya sepantaran Ayahnya berdiri di depan pintu


"Sepertinya Anda salah kamar!!"


"Bagaimana mungkin aku salah kamar? Kamu persis dengan yang ada di foto!"

__ADS_1


"Foto? Apa maksudnya?" tanya Yazna yang tak paham


"Saya sudah membayar mahal untuk malam ini, jadi jangan berpura - pura tidak tahu!"


Pria itu menerobos masuk ke dalam kamar. Yazna berusaha mencegahnya, tapi apalah daya, kekuatannya tidak sebanding dengan pria itu.


"Kamu salah orang! Jadi segeralah pergi dari sini!" usir Yazna


"Jangan sombong, Nona. Kamu seharusnya berkaca, untuk seorang wanita panggilan sepertimu, kamu sama sekali tidak menarik!"


Deg


Yazna mulai sedikit takut, namun sebisa mungkin ia tak boleh menampakkan hal itu.


"Dengarkan saya, Tuan. Anda salah orang!" tegasnya sekali lagi


"Fotomu bahkan sudah menyebar di kalangan pengusaha kelas atas. Kamu masih mau menyangkalnya? Suamimu sendiri yang menawarkanmu pada kami!"


Deg


"I-itu tidak mungkin!"


"Cepatlah sedikit, karena waktuku hanya sebentar! Setelah giliranku, akan ada pria lain yang akan menghabiskan malam denganmu!"


"Bedebah!! Sudah aku katakan untuk menurut. Tapi sepertinya kamu menyukai cara paksa!"


🌻🌻🌻


Ken berjalan gontai menuju ke apartemennya. Bagaimana tidak, pekerjaannya sebagai menajer yang baru begitu banyak. Mutiara juga hilang bak ditelan bumi. Ditambah lagi, moodnya mendadak hilang saat mampir ke restoran tadi, Ken justru melihat pemandangan romantis Kristal dan Langit. Sebagai pria yang mencintai Kristal, tentu hal itu membuatnya cemburu.

__ADS_1


"Aku bahkan masih mencintai Kristal, meski dia sudah melupakan aku" lirih Ken


__ADS_2