Langit Kristal

Langit Kristal
Bab 58


__ADS_3

Huek Huek


Kristal memijat leher Langit. Bumil cantik itu selalu setia menemani sang suami yang bolak - balik ke kamar mandi sejak pukul tiga dini hari tadi. Tanpa jijik, Kristal menyeka mulut suaminya. Wajah lemas dan pucat sang suami tentu membuatnya khawatir. Dirinya yang hamil malah tidak merasakan apa - apa dan merasa nyaman.


"Mau ke dokter, Mas?"


Langit menggeleng pelan, "Aku nggak papa, Sayang", kalimat itu terus saja Langit gumamkan kala mendengar nada cemas istrinya


Kristal menghela nafas, "Aku buatkan teh hangat dulu" ucapnya setelah membaringkan sang suami di atas ranjang


Kristal segera turun ke lantai bawah menuju dapur.


"Langit muntah - muntah lagi?" tanya Mama Maura


"Iya, Ma. Mas Langit kelihatan lemes dan pucat banget. Aku nggak tega melihatnya"


Mama Maura tersenyum, "Itu hal biasa. Bukankah bagus kalau Langit yang mengalami gejalanya. Jadi kamu bisa menikmati masa kehamilan dengan happy. Anak kalian itu adil, Kris. Jadi, biarkan Papanya menikmati masa - masa kehamilan ini"


Kristal menyeduh teh dalam cangkir, "Mama buat apa?" tanya Kristal yang melihat mertuanya memotong cabai


"Suamimu ingin makan asinan mangga. Dan mangganya yang dapat minta di tetangga sebelah. Untuk dikasih, kalau nggak, cucu Mama bisa ileran"


Kristal melongo, kenapa dirinya tidak tahu hal itu? "Kok aku nggak tahu Mas Langit ingin makan asinan?"


"Suamimu itu mintanya ke Mama. Katanya biar aja Mama yang repot. Nggak boleh kamu"


"Tapi Ma-"


"Nggak apa - apa. Mama senang bisa turut andil dalam kehamilan kamu. Mama nggak akan pernah merasa repot jika menyangkut anak- anak dan calon cucu Mama"


Kristal memeluk mertuanya, Mama Maura memang setulus itu. Selain beruntung memiliki suami yang sempurna, Kristal juga beruntung karena memiliki mertua yang perhatian dan sayang padanya. "Terima kasih, Ma" ucapnya tulus


"Sama - sama, Sayang. Ini kamu bawa sekalian asinannya"


"Masih pagi, Ma. Apa nggak masalah makan asinan?"


"Tidak masalah, kok. Orang ngidam bisa makan apa aja dan kapan aja", Kristal mengangguk,


"Setelah ini, kita makan bersama ya. Mama sudah hampir selesai masak"


"Iya Ma"


Kristal segera membawa teh dan asinannya. Saat memasuki kamar, ia melihat suaminya meringkuk di dalam selimut. Kristal meletakkan nampannya di atas nakas. Ia sengaja tak membangunkan suaminya karena tahu jika Langit pasti kelelahan karena terus - menerus muntah. Bumil cantik itu memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai membersihkan diri dan berpakaian santai, Kristal keluar dari kamar mandi. Suaminya sudah tidak ada dikamar, ia melihat nampan, isinya sudah habis semua. Pasti Langit sudah memakannya.


Kristal menyibak gorden lalu membuka jendela. Udara pagi seketika penyapa indra penciumannya. Dari atas sana, Kristal bisa melihat jika suaminya itu sedang berada dibawah. Lebih tepatnya sedang berbicara dengan Mama Maura. Bukan berbicara, mereka kelihatannya seperti sedang berdebat. Usai membereskan tempat tidur, Kristal membawa nampan kosong tadi ke dapur.

__ADS_1


"Ayo - ayo masuk" suara Mama Maura terdengar


"Mama! Papa!", Kristal memekik saat melihat kedatangan Papa dan Mamanya. Mama Dian segera memeluk sang putri


"Maaf baru bisa kemari. Kemarin Papamu keseleo"


"Lalu bagaimana sekarang? Apa masih sakit?" tanya Kristal cukup kawatir


"Papa sudah baik - baik saja kok, Sayang"


"Silahkan duduk. Kebetulan kalian datang, ayo kita sarapan bersama" ajak Mama Maura


"Saya bawa kue cheese cake dan brownies kesukaan Kristal dan Langit"


Mata Langit tampak berbinar mendengar kata cheese cake. Kue buatan Mama Dian itu tidak ada duanya menurut Langit


"Aduh, kok repot - repot segaja, Jeng" ucap Mama Maura menerima kue dari besannya, "Ayo - ayo, silahkan duduk"


Mama Dian dan Papa Langit mengangguk, mereka sarapan bersama. Langit sejak tadi hanya diam. Ia menatap semua menu yang ada di meja makan. Entah kenapa, dia tidak berselera untuk makan.


"Bagaimana kerjaan kamu, Lang?"


"Semua lancar, Pa"


"Kamu sakit, Lang? Wajah kamu terlihat begitu pucat" kini giliran Mama Dian yang bertanya


"O-oh, benarkah?" Mama Dian menatap menantunya iba,


"Kasihan Mas Langit harus muntah - muntah setiap pagi" ucap Kristal


"Anak - anak kalian memang hebat" kekeh Papa Gama


Suasana begitu hangat, mereka sarapan sambil berbincang kecil sesekali tertawa.


"Mau makan sama apa, Mas?" tawar Kristal


Langit menggeleng pelan, "Mas mau makan cheese cake-nya Mama aja"


Kristal hendak berdiri, namun di cegah oleh Mama Maura, "Biar Mama saja, Sayang. Kamu makan aja"


Mama Dian menatap suaminya, ia lega karena menyerahkan Kristal pada orang - orang yang tepat. Papa Gama juga tak kalah bahagia melihat kehidupan putri semata wayangnya.


"Ayo - ayo makan lagi" seru Mama Maura sambil meletakkan sepiring cheese cake di hadapan Langit.


"Masakan Jeng Maura enak" puji Mama Dian


"Ah, biasa saja. Ayo silahkan. Dihabiskan"

__ADS_1


Mama Dian menatap Langit yang sesekali tersenyum saat memakan kue buatannya. Sungguh sangat menggemaskan, calon cucu - cucunya pasti akan jauh lebih menggemaskan lagi. Wanita paruh baya itu berdoa untuk kebahagiaan anak dan menantunya. Semoga setelah ini, tidak ada badai lagi yang menghantam mereka.


🌻🌻🌻


Selesai sarapan, mereka semua pindah ke ruang tengah. Mama Maura memotong kecil - kecil kue brownies yang besannya bawa. Tak lupa membuat minuman dingin sebagai pelengkapnya.


Papa Gama mengobrol dengan Langit. Kondisi suami Kristal itu terlihat lebih baik sekarang. Biasanya, mual muntah yang Langit alami akan mereda beranjak siang.


"Mama Rani sudah pindah ke kampung, kemarin" Mama Dian memberi tahu


"Benarkah? Kenapa Mama tidak memberi tahuku? Setidaknya aku bisa mengucapkan perpisahan pada Mama Rani"


"Suamimu sedang sakit. Mama tidak mungkin memintamu datang"


Ucapan Mama Dian membuat Langit tersenyum, mertuanya itu memang perhatian dan menyayanginya sama seperti ia menyayangi Kristal.


"Ken juga sudah mengajukan pengunduran diri ke kantor"


Kristal menatap Langit, seolah bertanya. Langit sendiri tidak mengetahui hal ini.


"Setelah perceraiannya dengan Yazna selesai. Dia akan keluar kota mencari wanita itu"


Ah, ya. Masalah Yazna, Kristal sudah menyerahkan wanita itu pada Ken sepenuhnya. Biarkan Ken saja yang mengurus Yazna. Tapi jika wanita itu kembali membuat ulah, maka kali ini Kristal tidak akan tinggal diam.


"Semoga setelah ini semua masalah berakhir menjadi kebahagiaan" seru Mama Maura


"Benar. Batu sandungan dan kerikil tentu pasti ada. Tapi semoga semua bisa dilewati dengan baik. Hidup itu bukan hanya tentang tawa dan bahagia juga sedih dan luka" ucap Papa Gama


"Aku setuju dengan apa yang Papa katakan" jawab Langit


Semua orang berharap demikian.


Papa Gama menatap Langit ngeri, tatapan menantunya yang dibuat semanis mungkin justru terlihat menggelikan dimatanya.


"Dia pasti menginginkan sesuatu dari suamimu, Jeng" bisik Mama Maura pada Mama Dian


"Lang, kamu menginginkan sesuatu?" tanya Mama Dian


"Aku ...", dia menatap Papa Gama hingga membuat mertua laki - lakinya itu menghela nafas, "Kamu ingin apa?"


"Aku mau makan ikan bakar"


"Mama akan segera membuatkannya" sahut Mama Maura


"Tapi Papa Gama harus memancing sendiri ikannya"


Ngek

__ADS_1


__ADS_2