Langit Kristal

Langit Kristal
Bab 59


__ADS_3

"Resmi bercerai"


Tok Tok Tok


Ketukan palu menandakan bahwa perceraian Ken dan Yazna telah sah. Ken terlihat lega, berbeda dengan Yazna yang tampak mengepalkan tangan.


Meski hubungan kita telah berakhir, tidak semudah itu kamu bisa membuangku, Ken. Jika aku tidak bisa memilikimu, tidak akan ada wanita manapun yang bisa memilikimu


Ken menatap Yazna dan Ayah Saka, pria muda itu menghampiri mantan istri juga mantan mertuanya.


"Sebelumnya, terima kasih karena Ayah sudah mau bekerja sama. Setelah ini, aku berharap kita bisa menemukan kebahagiaan masing - masing"


Dua Bulan Yang Lalu


Setelah Kristal mengatakan keberadaan Yazna pada Ken, pria itu segera membawa istrinya pulang. Awalnya, Yazna merasa senang, ia berfikir jika Ken akan kembali padanya. Tapi rupanya, Ken malah mendatangkan Ayahnya. Selain itu, Ken menjaga ketat rumahnya agar ia tak bisa kabur. Alhasil, dua bulan setelahnya, tepatnya hari ini keduanya telah resmi bercerai.


"Aku memberikan rumah dan uang seratus juta sebagai kompensasi atas perceraian kita. Setelah ini, aku harap kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi, Yaz. Sehingga, jika kita bertemu lagi suatu saat nanti, kita sudah dalam versi terbaik"


Yazna menatap Ken dengan tatapan kosongnya.


"Jadikan ini pelajaran agar baik kamu ataupun Yazna tidak mengulang kesalahan yang sama di kemudian hari", ucap Ayah Saka


Ken tersenyum, "Tentu Yah. Terima kasih atas semuanya" sekali lagi Ken menatap mantan istrinya, "Kalau begitu, sampai berjumpa lagi"


Ken melangkah menjauh, Yazna menatap punggung mantan suaminya hingga benar - benar tak terlihat. Setelah mobil Ken pergi, barulah Yazna menumpahkan air matanya. Walau bagaimanapun, perceraian tetaplah menyakitkan apapun alasannya. Ayah Saka segera memeluk putrinya, mengusap punggung Yazna agar putrinya itu merasa lebih tenang.


"Setelah ini, semua akan baik - baik saja"


"*Tidak akan Yah, aku pastikan akan membalas semuanya!"


🌻🌻🌻*


Ken melajukan mobilnya menuju ke rumah Mama Dian. Hari ini, ia akan langsung terbang ke Australia. Menurut informasi yang dia dapatkan, ada kemungkinan Mutiara berada di negara itu. Selain berpamitan, Ken juga ingin meminta dengan benar. Seperti janjinya dalam hati, ia akan memperbaiki masalah satu persatu. Karena orang tuanya sudah tak ada di Ibukota, maka Ken akan berpamitan pada Mama Dian.


Tidak sampai satu jam lamanya, mobil Ken memasuki halaman rumah Mama Dian. Kenetulan, semua orang sedang berada di depan teras. Bahkan ada Kristal dan Langit juga.


"Selamat siang, semuanya" sapa Ken ramah


Mama Dian menyambut hangat anak sahabatnya begitupun Papa Gama. Kristal juga memberikan senyum pada teman masa kecilnya itu. Hanya wajah Langit yang terlihat sedikit tidak suka akan kehadiran mantan kekasih istrinya itu.


"Ken, kamu datang, Nak?"


Ken tersenyum, ia menatap Kristal sejenak. Lebih tepatnya menatap perut bumil yang terlihat besar itu.

__ADS_1


"Aku kemari untuk berpamitan"


"Ayo masuk dulu, kita bicara didalam" ajak Papa Gama


Mama Dian dan Papa Gama masuk lebih dulu,


"Sudah berapa bulan usia kandunganmu, Kris?" tanya Ken


"Empat bulan"


"Empat bulan? Kenapa aku merasa perutmu lebih besar daripada wanita hamil pada umumnya?"


Jika Kristal tersenyum, beda dengan Langit yang menatap jengkel ke arah Ken. "Tentu saja. Istri tercintaku ini mengandung anak kembar!" sahut Langit ketus


Ken terkekeh, "Ya kan aku tidak tahu"


"Makanya aku beri tahu!" sahut Langit cepat


Ken sengaja merangkul lengan Kristal, yang langsung ditepis oleh Langit


"Jangan pernah menyentuh istriku!"


"Astaga, kamu sangat posesif rupanya. Tapi tenang saja, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada istrimu. Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri. Doakan aku berhasil ya"


"Baguslah kalau kamu sadar diri. Dan semoga saja usahamu berhasil"


Ken kembali tersenyum, "Jika aku berhasil menemukan Mutiara, aku akan menikahinya. Bagaimanapun, dia sedang hamil anakku"


Langit memutar bola matanya malas, "Tentu saja. Kamu memang harus bertanggung jawab! Jangan seperti kucing yang suka menebar benih sembarangan lalu pergi!"


"Mas!" tegur Kristal


"Apa? Aku berkata benar kan?" jawab Langit tak mau disalahkan


Kristal menatap Ken tak enak hati, tapi Ken malah tersenyum, "Apa yang di ucapkan Langit memang benar. Jangan marah padanya" kini Ken beralih merangkul lengan suami Kristal itu.


"Ish ... Jangan sembarangan memegang orang!"


Kristal hanya mampu menghela nafas dengan kelakuan suaminya. Sedangkan Ken malah tertawa


"Mutiara sedang hamil, Kristal juga sedang hamil. Jika anak kita berbeda jenis kelamin, bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka?"


"TIDAK SUDI!"

__ADS_1


"Kenapa kalian masih disini? cepat masuk, kebetulan makan siang sudah siap. Ayo kita makan bersama" ajak Mama Dian


Ketiganya segera masuk dan langsung menuju ke meja makan. Benar, berbagai jenis masakan sudah tersaji di atas meja. Meski merasa sedikit canggung, namun perlakuan terbuka Mama Dian dan keluarganya membuat Ken merasa di terima dengan sangat terbuka.


"Sudah lama aku tidak makan disini" seru Ken antusias


Langit berdecak, "Seperti orang yang tidak pernah makan saja" cibir Langit pelan, namun masih bisa didengar oleh Kristal. Bumil cantik itu menyenggol lengan suaminya yang hanya dibalas cengiran oleh di pelaku.


"Sudah, ayo duduk lalu makan"


Ken menatap satu persatu orang - orang. Ada rasa bersalah, sedih sekaligus bahagia. Tentu rasa penyesalan masih ada dihatinya hingga sekarang. Seandainya waktu bisa diulang, dia tidak akan pernah melukai orang - orang yang dia sayangi.


"Ayo, Ken. Makan yang banyak"


Ken mengangguk, dia menerima piring berisi nasi dan lauk kesukaannya. Rasa haru kembali menyelimuti hatinya saat Mama Dian masih mengingat makanan yang dia suka. Ken menatap wanita paruh baya itu dengan mata berkaca - kaca, dan Mama Dian menyadarinya.


"Semua akan lebih baik setelah ini. Jangan pernah menyerah mencari kebahagiaanmu. Mama yakin, cepat atau lambat, kebahagiaan itu akan datang"


"Tentu, Ma"


Mereka makan dengan suasana hangat, diselingi obrolan ringan. Ken memperhatikan Kristal dan Langit. Mereka terlihat perhatian satu sama lain. Langit begitu cekatan mengambilkan Kristal makan dan tak lupa membuatkan susu kehamilan juga. Sungguh suasana yang hangat.


Setidaknya kamu sudan menemukan pria yang sangat tepat untukmu, Kris. Meski penyesalan tidak bisa hilang, namun aku bersyukur karena kamu sudah bahagia sekarang


"Kamu mau langsung pergi, Ken?"


Ken menoleh pada Papa Gama, "Iya, Pa. Penerbanganku jam dua nanti"


"Semoga kamu segera menemukan Mutiara, Ken. Lalu kalian bisa hidup bahagia setelahnya"


"Semoga saja, Ma"


"Oh ya, Kris. Hari ini kalian jadi ke rumah sakit?" pertanyaan Mama Dian membuat Kristal menatap Mamanya


"Jadi, Ma. Makanya Mas Langit libur sekarang. Nanti sore, Mama Maura juga akan ikut"


"Mama juga mau ikut. Mama tidak sabar ingin melihat jenis kelamin cucu - cucu Mama" ucap Mama Dian antusias


"Kalau begitu, Papa juga mau ikut" sahut Papa Gama tak mau kalah


Ken yang sejak tadi hanya jadi pendengar kini bersuara, "Kalau aku juga ikut, bagaimana?"


"TIDAK BOLEH!"

__ADS_1


__ADS_2